Namaku Bulan. Kakiku baru saja menginjak lantai teras rumah, debu perantauan bahkan belum sempat kubasuh dari wajahku. Aku pulang dengan kerinduan yang membuncah, membayangkan pelukan hangat orang tua setelah sekian lama berjuang di tanah orang. Namun, sambutan yang kuterima justru terasa dingin dan penuh rahasia.
Belum sempat aku membongkar isi tas, suara ketukan pintu terdengar. Ibu bergegas membukanya dengan senyum yang tak pernah kulihat sebelumnya. Di ambang pintu, berdirilah Bintang. Tetangga yang rumahnya hanya selisih tiga bangunan dari rumahku. Pria yang jauh lebih dewasa, dengan gurat wajah yang menyimpan sisa-sisa kegagalan rumah tangga masa lalunya.
“Masuk, Bin. Bulan sudah pulang,” suara Ayah terdengar tegas, seolah kehadiranku memang sudah dijadwalkan untuk saat ini.
Bintang duduk di hadapanku, di kursi kayu ruang tamu yang mendadak terasa sempit. Tatapannya menuntut, sementara aku hanya bisa menunduk, meremas ponsel di saku yang berisi pesan rindu dari Matahari—kekasih LDR-ku. Di depan cangkir teh yang masih mengepul, tanpa basa-basi, orang tuaku menjatuhkan vonis:
"Bulan, kamu tidak usah balik merantau lagi. Mas Bintang sudah setuju untuk meminangmu. Persiapan akan segera dilakukan."
Duniaku runtuh seketika. Bintang hanya diam, membiarkan orang tuaku yang mengatur hidupku seolah aku adalah barang dagangan. Tidak ada ruang bagiku untuk bicara, apalagi menolak. Setiap kali aku mencoba membela diri, bentakan Ayah membungkamku. Aku merasa seperti orang asing di rumah sendiri, terjebak di antara ambisi orang tua dan kehadiran Bintang yang terasa mencekik.
Malam itu, di bawah bayang-bayang rumah Bintang yang terlihat dari jendela kamarku, aku membulatkan tekad. Aku mengemas kembali pakaianku yang bahkan belum sempat kucuci. Dengan langkah gemetar dan air mata yang menyumbat tenggorokan, aku menyelinap keluar lewat pintu belakang. Aku berlari menembus gelapnya gang, meninggalkan rumah yang kini terasa asing, menuju terminal untuk mencari kota perantauan baru yang tak terjamah oleh mereka.
Pelarianku dibayar mahal:sebuah pesan singkat datang menyatakan namaku telah dicoret dari Kartu Keluarga. Aku "dibuang" karena memilih hatiku.
Kini, di tempat baru yang sepi, aku hanya punya Matahari. Dia telah berjanji, tahun depan dia akan datang melamar dan membuktikan bahwa pelarianku tidak sia-sia.
Aku adalah Bulan yang kini meredup di pengasingan, menanti janji setia sang Matahari untuk menjadikanku miliknya seutuhnya.