Suara bising mesin pembuat cokelat menderu, memecah kesunyian shift malam yang seharusnya tenang. Jarum jam tepat di angka 00.00. Di tengah aroma manis kakao yang menyeruak, kekacauan terjadi. Mesin itu terus berjalan tanpa kendali, menghasilkan cetakan-cetakan cokelat yang rusak dan hancur.
"Bangun kau, Ikram! Tidur melulu!" bentak Pak Rohman, kepala atasan sekaligus paman kandungku sendiri.
Aku mengerjap, mengusap muka yang masih lengket oleh kantuk. Pak Rohman berkacak pinggang, napasnya memburu melihat tumpukan barang reject di depanku. Sebagai keponakan, aku memang sering meremehkan tegurannya. Makin ia marah, makin aku sengaja berulah. Namun, pikiranku malam itu sebenarnya bukan pada mesin cokelat, melainkan pada Nuna.
Nuna adalah sahabat saudari perempuanku, Resti. Usianya setara dengan Mbak Resti, matang dan mapan. Sejak awal, ia mengejarku dengan ketulusan yang justru membuatku merasa sesak. Aku tidak mencintainya. Bagiku, dia hanyalah beban yang harus kuhindari.
Demi membuat Nuna menjauh, aku memulai permainan kotor. Aku memacari Lilid, anak magang baru di pabrik. Pada suatu malam kencan, aku sengaja melakukan video call dengan Lilid tepat di depan Nuna. Aku ingin melihatnya hancur, menangis, dan meninggalkanku.
Tapi Nuna hanya tersenyum tipis. Matanya tetap tenang saat menatap layar ponselku. "Aku tetap percaya kamu, Ikram. Mungkin kamu hanya sedang bosan," ucapnya lirih.
Ketulusannya membuatku muak. Aku memutuskan keluar dari pabrik paman dan pindah kerja ke tempat lain hanya untuk menghilang darinya. Namun, semesta seolah punya cara untuk menarikku kembali. Belum genap sebulan, rasa tidak betah menghantui. Bayangan perhatian Nuna justru memanggil-manggilku di tengah kelelahan kerja.
Kami kembali bertemu.Malam itu, di sebuah kafe kecil di sudut kota, Nuna duduk menungguku dengan sebuah kotak besar berbungkus kertas kado perak di atas meja. Itu adalah hari anniversary kami, sebuah tanggal yang sebenarnya ingin kuhapus dari kalender.
"Selamat satu tahun, Ikram," ucap Nuna lembut. Senyumnya tidak berubah, tetap teduh meski aku datang dengan wajah ditekuk dan terlambat satu jam.
Aku menarik kursi dengan kasar, bunyi decitannya memicu perhatian pengunjung lain. "Nuna, sudah kukatakan jangan buat acara begini. Aku capek habis shift malam di pabrik baru."
Nuna tidak membantah. Ia justru menggeser kotak itu ke hadapanku. "Buka dulu. Aku tahu kamu sedang mengincar ini sejak lama. Aku tanya ke Resti, katanya kamu sering lihat-lihat ini di katalog."
Dengan malas, aku merobek kertas kadonya. Mataku terbelalak sesaat. Di dalamnya ada sepasang sepatu bola kasta tertinggi, seri terbatas yang harganya setara dengan tiga bulan gajiku sebagai buruh pabrik. Aroma kulit sepatu baru itu menyeruak.
"Ini mahal, Nuna. Dari mana kamu dapat uangnya?" tanyaku, nada suaraku sedikit melunak karena terkejut.
"Aku menabung sedikit demi sedikit dari hasil sampinganku," jawabnya sambil merapikan anak rambutnya ke belakang telinga. "Aku ingin kamu tetap punya semangat, meskipun kamu bilang tidak betah di tempat kerja baru. Pakailah untuk hobi yang kamu suka."
Aku terdiam, jemariku menyentuh permukaan sepatu itu. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dada—rasa bersalah. Namun, ego mudaku jauh lebih besar. Aku merasa kecil di hadapan kebaikannya yang begitu dewasa.
"Kamu pikir dengan belikan barang mahal begini, aku bakal makin cinta?" cetusku kasar, mencoba menutupi kegugupanku.
"Jangan paksa aku untuk membalas semua ini, Nuna. Aku tidak minta."
Nuna hanya menatapku, matanya berkaca-kaca tapi ia tetap tersenyum tipis. "Aku tidak minta dibalas, Ikram. Aku hanya ingin kamu bahagia. Itu saja cukup bagiku."
Kalimat itu justru membuatku semakin ingin lari. Ketulusannya terasa seperti jerat yang mencekik. Di malam itulah, di saat aku memegang hadiah terbaik dalam hidupku, aku justru mematapkan niat untuk mengarang cerita "perjodohan" agar dia benar-benar pergi dari hidupku.
"Pergilah, Nuna. Aku harus menuruti orang tuaku," usirku dingin.
Nuna tidak membantah kali ini. Dia pergi tanpa suara, pindah ke pulau seberang untuk memulai hidup baru. Dan saat itulah, gravitasi hidupku mendadak hilang. Sepatu bola itu masih tersimpan rapi, namun orang yang memberinya telah tiada dari jangkauanku. Kesunyian mulai memakan logikaku. Aku merindukannya. Sangat rindu.
Dengan tangan gemetar, aku mencari kontak lamanya. Aku mengirim pesan singkat, berharap ada celah untuk kembali.
“Nuna, apa kabar? Aku merindukanmu.”
Ponselku bergetar tak lama kemudian. Jantungku berpacu. Namun, balasan yang muncul adalah belati yang langsung menghujam jantungku:
“Maaf, ini suaminya Nuna. Ada perlu apa ya dengan istri saya?”
Duniaku runtuh seketika. Sandiwara perjodohan itu tak pernah nyata, tapi pernikahan Nuna adalah kenyataan yang mutlak. Aku berdiri di antara mesin cokelat yang masih menderu, menyadari bahwa cokelat yang rusak bisa dilelehkan kembali, tapi hati yang sudah disia-siakan tak akan pernah bisa pulang.