Malam di Cikuda seharusnya sudah tertidur lelap sejak jam sepuluh. Bagi warga di perbatasan Ciumbeureum ini, kabut yang turun dari perbukitan adalah selimut alami yang menyuruh siapa pun untuk segera masuk ke bawah bedung dan mematikan lampu. Namun, bagi Rizki, jam dua pagi justru adalah puncak dari kesibukannya. Sebagai seorang kurir paket kilat yang baru saja menyelesaikan giliran lembur, jalanan yang sepi dan udara yang menusuk tulang adalah makanan sehari-hari.
Rizki mengendarai motornya dengan kecepatan rendah. Lampu depan motornya yang agak menguning membelah kabut tebal yang menyelimuti jalanan aspal menuju rumahnya. Nama "Cikuda" konon berasal dari tempat pemberhentian kuda-kuda pengangkut di masa lampau, namun bagi Rizki yang tumbuh di era modern, itu hanyalah sebuah nama tanpa arti mistis. Hingga malam itu, ketika logikanya mulai diuji oleh sesuatu yang tidak masuk akal.
Suasana sangat hening. Begitu hening hingga suara mesin motornya sendiri terasa mengganggu ketenangan malam. Tiba-tiba, saat ia melintasi tikungan dekat pohon beringin tua yang akarnya menjuntai seperti rambut raksasa, Rizki mendengar sesuatu.
Tuk... tuk... tuk... tuk...
Suaranya ritmis. Konsisten. Kedengarannya seperti langkah kaki kuda yang menghantam aspal keras. Rizki secara refleks melirik ke kaca spionnya. Kosong. Hanya ada jalanan gelap yang tertutup kabut. Ia mempercepat laju motornya, namun suara itu tetap ada. Jaraknya terasa konstan, seolah-olah sumber suara itu menempel tepat di belakang ban motornya.
Tuk... tuk... tuk... tuk...
Rizki mulai merasa ada yang aneh. Tidak ada suara ringkikan kuda. Tidak ada suara gesekan roda delman yang biasanya berderit keras. Tidak ada suara pecut yang membelah udara. Hanya suara langkah kaki kuda yang berat, seolah-olah ada makhluk besar tak kasat mata yang sedang berlari mengejarnya dengan langkah yang tenang namun pasti.
"Sial, perasaan gue aja kali ya," gumam Rizki, mencoba menenangkan jantungnya yang mulai berdegup kencang. Ia mencoba memutar otak. Mungkin itu suara mesin motornya yang bermasalah? Tapi suara itu terlalu organik, terlalu mirip dengan dentuman kuku hewan di atas jalanan.
Ia berhenti mendadak di pinggir jalan, tepat di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip sekarat. Ia mematikan mesin motornya. Hening seketika.
Rizki mengatur napasnya. Ia menoleh ke belakang, menyapu pandangannya ke jalanan yang ia lewati. Kabut tampak bergerak perlahan, seolah-olah ada sesuatu yang baru saja melintas di dalamnya. Namun, tidak ada siapa-siapa. Tidak ada delman, tidak ada kuda, tidak ada manusia.
Baru saja Rizki hendak menyalakan kembali mesin motornya, suara itu terdengar lagi. Kali ini bukan dari belakang, melainkan dari arah depan, tepat di kegelapan yang tidak terjangkau lampu jalannya.
TUK... TUK... TUK... TUK...
Suaranya jauh lebih keras dan lebih berat. Rizki terpaku. Bulu kuduknya berdiri tegak. Di tengah jalan yang gelap itu, kabut tampak tersingkap secara perlahan. Rizki melihat sebuah bayangan besar mulai terbentuk. Itu bukan delman biasa. Bayangan itu tinggi, hitam, dan memanjang.
