Aris selalu bangga dengan apartemen barunya di lantai 12. Pemandangan kota yang indah dan keheningan yang total adalah kemewahan bagi seorang penulis seperti dirinya. Namun, keheningan itu mulai terasa "berat" sejak seminggu yang lalu.
Tepat pukul 02:00 pagi, ada suara ketukan di pintu unitnya.
Tok. Tok. Tok.
Tiga kali. Konsisten. Pelan, tapi cukup keras untuk menembus kesunyian ruang tengah. Aris tidak pernah membukanya. Dia pikir itu mungkin tetangga yang mabuk atau anak iseng. Namun, malam ini berbeda. Aris sedang berdiri tepat di depan pintu saat ketukan itu kembali terdengar.
Tok. Tok. Tok.
Jantungnya berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, dia mengintip melalui lubang intip (peephole). Di luar sana, lorong apartemen yang remang-remang tampak kosong. Benar-benar sepi.
"Siapa di sana?" teriaknya dengan suara parau.
Tidak ada jawaban. Aris menarik napas lega, mengira itu hanya halusinasinya karena kurang tidur. Namun, saat dia hendak berbalik menuju kamar, suara itu terdengar lagi. Kali ini bukan dari pintu depan.
Tok. Tok. Tok.
Suaranya berasal dari pintu kamar mandinya yang tertutup rapat di dalam unit.
Darah Aris terasa membeku. Bagaimana mungkin? Tidak ada jendela di kamar mandi, dan dia yakin tadi hanya sendirian di dalam rumah. Dia mendekati pintu kayu itu, menempelkan telinganya di sana. Dari balik pintu, dia mendengar suara napas yang berat dan basah, seolah-olah seseorang baru saja keluar dari air.
Tiba-tiba, sebuah suara bisikan lirih muncul dari balik pintu kamar mandi:
"Terima kasih sudah membiarkanku masuk lewat lubang intip tadi."
Aris baru menyadari sesuatu yang mengerikan. Di apartemen modern seperti ini, lubang intip biasanya dilengkapi sensor kamera. Dan jika seseorang menempelkan mata dari luar, lensa di dalam akan menggelap sejenak—tanda bahwa sesuatu telah "menyeberang" melalui pantulan cahaya.
Perlahan, gagang pintu kamar mandi mulai berputar dari dalam.