Lee Seung Soo, gadis cantik dengan sifat pemalu dan lembut, pindah ke SMA Negeri Maple Hill bukan karena alasan biasa. Di sekolah lamanya, ia mengalami perundungan hanya karena wajahnya terlalu cantik dan kepintarannya membuat iri para siswi lain. Luka itu ia simpan sendiri, tanpa pernah menceritakan kepada siapa pun.
Pagi pertama di sekolah baru itu, lorong tiba-tiba ramai. Semua siswa berhenti melihat gadis cantik yang berjalan bersama seorang guru. Banyak yang berbisik kagum, bahkan tak sedikit yang langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Di tengah kekaguman itu, guru yang mengantarnya tiba-tiba mendapat panggilan dari ruang guru dan panik.
“Hyun! Tolong antar dia ke kelas barunya, ya!”
Lee Hyun muncul pria tampan, terkenal, ramah, dan ketua OSIS di sekolah tersebut. Saat guru berlalu, Hyun dan Seung Soo saling menatap. Hyun mengulurkan tangan sambil tersenyum, dan Seung Soo menyambutnya dengan ragu namun sopan. Namun tiba-tiba seseorang menabrak Seung Soo dari belakang hingga ia hampir jatuh. Hyun cepat menangkapnya dan tubuh mereka saling dekat dalam pelukan tak sengaja.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Hyun dengan wajah panik.
Wajah Seung Soo memerah. “Iya… aku nggak apa-apa.”
Wangi lembut dari tubuh Seung Soo membuat Hyun tak bisa lupa sejak hari itu. Begitu juga Seung Soo yang diam-diam menunduk, menyembunyikan wajahnya yang juga memerah karena pria yang memeluknya adalah tipe yang ia sukai.
Mereka berjalan menyusuri lorong, Hyun menjelaskan berbagai ruangan seperti lab komputer, laboratorium, ruang musik, bahkan ruang OSIS. Seung Soo mendengarkan dengan sopan sambil sesekali mencuri pandang. Pada akhirnya, mereka masuk ke kelas 11, yang ternyata adalah kelas Hyun sendiri. Kursi kosong di dekat jendela menjadi tempat duduk Seung Soo.
Karena statusnya sebagai ketua OSIS, Hyun sangat dikenal dan banyak disukai. Namun justru itu membuatnya mudah mencari cara untuk mendekati Seung Soo. Ia meminta kontak Seung Soo dengan alasan agar bisa membantu jika gadis baru itu butuh apa pun. Seung Soo yang masih malu-malu memberikannya tanpa menolak.
Sejak itu, mereka makin dekat. Hyun sering mengajak Seung Soo ke ruang OSIS, mengajak gabung dalam kegiatan, dan mereka makin sering bertukar pesan. Hubungan mereka perlahan menjadi nyaman dan penuh perhatian, meski tak ada yang berani mengakui perasaan lebih dulu.
Namun suatu hari, rumor tak benar muncul di sekolah. Ada yang menyebarkan fitnah bahwa Seung Soo adalah pelaku bully di sekolah lamanya. Tanpa menunggu penjelasan, Hyun mendatangi Seung Soo dengan wajah tegang.
“Seung Soo… apa kamu dulu pernah membully orang?” tanyanya dengan suara yang terdengar marah.
Seung Soo terkejut, dadanya terasa sesak. “Bukan… Hyun, dengarkan aku dulu, aku”
“Aku nggak suka kalau kamu dekat-dekat aku. Tolong jauhi aku dulu.”
Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada luka yang pernah ia alami. Semua siswa di sekitar memperhatikan, dan rasa malu serta sakit hati membuatnya mundur perlahan. Lalu ia berlari keluar sekolah dan menghilang.
Sejak hari itu, ia tidak masuk sekolah. Tidak membalas pesan. Tidak membuka pintu siapa pun. Ia hanya berdiam diri di rumah, menahan tangis yang kembali membanjiri luka lama.
Sementara Hyun semakin gelisah. Walaupun marah, ia tak bisa mengabaikan rasa sesak di dadanya. Hingga anggota OSIS lain mencari tahu kebenaran dan menemukan fakta bahwa Seung Soo adalah korban, bukan pelaku. Mereka menunjukkan bukti dan Hyun langsung pucat, merasa bersalah.
Tanpa menunggu lebih lama, ia berlari menuju rumah Seung Soo. Ia mengetuk pintu berkali-kali sampai akhirnya pintu terbuka. Seung Soo menatapnya dengan mata sayu mata yang dulu indah kini tampak begitu kecewa. Gadis itu mencoba menutup pintu, namun Hyun menahan, membuat jarinya terjepit.
“A ah!” seru Hyun.
Seung Soo langsung panik. “Masuk! Duduk dulu! Kamu kenapa sih? Itu sakit!” Ia buru-buru mengambil kotak P3K, mengobati tangan Hyun dengan hati-hati. Saat ia meniup perlahan luka di jari itu, pandangan mereka bertemu. Beberapa detik sunyi membuat jantung keduanya berdetak lebih cepat. Seung Soo cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
“Aku… salah besar,” kata Hyun akhirnya. “Aku harusnya percaya kamu. Aku nggak seharusnya ngomong seperti itu.”
Seung Soo menunduk. “Aku cuma ingin jelasin… tapi kamu pergi.”
Hyun menggenggam tangan Seung Soo, membuat gadis itu terkejut. “Seung Soo… sejak pertama kali ketemu kamu, aku sudah suka sama kamu. Tapi aku takut bilang. Maaf kalau caraku salah… sangat salah.”
Pipinya memerah. Suaranya pelan, hampir seperti bisikan. “Sejak saat itu juga… aku suka sama kamu.”
Tatapan itu kembali bertemu kali ini tanpa ada yang menolak. Hyun mendekat dan mencium bibir Seung Soo pelan, lembut, hati-hati, seakan takut gadis itu tersakit lagi. Setelah bibir terlepas,
ia berbisik di telinganya:
“Mau nggak jadi pacar ketua OSIS ini?”
Seung Soo tak menjawab. Ia langsung memeluk Hyun erat, menyembunyikan wajahnya di bahunya.
“Mau…” bisiknya.
Sejak itu, hari-hari mereka dipenuhi kebersamaan. Mereka berpacaran seperti pasangan lainnya: saling menunggu pulang sekolah, saling menguatkan, saling percaya. Hubungan mereka bertahan hingga kelulusan, hingga Hyun membangun kehidupan bahagia yang selalu mereka impikan.
Cinta yang lahir dari tatapan pertama di lorong sekolah.
Cinta yang tetap bertahan karena kepercayaan, kejujuran, komunikasi, dan keberanian saling memilih sampai akhir.
Cinta yang harum… seperti wangi Seung Soo yang tidak pernah Hyun lupakan.