Koridor sekolah masih sepi saat Alana berjalan menuju kelas. Matanya sedikit sembab karena tidur yang tidak benar-benar nyenyak. Bayangan Gavin yang menemukan sketsa tanduk setan itu terus mengganggu pikirannya. Alana mempercepat langkah dan masuk ke kelas.
Dia langsung duduk dan menyembunyikan wajah di lipatan tangan di atas meja. Tasnya masih tergantung di bahu. Dia berharap pagi ini bisa lewat tanpa gangguan. Setidaknya sampai bel pertama berbunyi.
"Pagi, Sang Seniman."
Alana tersentak dan hampir jatuh dari kursinya. Gavin berdiri di samping meja dengan tas tersampir di bahunya. Ada kilat jenaka di matanya yang langsung membuat Alana kesal. Dia buru-buru duduk tegak dan menatapnya tajam.
Alana menendang kaki meja Gavin dengan ujung sepatu. Bunyi keras memantul di kelas yang masih setengah kosong. "Jangan panggil gue begitu," desisnya. Gavin tetap santai.
Dia duduk di kursinya lalu mengeluarkan pulpen hitam dari saku seragam. Pulpen itu diletakkan di meja Alana tanpa penjelasan. Alana menatap benda itu dengan bingung. Dahinya sedikit berkerut.
"Pulpen lo ketinggalan di meja makan kemarin," kata Gavin.
Dia sudah membuka buku cetaknya lagi.
Alana baru sadar pulpen favoritnya memang hilang sejak semalam.
Dia segera mengambil pulpen itu dan memasukkannya ke dalam tas. Tidak ada ucapan terima kasih keluar dari mulutnya. Egonya masih terlalu tebal. Gavin juga tidak menunggu reaksi apa pun.
Bel masuk berbunyi keras. Guru matematika langsung mengumumkan kuis dadakan. Keluhan terdengar dari berbagai sudut kelas. Alana membuka lembar soal dengan cepat.
Angka-angka yang biasanya terasa mudah sekarang tampak berantakan. Dia mencoret kertas buram dengan tekanan keras. Beberapa kali pandangannya jatuh ke punggung Gavin yang duduk di depan. Cowok itu terlihat terlalu tenang.
"Kumpulkan sekarang."
Alana menyerahkan lembar jawabannya dengan langkah kaku. Perasaannya tidak enak, sesuatu yang jarang terjadi saat kuis matematika. Gavin mengumpulkan kertasnya tanpa ekspresi. Alana kembali ke kursi dan meremas ujung seragamnya.
Istirahat pertama tiba. Sebagian besar siswa langsung menuju kantin. Alana tetap di kelas dan membuka buku catatannya perlahan. Dia berhenti di halaman sketsa yang memalukan itu.
Tangannya mengambil penghapus. Dia berniat menghapus gambar itu dari halaman. Namun gerakannya terhenti saat melihat sesuatu yang berbeda. Ada tambahan coretan kecil di bagian bawah kertas.
Sebuah sayap kecil tergambar di samping tanduk setan. Garisnya rapi dan detail. Di bawahnya ada tulisan.
Sayapnya ketinggalan
Alana menatap tulisan itu lama.
Dia langsung menutup bukunya dengan suara keras. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
"Selera gambar lo lumayan," suara Gavin terdengar dari pintu kelas. "Tapi proporsinya masih aneh."
Alana buru-buru memasukkan buku itu ke laci meja. Wajahnya terasa panas sampai ke telinga. Dia berdiri dan berjalan menuju pintu. Dia tidak ingin melanjutkan percakapan itu.
"Lo pikir itu lucu?" tanya Alana saat melewati Gavin.
Gavin bersandar di kusen pintu dengan tangan terlipat.
"Gue cuma bantu melengkapi."
Alana tidak menjawab lagi. Dia berjalan cepat menuju perpustakaan. Lorong sejarah yang sepi menjadi tempat pelariannya. Dia berhenti di depan rak buku tinggi.
Punggungnya bersandar pada rak itu. Dia menatap lantai sebentar sambil menenangkan pikirannya. Gavin telah melihat sisi dirinya yang selama ini disembunyikan. Hal itu membuatnya tidak nyaman.
Sore hari latihan olimpiade kembali dimulai di ruang OSIS. Hujan turun lagi di luar jendela. Alana duduk di seberang Gavin dengan tumpukan soal fisika di depan mereka. Tidak ada yang berbicara.
Suara pulpen dan gemuruh guntur mengisi ruangan. Alana mencoba fokus pada soal. Namun aroma mint dari Gavin terus mengganggu konsentrasinya. Dia menekan ujung pulpennya ke meja.
Tiba-tiba Alana menggeser kotak susu coklat ke arah Gavin.
Gavin mendongak dan melihat kotak itu berhenti di depan laptopnya. Alana pura-pura sibuk membaca soal. "Buat lo," katanya singkat. "Biar otak lo nggak makin miring gara-gara gambar sayap."
Gavin terdiam sebentar lalu mengambil kotak susu itu. Dia menusukkan sedotan dan meminumnya. "Makasih, Sang Seniman." Alana menahan senyum yang hampir muncul.
Mereka kembali mengerjakan soal. Kali ini suasananya tidak seberat sebelumnya. Alana menyelesaikan satu soal lebih cepat dari yang dia kira. Dia mendorong kertasnya ke tengah meja.
Latihan berakhir saat penjaga sekolah mulai menutup koridor. Alana merapikan buku-bukunya ke dalam tas. Gavin masih duduk sambil menatap kotak susu yang sudah kosong. Lampu ruangan mulai redup.
"Besok latihan lagi?" tanya Alana dari dekat pintu.
Gavin mengangguk lalu berdiri. Dia mematikan lampu dengan satu gerakan. Ruangan langsung gelap. Suaranya terdengar dari belakang.
"Jangan lupa bawa buku gambar lo lagi."
Alana mendengus pelan lalu berjalan menuju parkiran motor. Hujan tinggal rintik kecil di aspal. Dia menyalakan mesin motornya.
Hari esok tiba-tiba terasa sedikit lebih menarik.