Di rumah tua di pinggiran desa itu, televisi adalah satu-satunya teman bagi Cantiq kecil. Sore itu, udara terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah awan mendung tidak hanya menggantung di langit, tapi juga merayap masuk ke sela-sela ventilasi rumah. Saat itu, Cantiq masih duduk di bangku TK, dunianya masih sebatas warna-warni kartun dan aroma bedak bayi yang selalu menempel di lehernya.
Cantiq berjalan pelan menuju ruang tengah. Kakak perempuannya sedang tidur pulas di lantai atas, sementara Mamah sedang sibuk di dapur belakang yang jaraknya cukup jauh jika harus diteriaki. Suasana rumah sangat sepi, hanya ada suara detak jam dinding yang terdengar seperti ketukan jari di atas kayu.
Cantiq menjangkau tombol power pada televisi tabung besar itu. Klik.
Layar kaca itu belum sempat memunculkan gambar, baru sekadar garis horizontal putih di tengahnya, ketika tiba-tiba seluruh ruangan itu mendadak gelap gulita. Jantung Cantiq berdegup kencang. Ia mengira seluruh rumah mengalami pemadaman listrik, namun saat ia menoleh ke arah celah pintu kamar Mamah yang sedikit terbuka, cahaya lampu di sana masih benderang. Bahkan, cahaya dari koridor menuju dapur pun masih menyala terang.
Kegelapan itu hanya memilihnya. Hanya di ruang televisi itu.
Cantiq terpaku. Ia hendak berteriak memanggil kakaknya yang berada di atas, namun suaranya seolah tercekat di kerongkongan. Di tengah kegelapan yang pekat itu, sebuah siluet mulai terbentuk di sudut ruangan, tepat di samping lemari kayu tua.
Awalnya, Cantiq mengira itu adalah kakaknya yang baru saja turun. Sosok itu adalah seorang perempuan. Rambutnya panjang menjuntai, menutupi sebagian wajahnya. Ia berdiri mematung, mengenakan gaun putih yang tampak kusam, seperti kain yang sudah terlalu lama disimpan di gudang lembap.
"Kak?" bisik Cantiq gemetar.
Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana. Namun, ada sesuatu yang salah. Sangat salah. Cahaya dari ruangan sebelah yang seharusnya menerangi sedikit bagian dari sosok itu justru seolah terserap masuk ke dalam bayangannya. Perempuan itu tidak memiliki bayangan di lantai, karena ia sendiri adalah bagian dari kegelapan yang mencekam itu.
Perlahan, sosok itu mulai menggerakkan kepalanya. Gerakannya patah-patah, mengeluarkan suara seperti ranting kering yang diinjak. Cantiq ingin lari, tapi kakinya seperti tertanam ke lantai. Ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin, dingin yang menusuk hingga ke tulang, membuat napas Cantiq keluar dalam bentuk uap kecil.
Sosok itu mulai melangkah. Ia tidak berjalan seperti manusia. Ia melayang rendah, ujung gaunnya tidak menyentuh lantai, namun menimbulkan suara gesekan halus yang bikin merinding—sret... sret... sret...
Saat sosok itu berada hanya beberapa jengkal darinya, Cantiq bisa mencium bau yang sangat asing. Bukan bau wangi bunga, melainkan bau tanah basah yang bercampur dengan aroma logam berkarat. Perempuan itu menunduk. Di balik rambutnya yang acak-acakkan, Cantiq melihat satu mata yang menatapnya tajam—mata yang tidak memiliki bagian putih, hanya lubang hitam yang dalam dan tak berdasar.
"Kamu... mau nonton apa?" suara itu bukan keluar dari mulut, melainkan bergema langsung di dalam kepala Cantiq. Suaranya serak, seperti gesekan dua batu nisan.
Cantiq memejamkan matanya rapat-rapat, air mata ketakutan mengalir di pipinya. Ia merapalkan doa-doa pendek yang diajarkan di sekolah, tangannya gemetar hebat. Ia ingin memanggil Mamah, tapi lidahnya kelu.
Tiba-tiba, suara teriakan dari lantai atas memecah kesunyian. "Cantiq! Ngapain di situ gelap-gelapan?"
Pet!
Lampu ruang tengah tiba-tiba menyala kembali seiring dengan suara langkah kaki kakaknya yang menuruni tangga. Cantiq membuka matanya. Sosok perempuan itu sudah hilang. Ruangan itu kembali normal, hangat, dan televisi di depannya kini menampilkan semut-semut hitam putih karena tidak ada sinyal.
"Tadi mati lampu, Kak," ujar Cantiq dengan suara bergetar, wajahnya pucat pasi.
Kakaknya mengerutkan kening. "Mati lampu gimana? Di atas nyala terus kok dari tadi. Kamu jangan aneh-aneh ah, ayo ke dapur, Mamah sudah masak."
Cantiq tidak berani bercerita lebih jauh. Ia mengikuti kakaknya ke dapur dengan perasaan waswas. Namun, saat ia melewati cermin besar di koridor, ia sempat melirik bayangannya sendiri. Di cermin itu, ia melihat dirinya berjalan sendirian, tapi di ujung gaun mungilnya, terdapat bekas tangan hitam yang samar, seolah-olah ada seseorang yang baru saja mencoba menahannya untuk tetap tinggal di dalam kegelapan.
Kejadian itu menjadi rahasia kelam yang dipendam Cantiq selama bertahun-tahun. Ia sadar, terkadang ada sesuatu yang tidak terlihat bukan karena mereka tidak ada, tapi karena mereka hanya memilih orang-orang tertentu untuk menunjukkan kehadirannya. Dan sore itu, di Cicalengka, kegelapan tidak hanya memadamkan lampu, tapi juga meninggalkan jejak dingin yang takkan pernah bisa dihapus dari ingatannya.
Hingga dewasa, Cantiq tidak pernah bisa lagi duduk sendirian di ruangan gelap. Karena setiap kali lampu berkedip, ia selalu merasa ada sepasang mata hitam yang mengawasinya dari balik sudut ruangan, menanti waktu yang tepat untuk kembali bertanya, "Kamu... mau nonton apa?"