Raka selalu duduk di meja nomor 4, tepat di pojok kedai kopi "Senja". Bukan karena kopinya yang paling enak, tapi karena dari sana ia punya sudut pandang sempurna untuk menggambar sosok gadis yang selalu datang pukul 16:00.
โGadis itu, Alana, selalu memesan Earl Grey panas dan tenggelam dalam buku catatannya. Selama berbulan-bulan, Raka hanya berani mengabadikan Alana dalam lembar-lembar buku sketsanya. Garis rahangnya, cara matanya menyipit saat berpikir, hingga jemarinya yang sesekali memutar pulpen.
โ"Sketsanya bagus, tapi hidungku tidak semancung itu," suara lembut itu tiba-tiba memecah konsentrasi Raka.
โRaka tersentak. Alana sudah berdiri di samping mejanya, mengintip ke arah buku sketsa yang terbuka. Wajah Raka memerah seketika, ia merasa tertangkap basah melakukan kejahatan paling manis di dunia.
โ"Maaf... aku hanya..." Raka terbata-bata.
โAlana tersenyum, lalu duduk di kursi kosong di depan Raka tanpa diundang. "Kenapa tidak pernah selesai? Setiap kali aku mengintip dari jauh, kamu selalu berhenti di bagian mata."
โRaka terdiam sejenak, lalu keberaniannya muncul. Ia menatap mata Alana secara langsungโsesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. "Karena setiap kali aku menatap matamu, aku lupa bagaimana cara menggerakkan tangan. Warnanya terlalu sulit untuk dipindahkan ke kertas."
โSuasana kedai yang bising mendadak terasa sunyi bagi mereka berdua. Alana tertawa kecil, rona merah muncul di pipinya. Ia mengambil pulpen milik Raka, lalu menuliskan sesuatu di pojok halaman sketsa yang kosong.
โ0812-xxxx-xxxx (Untuk referensi warna mata yang lebih jelas).
โ"Besok jam empat, jangan cuma menggambar mataku," bisik Alana sambil beranjak pergi. "Ajaklah mataku bicara."
โRaka menatap deretan angka itu dengan jantung yang berdegup jauh lebih kencang daripada saat ia menghabiskan tiga gelas espresso. Hari itu, sketsanya tetap tak usai, tapi cerita barunya baru saja dimulai.