Hari ini orang - orang pergi berlibur, seperti biasa orang-otang dan kekasih nya piknik ke daerah yang terdekat dirumah
Persiapan apa saja, plastik, kue, jus dan aneka makanan untuk sarapan di danau
Chika :" Jalan keluar sekitar 500 meter dari rumah "
Okta:" Keluar yuk, hari minggu lelah dan suntuk dirumah terus"
Chika:" Kita ke depan duduk - duduk di danau yuk "
Okta :" Hayuk, besok ada acara gak? " Hari ini piknik dan kita bicarakan tentang minggu depan kemana lagi "
Chika:" Jangan marah ya kita hanya bercanda "
Okta dan chika pun menggelar alas nya disamping danau dan menata makanan yang ingin dimakan untuk sarapan mereka
Lalu chika dan okta makan sambil mendengarkan nyanyian burung diatas langit
Lalu chika sangat ketakutan karena tiba -tiba mendung
Kami pun membereskan semua dan kami pulang kerumah
Malamnya chika merasa tu buhnya panas. Kepalanya berdenyut, tenggorokannya kering. Tapi ia tetap memaksa bangun untuk shalat Isya dan Tarawih di ru mah.
“Bun, kenapa?” tanya okta khawatir.
“Gapapa,” jawab chika cepat. “Cuma capek.”
Naya menatap ibunya lama.
“Bunda bohong,” katanya polos. “Bunda pucat.”
Chika tersenyum tipis. “Anak kecil gak boleh suudzon.”
Namun saat berdiri, pandangannya berkunang. Kakinya goyah.
“Bun!” refleks memegang lengannya.
“Astagfirullah…” chika terduduk di lantai.
Tu buhnya menggigil, keringat dingin membasahi kening.
“Bunda jangan sa kit…” suara naya adiknya chika mulai bergetar.
“Ambilin air… ya,” ucap naya lemah.
berlari ke dapur. Tangannya gemetar saat menuang air.
“Bunda, minum.”
Okta meminumnya sedikit, lalu memejamkan mata.
“Bunda istirahat aja besok,” kata Raka pelan.
“Jangan kerja.”
Naya membuka mata.
“Kalau Bunda gak kerja… kita makan apa?”
Okta terdiam.
Naya meme luk ibunya erat.
“Naya gak apa-apa gak jajan.”
Kalimat itu menghan tam hati chika lebih keras dari sak it di tu buhnya.
Ia mengusap punggung an aknya.
“Bunda minta maaf…”
Malam makin larut. Demam chika naik. mengompres dahi ibunya dengan kain basah—tangan kecil yang belajar dewasa terlalu cepat.
“
Saat sahur tiba, naya tetap bangun dan memasak untuk mereka bertiga sahur dengan lauk yang sederhana,
"Nak ayo bangun, kita sahur dulu yuk." Ucap naya membangunkan kedua anaknya.
"Iya Bun, Bunda gimana udah sehat kah? Kalau Bunda sa kit nanti jangan kerja ya biar okta aja hari ini yang mulung, ini juga hari minggu okta kan ga sekolah" kata si sulung okta yang masih kelas 6 SD tapi dipaksa dewasa oleh keadaan.
"Iya Bun, nanti Naya juga bantuin kakak mulung sambil jalan - jalan biar ga kerasa kalau puasa Bun." Kata Si bungsu juga mau ikutan kakaknya.
"Trimakasih ya nak,tapi kalian diru mah aja ya biar bunda yang kerja cari uang, tugas kalian kan cuman belajar nak, sekolah yang pinter biar besarnya bisa jadi orang sukses bisa membantu sesama yang lagi kesusahan ya nak." Ucap Alya sambil meme luk an aknya dan tak terasa air mata membasahi pipinya, terharu melihat anak-anak tumbuh dengan rasa empati yang luar biasa.
Setelah sholat shubuh naya kembali tidur sebentar karna merasa ba dannya tidak sehat, naya terbangun dengan kepala berat. Langit-langit rum ah kontrakan kecilnya terlihat buram.
“Naya…” suaranya serak.
“Bunda bangun?” Naya langsung mendekat, wajah kecilnya cemas. “Bunda jangan bangun dulu…”
Okta berdiri di dekat pintu, memegang gelas air.
“Bu, minum dulu… tadi bunda pingsan. Aku sama Naya takut banget.”
Air mata Naya jatuh.
“Bun… nanti buka puasa gimana?”
Pertanyaan itu seperti mena mpar kenyataan.
Di dapur cuma ada segenggam beras dan sedikit garam.
Bukannya menjawab Bu RT malah balik bertanya karna lihat naya bawa tas.
"Walah Bu, ngerepotin aja, trimakasih banyak ya bu."
"Yaudh naya, kalau begitu budhe pamit dulu ya."
"Njeh bu hati-hati trimakasih sekali lagi Bu."
"Alhamdulillah ya nak kita hari ini dapat rejeki."
"Iya Bun, Naya jadi bisa buka puasa sama ayam goreng deh."
" Allhamdulilah udah adzan nak, ayo kita minum dulu setelah itu kita sholat, baru deh kita makan nasi ayam ini." Ucap naya sambil tersenyum.