Tahun 1942
Ardan menggenggam tangan Fatma erat-erat di balik batang pohon akasia yang besar. Suara deru mesin pesawat tempur terdengar di kejauhan, merobek langit sore yang merah.
"Aku harus pergi, Fat. Tugas memanggil," bisik Ardan. Ia menyerahkan sebuah koin perak kuno dengan lubang kecil di tengahnya kepada Fatma. "Simpan ini. Jika kita terpisah, aku akan mencarimu. Di kehidupan ini, atau di kehidupan mana pun setelahnya."
Fatma menangis, namun ia mengangguk. Itu adalah kali terakhir ia melihat Ardan. Sejarah mencatat nama Ardan sebagai salah satu pahlawan yang gugur di medan tempur, sementara Fatma menghabiskan sisa hidupnya menunggu di bawah pohon akasia yang sama hingga rambutnya memutih.
Tahun 2026
Fian adalah seorang mahasiswa jurusan sejarah yang selalu merasa "asing" di zamannya sendiri. Ia benci keramaian dan selalu merasa rindu pada tempat yang belum pernah ia kunjungi. Suatu hari, saat sedang melakukan riset untuk tugas akhirnya di sebuah kota kecil, ia berteduh dari hujan di bawah sebuah pohon akasia tua yang masih berdiri kokoh di tengah taman kota.
Seorang gadis berdiri di sana, juga sedang berteduh. Gadis itu mengenakan jaket denim dan membawa tas kanvas. Saat ia merogoh tasnya untuk mengambil ponsel, sesuatu terjatuh ke atas rumput.
Sebuah koin perak kuno dengan lubang di tengahnya.
Fian memungut koin itu. Saat jemarinya menyentuh logam dingin tersebut, sebuah kilatan memori yang bukan miliknya menghantam kepalanya: suara ledakan, aroma mesiu, dan rasa sedih yang luar biasa hebat.
"Ini milikmu?" tanya Fian dengan suara yang tiba-tiba bergetar.
Gadis itu menoleh. Saat mata mereka bertemu, dunia seolah berhenti berputar. Ada rasa pengenalan yang instan, seolah-olah mereka telah mengobrol selama ribuan tahun meski baru pertama kali bertatap muka.
"Terima kasih," kata gadis itu pelan. Matanya berkaca-kaca tanpa alasan yang jelas. "Aneh ya, aku merasa seperti sudah menunggu seseorang memberikan koin ini kembali padaku sejak lama sekali."
Fian tersenyum, sebuah senyum yang terasa sangat akrab di wajahnya. "Sepertinya, aku sudah berjanji untuk mengembalikannya."
Hujan sore itu masih deras, tapi di bawah pohon akasia tersebut, dua jiwa yang terpisah selama delapan puluh empat tahun akhirnya menemukan jalan pulang.