Di sebuah desa kecil di kaki pegunungan, ada seorang gadis bernama Sari yang bekerja sebagai penjaga perpustakaan kuno. Tempat itu menyimpan ribuan naskah tua yang tak pernah terjamah, termasuk sebuah lemari kayu besar yang terkunci rapat tidak ada yang tahu apa yang ada di dalamnya, karena kuncinya hilang sejak puluhan tahun yang lalu.
Suatu malam, ketika hujan deras mengguyur desa, Sari sedang membersihkan rak buku ketika dia mendengar suara klik lembut dari arah lemari itu. Saat dia mendekat, dia melihat sepotong logam kecil bersinar di lantai di depan pintu lemari sebuah kunci yang tampak baru saja muncul dari tidak tahu mana.
Tanpa berpikir panjang, Sari mengambil kunci dan memasukkannya ke dalam lubang kunci. Dengan suara terdengar jelas, lemari terbuka perlahan. Di dalamnya hanya ada satu buku kecil dengan sampul kulit yang sudah aus. Ketika dia membukanya, halamannya kosong kecuali pada halaman tengah yang terdapat gambar sebuah taman bunga yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Saat dia menatap gambar itu dengan teliti, rasa kantuk yang luar biasa menyerangnya. Ketika dia terbuka kembali, dia menemukan diri berada tepat di tengah taman yang ada di gambar—bunga-bunga berwarna-warni yang tidak pernah ada di dunia nyata mekar di sekelilingnya, dan udara penuh dengan aroma yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Di pojok taman berdiri seorang pria tua dengan wajah penuh kedamaian. “Kamu akhirnya datang, Sari,” ujarnya dengan suara yang lembut seperti angin. “Aku telah menunggu kamu selama bertahun-tahun.”
“Siapa Anda? Dan di mana saya ini?” tanya Sari dengan terkejut.
“Aku adalah penjaga taman ini—tempat di mana semua cerita yang terlupakan disimpan. Buku itu memilihmu karena kamu memiliki hati yang suka mendengarkan dan menyimpan cerita orang lain.” Pria tua itu mengambil tangannya dan mengajaknya berjalan melalui taman. “Setiap bunga di sini adalah sebuah cerita yang terlupakan oleh dunia luar. Jika mereka dibiarkan terlalu lama, mereka akan layu dan lenyap selamanya.”
Sari melihat sekeliling dan melihat beberapa bunga yang mulai menguning. “Bisakah saya membantu mereka?”
“Kamu bisa,” jawab pria tua itu dengan senyum. “Kamu hanya perlu membawa cerita mereka kembali ke dunia luar ceritakan pada orang lain, tulis kembali, atau cukup ingatnya dengan baik. Setiap cerita yang hidup kembali akan membuat bunga ini mekar dengan indah lagi.”
Tanpa basa-basi lagi, Sari mulai belajar cerita-cerita dari setiap bunga yang mulai layu. Ada cerita tentang seorang penyair yang membuat puisi untuk orang yang dicintainya namun tak pernah berani diberikan, cerita tentang dua teman sejati yang terpisah oleh perang namun selalu menjaga rasa persahabatan mereka, dan cerita tentang seorang ilmuwan yang menemukan cara untuk berkomunikasi dengan tumbuhan namun tidak pernah dipercaya oleh orang lain.
Setiap cerita yang dia pelajari, bunga itu mulai kembali bersinar dengan warna cerah. Setelah dia mengingat semua cerita yang ada di taman itu, pria tua itu mengantarkannya kembali ke pintu keluar.
“Kamu bisa kembali kapan saja,” katanya. “Selama ada cerita yang terlupakan, taman ini akan selalu ada. Dan kunci akan selalu muncul ketika kamu dibutuhkan.”
Saat Sari terbuka matanya, dia menemukan diri kembali di perpustakaan. Buku kecil itu masih ada di tangannya, namun sekarang halamannya penuh dengan tulisan yang indah cerita-cerita yang dia pelajari di taman itu.
Sejak itu, Sari menghabiskan waktu luangnya untuk menceritakan cerita-cerita itu kepada warga desa. Dia mulai mengajar anak-anak untuk mencintai cerita dan mendirikan sebuah kelompok untuk mengumpulkan dan menyimpan cerita-cerita dari orang-orang tua di desa.
Setiap malam, ketika dia menutup pintu perpustakaan, dia melihat lemari kayu besar itu berdiri dengan kokoh. Kadang-kadang dia merasakan ada sesuatu yang menyala di dalamnya tanda bahwa ada cerita lain yang menunggu untuk ditemukan dan dibawa kembali ke kehidupan.