Bagiku, angka 29 bukan sekadar angka. Ia terasa seperti detak bom waktu yang siap meledak di tengah pesta pernikahan sepupu-sepupuku yang jauh lebih muda. Di Indonesia, atau setidaknya di lingkungan pergaulanku di Jawa Barat, menjadi wanita yang hampir menyentuh kepala tiga tanpa gandengan adalah sebuah "dosa sosial" yang tidak tertulis.
"Nunggu apa lagi, Neng? Keburu karatan," seloroh Mang Dadang di satu acara keluarga. Aku hanya tersenyum tipis, meski dalam hati ingin sekali menjawab, "Memangnya saya baut motor pakai karatan segala?"
Realitanya, mencari pasangan di usia ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami yang sedang terbakar. Aku merasa tidak laku di negeri sendiri. Bukan karena aku tidak berupaya, tapi entah kenapa, laki-laki yang mendekat selalu punya "keunikan" yang bikin elus dada.
Akhirnya, bermodalkan nekat dan sisa-sisa harapan, aku mengunduh aplikasi *Muslima*. Aku berpikir, kalau di tanah air sendiri tidak ada yang nyangkut, mungkin jodohku sedang tersesat di belahan bumi lain.
---
Perjalananku di aplikasi itu tidak semulus drama Korea. Sebelum menemukan "sang pangeran", aku harus melewati labirin manusia aneh yang membuat jempolku kapalan karena terlalu sering menekan tombol block.
Ada si Ahmad dari Timur Tengah yang baru chat dua menit sudah minta foto tanpa hijab. Block.
Ada si John dari Inggris yang mengaku mualaf tapi profilnya sedang memegang gelas bir. Block.
Lalu ada lagi pria lokal yang usianya jauh di bawahku, tapi bicaranya seperti sedang mewawancarai calon pembantu, bukan calon istri. "Bisa masak apa saja? Mau tinggal sama Ibu saya?" Block.
Aku sempat hampir menyerah. "Ya Allah, apa memang nasibku harus menjomblo seumur hidup?" keluhku malam itu, menatap langit-langit kamar. Aku lelah dengan perkenalan yang ujung-ujungnya hambar atau malah beracun.
Sampai akhirnya, sebuah notifikasi masuk. Namanya Omar Albanna.
---
Omar tidak memulai percakapan dengan "Hai cantik" atau "Kirim foto dong". Dia mengirimkan pesan panjang yang sangat sopan. Dia bercerita tentang pekerjaannya sebagai insinyur sipil di Dubai, tentang kucingnya yang nakal, dan tentang bagaimana dia menghargai pendidikan seorang wanita. Dia sebuah keajaiban dari seberang samudera.
Kami tidak terburu-buru. Hubungan kami adalah maraton, bukan sprint. Omar sangat menghargai privasiku. Kami jarang sekali video call karena dia tahu aku tipe yang pemalu jika belum sah. Dia cukup puas dengan saling memberi kabar via WhatsApp.
"Aku tidak butuh melihat wajahmu setiap jam, aku hanya butuh tahu bahwa hatimu masih untukku," katanya suatu kali, yang sukses membuatku senyum-senyum sendiri di depan layar HP sampai Ibu curiga.
Keajaiban sebenarnya terjadi saat aku iseng mengeluh tentang harga kebutuhan pokok yang naik. Omar tidak banyak bicara, tapi dua hari kemudian, dia mengirimkan transferan uang yang jumlahnya bikin aku melongo. Itu bukan hanya uang jajan, itu modal hidup!
"Simpan ini. Gunakan untuk kebutuhanmu atau sedekahkan. Aku ingin calon istriku tidak merasa kesulitan," tulisnya singkat. Aku menangis sesenggukan. Selama ini aku dianggap "jomblo tua yang menyedihkan", tapi pria ini memperlakukanku seperti ratu.
---
Singkat cerita, tepat sebelum ulang tahunku yang ke-30, keajaiban itu nyata. Omar datang ke Indonesia, menemui orang tuaku dengan jantan, dan tak butuh waktu lama bagi kami untuk mengikat janji suci. Ternyata, penantian panjangku bukan karena aku tidak laku, tapi karena Allah sedang memoles jodoh terbaik untukku di waktu yang paling tepat.
Kini, setahun setelah pernikahan kami, hidupku berubah 180 derajat.
Pagi ini, aku terbangun bukan karena alarm ponsel yang menyebalkan, melainkan karena sentuhan lembut di pipiku. Aku membuka mata dan melihat Omar—suamiku yang tampan dengan janggut rapi dan mata cokelat yang teduh—sedang menggendong putra kecil kami, Zayn.
Zayn punya mata persis ayahnya dan senyum yang meluluhkan hati siapapun yang melihatnya.
"Bangun, Sayang. Sarapan sudah siap di meja," bisik Omar sambil mencium keningku.
Aku merenggangkan tubuh, merasa sangat dicintai. Kadang aku ingin tertawa jika ingat betapa khawatirnya aku dulu karena dianggap "jomblo karatan". Ternyata, Tuhan hanya ingin aku melewati semua "manusia aneh" itu agar aku bisa menghargai pria sehebat Omar.
Sekarang, setiap kali aku mengunggah foto bertiga di media sosial—aku, Omar yang gagah, dan Zayn yang menggemaskan—kolom komentarku penuh dengan teman-teman lama yang dulu hobi menyindirku.
"Duh, suaminya ganteng banget sih!"
"Anaknya kayak boneka hidup!"
"Beruntung banget sih kamu, dapetnya yang mapan dan sayang banget gitu."
Aku hanya tersenyum dalam hati. Ya, aku memang beruntung. Bukan karena aku menikah dengan pria kaya atau tampan, tapi karena aku menemukan seseorang yang melihat nilaiku saat orang lain hanya melihat usiaku.
Dermaga itu memang jauh, perjalanannya memang melelahkan, tapi pemandangan di garis finish ini benar-benar sebanding dengan segalanya.
---