Namun, ada yang salah dengan bentuknya. Bagian depannya tidak memiliki kepala kuda. Hanya ada leher yang terputus dengan kepulan asap hitam yang keluar dari sana. Dan di kursi pengemudinya, tidak ada kusir yang memegang kendali. Yang ada hanyalah sebuah kain sarung usang yang melayang, seolah-olah diisi oleh udara kosong.
Rizki mencoba menyalakan motornya. Cekrek... cekrek... Mesinnya mati total.
"Ayo dong, nyala! Nyala!" teriak Rizki panik. Tangannya gemetar hebat.
Suara langkah kaki itu semakin dekat. TUK! TUK! TUK! Jaraknya hanya tinggal beberapa meter. Rizki bisa merasakan getaran di atas aspal setiap kali kuku tak kasat mata itu mendarat. Bau busuk yang sangat menyengat—perpaduan antara bau bangkai dan keringat hewan yang sudah lama mati—mulai memenuhi rongga hidungnya.
Tiba-tiba, suara langkah itu berhenti tepat di depan motor Rizki.
Rizki tidak berani mendongak. Ia hanya menatap ban depannya. Namun, dari sudut matanya, ia melihat sepasang kaki kuda yang kurus kering, hanya terbalut kulit yang menghitam, berdiri diam di atas aspal. Tidak ada badan, tidak ada kepala. Hanya sepasang kaki belakang yang berdiri tegak, seolah-olah bagian tubuh lainnya berada di dimensi lain.
"Rizki..."
Suara itu kecil, serak, dan datang dari arah delman kosong di belakang kaki kuda itu. Suaranya terdengar seperti bisikan angin yang melewati celah-celah kayu busuk. "Ayo naik... jatahmu sudah tiba..."
Rizki merasa tenaganya hilang. Ia terjatuh dari motornya. Dengan sisa keberaniannya, ia merangkak mundur, menjauh dari fenomena mengerikan itu. Namun, ke mana pun ia bergerak, suara langkah kaki itu mengikutinya. Tuk... tuk... tuk...
Ia terus mundur hingga punggungnya menabrak batang pohon beringin tua. Di sana, ia terpojok. Delman tanpa kepala dan tanpa kusir itu perlahan mendekat. Roda kayunya yang berlumuran darah kini terlihat jelas di bawah cahaya bulan yang pucat.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang hanya terdiri dari tulang-belulang dan sisa-sisa daging yang membusuk menjulur dari balik kain sarung di kursi kusir. Tangan itu menggapai ke arah leher Rizki.
"TIDAAAAAAK!"
Rizki berteriak sekuat tenaga.
Sinar matahari pagi menembus celah-celah daun beringin di jalan Cikuda. Beberapa warga yang hendak pergi ke pasar terhenti ketika melihat sebuah motor tergeletak di pinggir jalan dalam kondisi mesin yang masih panas, namun tangkinya kosong seolah-olah habis diperas.
Rizki ditemukan pingsan di balik pohon beringin. Saat ia terbangun, ia tidak mengingat apa pun kecuali suara langkah kaki kuda. Namun, warga yang menolongnya terdiam saat melihat sesuatu di punggung jaket Rizki.
Terdapat sebuah bekas telapak tangan yang menghitam, seolah terbakar, berbentuk tulang jemari yang panjang. Dan yang lebih membuat mereka merinding adalah jejak langkah kaki kuda yang mengelilingi tempat Rizki ditemukan pingsan—jejak itu berupa lingkaran sempurna, seolah-olah sesuatu telah menunggunya semalaman suntuk untuk dibawa pergi, namun gagal karena fajar lebih dulu menyapa.
Sejak hari itu, Rizki tidak pernah lagi berani pulang lewat jam sepuluh malam. Karena baginya, nama Cikuda bukan lagi sekadar nama daerah. Itu adalah peringatan bahwa di jalanan sunyi itu, ada delman yang tidak butuh kusir, tidak butuh kepala, dan hanya membutuhkan satu nyawa lagi untuk melengkapi perjalanannya yang abadi.