Gue selalu ingat cara Lily mengikat sepatunya. Pelan, hati-hati, seperti takut tali itu akan putus kalau diperlakukan sembarangan.
Sol kanannya sudah retak, dijahit ulang dengan benang kasur yang tak lagi putih. Tiap malam dia lap dengan kain basah, disimpan di sudut kamar paling jauh dari bocoran atap.
Kami tinggal di kontrakan seluas dua kali lipat kamar mandi orang kaya. Satu ruangan, satu kompor, satu kasur yang kami gilir. Gue kerja serabutan. Lily, yang baru berumur lima belas tahun, jualan cilok tiap pagi sebelum bel sekolah masuk. Kami sudah belajar cara tidak terlalu berharap pada orang lain. Sampai suatu hari, Om Hendra muncul di warung Bu Rati. Kelihatannya dia bukan orang sini, dilihat dari caranya duduk, cara dia menatap sekitar dengan sopan.
"Kamu Furlo kan? Om denger dari Bu Rati. Om ada loker katering yang butuh tenaga logistik sama admin. Gajinya lumayan, ada tempat tinggalnya juga." "Gue nggak langsung jawab. Tapi Om Hendra nggak minta apa-apa duluan. Gue pulang dengan kepala penuh.
Lily sedang memasak nasi. Mengambil beras segenggam, dicampur air lebih banyak supaya jadi bubur.
Gue berjalan ke arahnya, "Ada om-om yang nawarin kerja, Lily." Sendoknya berhenti. Dia memutar badan dengan cara yang gue kenal. Cara yang berarti dia sedang menimbang sesuatu dengan sangat serius.
"Namanya Om Hendra. Bu Rati yang rekomendasiin, lu mau gak-"
"Bang, gue udah muak sama semua ini. Kita udah berapa kali kena tipu? Pak Darto kabur bawa uang kita. Tante Wulan minta kita jadi pembantu gak dibayar. Sekarang mau percaya orang asing lagi?" Potongnya, sambil menghantam sendok. "Pokoknya gue gak mau."
Malam itu gue nggak bisa tidur. Bukan karena marah, gue ngerti dari mana rasa takut itu datang. Gue yang peluk Lily waktu nangis karena Pak Darto kabur, gue yang diam di sampingnya waktu Tante Wulan teriak di depan pintu.
Besoknya gue menemui Om Hendra seorang diri, untuk melihat tempat kerjanya. Om Hendra gak masalahin itu dan langsung menghubungi karyawannya. Gue ngerasa kayak dibantu, dan dihargai.
Lily mendengarkan semuanya tanpa memotong. Tapi ketika gue selesai, dia hanya mengangkat lutut ke dada dan memeluknya. "Kalau kejadian itu terulang lagi," Lily melepaskan pelukannya. "gimana bang?"
Gue duduk di sampingnya. "Kita hadapin sama-sama. Kayak dulu." Lily diam lama sekali.
"Yaudah." Satu kata. Tanpa nada. Lebih terdengar seperti menyerah daripada setuju. Gue pengen bilang makasih, tapi yang keluar hanya diam. Seperti hati gue menolak untuk berbicara.
Pertama kali Lily tertawa waktu kerja, gue pura-pura tidak dengar supaya tidak merusaknya. Mata Lily yang dulu murung, sekarang bercahaya. Suatu malam gue nemuin sepatunya di rak baru. Sepatu lama itu masih ada, sol retak dan benang kasurnya masih seperti dulu.. Bukan disimpan karena masih berguna, tapi karena ada hal-hal yang kita jaga supaya kaki kita tidak lupa cara berjalan ketika jalan di depan kembali menjadi berat.
Ternyata, kita sudah sejauh ini, Lily.
~ THE END ~