Namaku Rania.
Usiaku tiga puluh dua tahun. Aku seorang ibu dari dua anak yang sangat aku cintai—Alya yang berusia enam tahun dan Rafi yang baru berusia tiga tahun.
Selama tujuh tahun menikah dengan suamiku, Arga, aku selalu percaya satu hal: bahwa keluarga kecil kami adalah tempat paling aman untuk pulang.
Aku tidak pernah menyangka… bahwa justru di rumah itulah hatiku perlahan dihancurkan.
Awalnya semua terasa indah. Tahun-tahun pertama pernikahan kami penuh tawa. Arga selalu pulang membawa makanan kesukaanku, menggendong Alya dengan bangga, dan berkata bahwa kami adalah alasan dia bekerja keras.
Aku percaya padanya sepenuh hati.
Namun semuanya mulai berubah setelah tahun kedua pernikahan.
Arga mulai sering pulang larut malam. Katanya lembur. Kadang ada perjalanan kerja. Kadang ada rapat mendadak.
Aku tidak pernah curiga.
Aku sibuk mengurus rumah, mengurus anak, dan menjadi istri yang berusaha selalu mengerti.
“Maaf ya, Ra. Kerjaan lagi banyak banget,” katanya suatu malam sambil mencium keningku.
Aku hanya tersenyum.
“Gak apa-apa. Yang penting kamu sehat.”
Aku tidak tahu… bahwa kalimat sederhana itu adalah awal dari kebohongan panjang.
Tahun demi tahun berlalu
Anak kedua kami lahir. Rafi menjadi pelengkap kebahagiaan kami.
Setidaknya… itu yang aku kira.
Sampai suatu malam.
Arga tertidur di sofa ruang tamu. Ponselnya bergetar berkali-kali.
Aku sebenarnya tidak pernah menyentuh ponselnya. Tapi malam itu… entah kenapa hatiku merasa gelisah.
Layarnya menyala.
Ada pesan masuk.
“Aku kangen. Lima tahun kita sembunyi terus capek juga.”
Tanganku langsung dingin.
Aku membaca ulang kalimat itu berkali-kali.
Lima tahun?
Perlahan aku membuka pesan itu.
Nama kontaknya: Maya ❤️
Percakapan demi percakapan muncul di layar.
Foto mereka bersama. Kata-kata sayang. Janji-janji masa depan.
Dan satu kalimat yang membuat dadaku terasa seperti dihantam sesuatu.
“Aku sabar kok nunggu kamu cerai. Yang penting kita tetap sama-sama.”
Air mataku jatuh tanpa suara.
Lima tahun.
Artinya… saat aku mengandung Rafi.
Saat aku begadang merawat bayi.
Saat aku percaya pada suamiku sepenuh hati.
Dia sedang mencintai wanita lain.
Pagi harinya aku tidak langsung bertanya.
Aku menatap wajah Arga saat ia sarapan bersama anak-anak.
Ia tertawa, mencium Alya, menggendong Rafi.
Seolah semuanya baik-baik saja.
Seolah dia bukan orang yang mengkhianatiku selama lima tahun.
Hatiku hancur.
Namun aku mencoba tetap tenang.
“Mas,” kataku pelan.
“Iya?”
Aku menaruh ponselnya di meja.
“Ini siapa?”
Wajah Arga langsung pucat.
Ia terdiam lama.
“Rania… aku bisa jelasin.”
“Lima tahun, Mas?” suaraku bergetar.
Dia menunduk.
Aku tertawa kecil, tapi air mata terus jatuh.
“Lima tahun aku hidup sama kamu… tapi ternyata aku cuma istri setengah hati ya?”
“Gak gitu—”
“Lima tahun itu bukan sebentar.”
Suasana rumah mendadak sunyi.
Alya menatap kami bingung.
“Bunda kenapa?”
Hatiku semakin hancur.
Aku tidak ingin anakku melihat ibunya menangis.
Malam itu Arga mencoba menjelaskan.
Katanya semuanya terjadi tanpa sengaja.
Katanya dia khilaf.
Katanya dia tidak ingin kehilangan keluarga.
Tapi bagiku… semuanya sudah terlambat.
“Kalau kamu masih sayang keluarga ini,” kataku dengan suara lelah,
“kenapa kamu bisa selingkuh selama lima tahun?”
Arga tidak bisa menjawab.
Karena memang tidak ada jawaban yang cukup.
Beberapa minggu setelah itu aku mencoba bertahan.
Aku mencoba memaafkan.
Demi anak-anak.
Namun setiap melihat Arga… yang aku ingat hanya satu hal.
Pengkhianatan.
Setiap ia tersenyum, aku bertanya-tanya:
senyum ini dulu untukku… atau untuk wanita itu?
Setiap ia pulang terlambat, hatiku kembali hancur.
Aku hidup bersama seseorang yang tidak lagi bisa aku percaya.
Dan akhirnya aku menyadari satu hal yang menyakitkan.
Cinta tidak bisa dipaksa hidup di atas kebohongan.
Suatu pagi aku menyerahkan sebuah amplop kepada Arga.
Ia membukanya.
Surat gugatan cerai.
Tangannya gemetar.
“Rania… jangan.”
Air mataku jatuh lagi.
“Aku sudah mencoba bertahan.”
“Aku berubah, Ra. Aku janji.”
Aku menggeleng.
“Lima tahun kamu memilih dia.”
“Sekarang aku memilih diriku sendiri.”
Ruangan itu terasa sangat sunyi.
Alya dan Rafi bermain di kamar tanpa tahu bahwa rumah mereka sedang runtuh.
Arga menangis untuk pertama kalinya.
Namun tangisan itu tidak lagi berarti bagiku.
Beberapa bulan kemudian… perceraian kami resmi.
Rumah tangga tujuh tahun itu akhirnya hancur.
Aku pindah ke rumah kecil bersama anak-anak.
Tidak mudah menjadi ibu tunggal.
Ada hari-hari ketika aku menangis sendirian di malam hari.
Namun setiap kali melihat Alya dan Rafi tertidur… aku tahu aku harus kuat.
Karena mereka adalah alasan aku tetap berdiri.
Suatu sore Alya bertanya.
“Bunda… Ayah kenapa gak tinggal sama kita lagi?”
Aku memeluknya erat.
“Kadang orang dewasa membuat kesalahan, Nak.”
“Tapi Bunda masih sayang Ayah?”
Aku terdiam sejenak.
Lalu aku tersenyum kecil.
“Ayah tetap Ayah kalian.”
“Tapi Bunda belajar… bahwa hati juga perlu dijaga.”
Alya mengangguk meski mungkin belum sepenuhnya mengerti.
Aku menatap langit senja dari jendela rumah kecil kami.
Pernikahanku memang hancur.
Namun aku masih punya dua alasan untuk terus hidup.
Dan kali ini… aku berjanji pada diriku sendiri.
Tidak akan pernah lagi mencintai seseorang yang menganggap kesetiaan hanyalah pilihan..