Pagi itu aku bangun seperti biasa.
Seragam sekolah sudah tergantung di kursi, buku-buku berserakan di meja belajar. Tapi ada satu hal yang berbeda.
Sebuah amplop putih tergeletak di atas meja. Aku yakin semalam tidak ada itu.
Aku mengambilnya. Tidak ada nama pengirim.
Hanya satu tulisan di depan,
“Untuk diriku di usia 17 tahun.”
Tanganku langsung dingin.
Karena umurku… memang 17 tahun. Aku membuka amplop itu perlahan. Di dalamnya ada selembar kertas.
Tulisan tangannya sangat familiar. Karena itu… tulisanku sendiri.
Isi surat itu singkat.
Hai.
Jika kamu membaca ini, berarti rencanaku berhasil. Jangan kaget. Aku adalah kamu, sepuluh tahun dari sekarang. Aku tidak punya banyak waktu.
Tapi ada tiga hal yang harus kamu lakukan jika ingin masa depanmu berubah.
Aku menelan ludah.
Ini pasti lelucon.
Tapi jantungku tetap berdetak cepat saat membaca bagian selanjutnya.
Pertama.
Jangan datang ke pesta ulang tahun Arga minggu depan.
Aku mengernyit.
Arga memang mengundangku ke pestanya minggu depan. Tapi kenapa surat ini tahu?
Kedua.
Tolong jaga persahabatanmu dengan Lila.
Kamu akan kehilangan dia karena kesalahanmu sendiri.
Aku langsung menoleh ke foto di meja. Foto aku dan Lila saat kelas 10. Kami selalu bersama sejak SMP. Mustahil aku kehilangan dia.
Ketiga.
Berhenti mengejar seseorang yang tidak pernah benar-benar melihatmu.
Tanganku berhenti.
Di bagian bawah kertas tertulis satu nama.
Rian.
Jantungku seperti berhenti.
Rian adalah orang yang kusukai sejak lama.
Bagaimana surat ini bisa tahu semuanya?
Aku membaca bagian terakhir.
Tulisan tangannya mulai terlihat terburu-buru.
Aku tidak bisa menjelaskan semuanya. Tapi jika kamu mengabaikan surat ini, hidupmu akan berubah menjadi sesuatu yang kamu sesali.
Tolong… percaya padaku. Karena aku adalah kamu.
Di bawahnya ada tanda tangan.
Namaku.
Dan sebuah tanggal.
10 tahun dari sekarang.
Seminggu kemudian, undangan pesta Arga datang lagi.
Aku memegangnya lama... Aku hampir tertawa.
Bagaimana mungkin aku percaya pada surat misterius seperti ini? Tapi sesuatu di dalam diriku… ragu.
Akhirnya aku memutuskan tidak datang.
Malam pesta itu terjadi kecelakaan besar.
Mobil Arga menabrak pembatas jalan saat perjalanan pulang. Beberapa orang yang ikut pesta ada di dalam mobil itu.
Termasuk Rian.
Tanganku gemetar saat membaca berita itu di ponsel. Kalau aku datang… mungkin aku juga ada di mobil itu. Aku langsung teringat surat itu.
Hari berikutnya aku menemui Lila.
“Kalau suatu hari kita bertengkar… kamu janji tidak akan meninggalkanku ya?” kataku tiba-tiba.
Dia tertawa.
“Kamu aneh banget hari ini.”
Aku hanya tersenyum.
Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi.
Malam itu aku kembali membaca surat itu.
Ada satu kalimat kecil di bagian bawah yang sebelumnya tidak kulihat.
Tulisan itu lebih kecil.
Seperti ditambahkan belakangan. Kalau kamu membaca ini… berarti kamu berhasil mengubah masa depan kita.
Air mataku jatuh perlahan.
Ternyata benar.
Surat ini datang dari masa depan.
Dari diriku yang sudah mengalami semuanya.
Dan sekarang… Aku punya kesempatan untuk menjalani hidup yang berbeda.
Jika masa depan bisa mengirim satu pesan saja ke masa lalu… Mungkin itu bukan untuk mengubah dunia. Tapi untuk menyelamatkan satu kehidupan.
Kehidupan kita sendiri.