Bagi Saskia Prasetya, mencintai Arman Prasetyo adalah tentang pengabdian tanpa tanda tanya. Puncaknya terjadi pada 30 Desember tahun lalu. Saskia menghabiskan tabungannya untuk menyewa ruang VIP karaoke paling mewah, mengundang kerabat, dan menyiapkan kejutan yang ia rancang selama berbulan-bulan demi merayakan kelahiran lelaki itu. Di bawah kerlip lampu disko, ia melihat Arman tersenyum—sebuah senyum yang ia kira adalah tanda syukur, ternyata hanya topeng kesopanan.
Namun, roda waktu berputar dengan kejam ke arah Saskia.
Hari ulang tahun Saskia tiba. Tak ada bunga, tak ada pesan tengah malam, bahkan tak ada ucapan sederhana. Arman seolah amnesia bahwa di tanggal ini, wanita yang menemaninya bertahun-tahun sedang menanti sebuah pengakuan kecil. Hubungan yang sudah mengantongi restu kedua keluarga itu terasa hambar secara sepihak.
Luka Saskia mencapai puncaknya saat ia tak sengaja melihat unggahan foto pernikahan saudari perempuan Arman. Di kolom komentar, Arman bertanya dengan nada bercanda, "Kapan ya aku menyusul?"
Saskia membeku saat membaca balasan dari kakak ipar Arman: "Loh, bukannya Saskia sudah mutusin kamu kemarin?"
Dan jawaban Arman adalah belati yang paling tajam: "Iya, aku jomblo lagi sekarang. Bebas."
Dunia Saskia runtuh seketika. Tidak ada kata putus yang pernah terucap di antara mereka. Tidak ada pertengkaran hebat. Saskia menyadari satu kenyataan pahit: selama ini ia tidak sedang menjalin hubungan, melainkan sedang dikubur hidup-hidup dalam status "kekasih" yang tidak pernah dianggap ada.
Arman tidak lupa pada hari pentingnya; Arman hanya tidak peduli pada orangnya. Di mata Arman, Saskia hanyalah figuran yang dengan sukarela menyediakan panggung mewah baginya, lalu didepak tanpa perlu kata pamit saat lampu panggung itu padam.
Saskia menutup ponselnya. Di hari kelahirannya, ia tidak merayakan pertambahan usia, melainkan merayakan kematian sebuah harapan. Ia sadar, pengorbanan sebesar apa pun tak akan pernah cukup untuk membangun rumah di hati seseorang yang memang ingin tetap kosong.
Malam itu, hujan turun tipis, sedingin hati Saskia saat ia berdiri di depan pagar rumah Arman. Tanpa kata pembuka, ia menyodorkan layar ponselnya—tangkapan layar komentar Arman yang menyebut dirinya "jomblo".
Arman hanya melirik sekilas, lalu menghela napas panjang, seolah-olah kehadiran Saskia adalah gangguan kecil di jadwal sibuknya.
"Maksudnya apa, Man?" suara Saskia bergetar, menahan tangis yang sudah di ujung mata. "Kita nggak pernah putus. Bahkan Desember kemarin, aku buatkan pesta yang paling mewah buat kamu. Semua keluarga kita ada di sana!"
Arman menyandarkan tubuhnya di pintu, menatap Saskia dengan pandangan kosong. "Pesta itu... kamu yang mau, kan? Bukan aku yang minta. Kamu yang sibuk sendiri, Sas."
Saskia terperangah. "Tapi kamu menikmatinya! Kamu tersenyum! Dan sekarang, di hari ulang tahunku, kamu bahkan nggak ngucapin sepatah kata pun. Malah bilang ke saudara-saudaramu kalau kamu jomblo?"
Arman terkekeh sinis, sebuah tawa yang merobek sisa-sisa harga diri Saskia. "Ya memang benar, kan? Di hatiku, aku sudah jomblo sejak lama. Kamu saja yang terlalu bersemangat menjaga hubungan yang sebenarnya sudah mati. Aku diam karena aku kasihan melihat pengorbananmu yang... terlalu berlebihan."
"Kasihan?" bisik Saskia pilu. "Jadi selama ini aku hanya dianggap beban yang kamu beri rasa kasihan?"
"Anggap saja begitu," jawab Arman dingin sambil mulai menutup pintu. "Terima kasih buat pestanya tahun lalu. Tapi tolong, jangan datang lagi. Selamat ulang tahun, Saskia. Semoga kamu menemukan orang yang mau merayakanmu, karena aku... aku tidak pernah ingin melakukannya."
BRAK!
Pintu tertutup rapat. Saskia berdiri mematung di bawah rintik hujan. Tidak ada pelukan, tidak ada penjelasan, apalagi permintaan maaf. Di hari ulang tahunnya, hadiah yang ia terima adalah kenyataan bahwa selama bertahun-tahun, ia mencintai bayangan yang ia ciptakan sendiri.
Saskia berbalik, berjalan menjauh dengan langkah gontai. Ia sadar, ia tidak hanya kehilangan Arman, tapi ia juga telah kehilangan dirinya sendiri karena terlalu sibuk mencintai seseorang yang bahkan tidak pernah melihatnya ada.