Hujan Bulan Juni, menurut para pujangga adalah hujan yang paling tabah. Namun, bagi Ariana Marsyalina, hujan di luar jendela café sore ini bukanlah simbol ketabahan. Itu adalah orkestra kesedihan yang dimainkan oleh langit untuk mengiringi kehancuran dunianya.
Di depannya, secangkir Caramel Macchiato yang sudah dingin merefleksikan bayangan wajahnya sendiri—pucat, dengan mata sembab yang berusaha disembunyikan di balik bingkai kacamata hitamnya. Di seberang meja, kursi itu kosong. Dan di situlah letak tragedi terbesarnya. Kursi itu seharusnya ditempati oleh Stefan Fernandez.
Stefan. Nama itu dulu seperti melodi yang paling indah, sebuah simfoni yang menghangatkan jiwanya. Sekarang, nama itu terasa seperti duri yang tersangkut di tenggorokan, tajam dan menyakitkan setiap kali dia mencoba bernapas.
Mereka adalah dua kutub yang bertemu karena kebetulan, lalu terikat oleh sesuatu yang mereka sebut cinta. Ariana, si gadis sastra yang introver dengan dunia penuh kata-kata yang belum terucap. Stefan, si mahasiswa arsitektur yang pragmatis, ambisius, dan memiliki senyum yang bisa melelehkan es di kutub utara. Lima tahun mereka membangun benteng asmara, bata demi bata, dari janji-janji masa depan yang muluk hingga tawa renyah di sela-sela tenggat waktu tugas.
Ariana masih ingat bagaimana Stefan dulu menatapnya. Tatapan itu penuh binar, seolah dia adalah satu-satunya objek yang paling berharga di dunia ini. Stefan akan datang ke asrama Ariana tengah malam hanya untuk membawakannya martabak manis kesukaannya karena Ariana mengeluh lapar. Stefan akan menghabiskan berjam-jam mendengarkan Ariana membacakan puisi-puisi yang dia tulis, meskipun Ariana tahu Stefan tidak benar-benar memahaminya, tapi dia menghargai prosesnya.
Semuanya terasa begitu sempurna, begitu murni, seperti embun pagi yang belum ternoda polusi. Hingga perlahan, seperti kabut yang datang diam-diam, semuanya mulai berubah.
Perubahan itu bukan seperti ledakan, melainkan seperti korosi yang perlahan tapi pasti mengikis struktur bangunan cinta mereka. Dimulai dari pesan yang hanya dibalas dengan satu kata, lalu meningkat menjadi panggilan telepon yang diabaikan, dan akhirnya, alasan "sibuk" yang menjadi mantra barunya.
"Stefan, aku kangen," Ariana mengirim pesan suatu malam, suaranya parau karena rindu.
Balasannya datang berjam-jam kemudian, singkat dan dingin: "Iya, aku sibuk. Jangan ganggu dulu."
Ariana mencoba mengerti. Stefan sedang mengejar beasiswa ke Belanda, dia butuh fokus. Tapi hati Ariana bukan baja. Dia juga butuh kepastian. Dia butuh Stefan yang dulu, yang akan memeluknya erat dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Puncak dari segalanya adalah hari ini. Hari di mana kursi di depannya kosong. Stefan menolak untuk bertemu, lagi.
"Aku nggak bisa datang, Ariana. Ada rapat mendadak," suaranya di telepon terdengar datar, seolah dia sedang berbicara dengan klien, bukan dengan kekasihnya selama lima tahun.
"Tapi ini hari anniversary kita, Stefan. Kamu janji mau makan malam bareng," suara Ariana bergetar, air mata mulai menggenang di pelupis matanya.
"Aniversary hanyalah angka, Ariana. Jangan kekanak-kanakan. Kita bisa merayakannya kapan saja," Stefan menjawab dengan nada yang begitu dingin, seperti dia sedang mengikis setiap kenangan indah yang pernah mereka bangun bersama.
"Kapan saja? Kita sudah nggak pernah merayakan apa-apa lagi, Stefan. Kamu bahkan nggak ingat kapan terakhir kali kamu bilang kamu cinta aku," Ariana menangis, tak lagi bisa menahan kesedihannya.
"Aku lelah, Ariana. Kita bahas ini lain kali," kata Stefan, dan memutuskan sambungan telepon.
Ariana meletakkan ponselnya, hancur berkeping-keping. Di luar, hujan semakin deras, seolah mengejek penderitaannya. Dia menatap kursi kosong itu, dan di situlah dia menyadari kenyataan pahit itu.
Stefan sudah berubah.
Entah karena kesibukannya, entah karena ambisinya yang terlalu tinggi, atau entah karena orang baru yang telah mengisi kekosongan di hatinya. Tapi yang pasti, rasa itu sudah tidak ada lagi. Stefan yang dia cintai, Stefan yang pernah berjanji akan menjaganya selamanya, sudah tiada. Yang tersisa hanyalah bayang-bayang seorang pria yang begitu asing, seorang pria yang begitu egois, seorang pria yang telah menghancurkan dunianya tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Ariana menyeka air matanya dengan kasar. Dia tahu dia harus pergi. Dia tidak bisa terus duduk di sini, meratapi cinta yang sudah mati. Dia harus mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya dan melangkah maju, meskipun dunianya terasa begitu kelam dan sepi.
Dia berdiri, meninggalkan Caramel Macchiato yang masih utuh di atas meja. Dia berjalan keluar dari café, membiarkan hujan membasahi wajahnya, menyembunyikan air matanya yang terus mengalir. Di luar, dia melihat bayangan Stefan di kejauhan, berjalan di bawah payung dengan seorang wanita lain. Wanita itu tertawa renyah, dan Stefan menatapnya dengan binar mata yang sama seperti yang dulu dia berikan pada Ariana.
Ariana tersenyum kecut. Dia tahu sekarang. Stefan bukan berubah, dia hanya menemukan seseorang yang baru, seseorang yang bisa memberikan apa yang Ariana tidak bisa.
Ariana terus berjalan, menjauh dari café, menjauh dari bayangan Stefan. Dia tahu perjalanan di depannya akan sulit, penuh air mata dan kesakitan. Tapi dia juga tahu, seperti hujan yang akan selalu reda, kesedihannya pun akan berlalu. Dan suatu hari nanti, dia akan menemukan pelangi di balik awan yang gelap.
Tapi untuk sekarang, dia hanya ingin membiarkan hujan membasahi jiwanya, membasahi kenangan-kenangan indah yang kini hanya menjadi luka yang menyakitkan. Dia hanya ingin membiarkan air matanya mengalir, seperti resonansi yang senyap di balik orkestra kesedihan yang dimainkan oleh langit.