Aku selalu percaya pada hal-hal yang bisa dijelaskan secara logis. Sains, fakta, dan bukti nyata adalah teman terbaikku. Tapi sejak malam itu… semua keyakinanku hancur.
Aku pindah ke rumah baru seorang diri. Rumah tua itu diwariskan dari bibiku yang meninggal tiba-tiba. Letaknya di ujung desa, jauh dari keramaian. Bangunannya tinggi, dikelilingi pohon-pohon rimbun, dan terdapat kamar tua yang selalu terkunci—dengan cermin besar di dalamnya. Cermin itu tampak seperti tiruan sempurna diri sendiri, tapi ada sesuatu yang berbeda: bayangannya selalu terasa salah, seperti bergerak sedikit terlambat atau menatap lebih lama dariku.
Hari pertama di rumah, aku sibuk menata perabot. Cermin itu tidak aku pedulikan terlalu lama. Tapi malam pertama, suara ketukan terdengar dari kamar yang cermin itu berada. Suara pelan, ritmis, seperti seseorang mengetuk kayu tua dari dalam. Aku menahan napas dan berjalan pelan ke kamar itu. Pintu terkunci. Tapi saat aku mencoba membukanya, pintu itu bergerak perlahan, terbuka sendiri. Angin dingin menusuk tulang belakang. Cermin itu memantulkan diriku… tapi ada bayangan lain di belakangku. Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Aku menelan ludah, menatap kembali cermin. Bayangan itu… tersenyum padaku.
Malam demi malam, suara itu semakin jelas. Bisikan-bisikan lembut, kadang tertawa, kadang menjerit, terdengar di seluruh rumah. Aku mencoba merekamnya dengan ponsel, tapi rekamannya kosong. Tidak ada suara apapun, hanya sunyi. Aku mulai merasa diikuti, diintai oleh sesuatu yang tidak terlihat. Bayangan di cermin itu tidak pernah sama. Kadang ia meniruku, kadang tersenyum sinis. Aku mencoba menutup tirai, menutupi cermin… tapi ia tetap terlihat dalam pantulan air, dalam jendela, bahkan dalam bayangan lampu malam.
Aku mencari tahu tentang rumah itu. Ternyata bibiku meninggal di kamar cermin, dengan tubuh membeku di depan kaca besar. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tetangga bilang, rumah itu memiliki sejarah kutukan: siapapun yang terlalu lama menatap cermin akan melihat… dirinya sendiri, tapi berbeda. Lebih gelap, lebih jahat, lebih haus akan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Suatu malam, aku terbangun oleh suara tangisan. Suara itu seperti anak kecil yang menjerit kesakitan. Aku bangun, menyalakan lampu, dan terdengar langkah kaki menuruni tangga. Rumah itu kosong. Hanya aku. Suara itu mendekat ke kamar cermin. Dengan tangan gemetar, aku membuka pintu kamar itu… dan melihat sesuatu yang membuat jantungku berhenti.
Di cermin, bukan diriku yang menatap… tapi sosok wanita dengan mata kosong, kulit pucat, rambut panjang kusut, menatap lurus ke mataku. Bibiku. Atau sesuatu yang menirunya. Tubuhku terasa berat, seolah seluruh energi ditarik masuk ke cermin. Aku mencoba menutup mata… tapi pantulan itu tetap menatap, tersenyum, dan berkata dengan suara serak:
“Selamat datang… kau yang baru, kini milikku.”
Aku terjerembab ke lantai. Saat aku bangkit, cermin itu kosong. Hanya diriku sendiri. Tapi aku tahu… sesuatu telah masuk ke dalam rumah. Sesuatu yang mengikutiku.
Hari-hari berikutnya menjadi mimpi buruk. Suara tangisan dan tawa terdengar di setiap sudut. Lampu berkedip. Pintu terbuka sendiri. Barang-barang berpindah tempat. Kadang aku merasa ada yang berdiri di belakang, mencium leherku… tapi saat menoleh, tidak ada siapa-siapa. Aku mencoba meninggalkan rumah… tapi setiap kali mobil dinyalakan, ban seakan tertahan, pintu terkunci, dan rumah itu… menolak aku pergi.
Aku mulai menulis catatan, mencoba memahami pola kejadian. Setiap malam, bayangan di cermin semakin jelas.