Aku, Intiara Puteri, adalah wanita yang hidup di balik layar monitor. Bagiku, kata-kata adalah napas, dan kesunyian kamar adalah semesta yang paling aman. Sebagai penulis online, aku terbiasa menciptakan dunia, namun tak pernah menyangka akan terjebak dalam satu dunia yang melompati logika waktu.
Semua bermula dari sebuah riset tentang naskah kuno Eropa di perpustakaan digital terlarang. Entah tombol apa yang kutekan, atau frekuensi apa yang selaras dengan detak jantungku, tiba-tiba layarku berpendar perak. Cahaya itu menarikku keluar dari kamar kos sempit di Jakarta, melemparku ke sebuah taman berkabut di pinggiran kota tua Eropa, ratusan tahun dari masa sekarang.
Di sanalah aku bertemu Max. Seorang pria dengan mata biru sedalam samudra dan pembawaan tenang yang kontras dengan kekacauan di kepalaku. Ia bukan sekadar pria Barat biasa; ia adalah "penjaga gerbang" yang juga terjebak dalam anomali waktu yang sama denganku. Introvert dalam diriku biasanya akan lari, namun di hadapan Max, jiwaku merasa telah pulang.
Kami menghabiskan "waktu yang tak tercatat" untuk memahami mesin-mesin kuno dan rahasia semesta agar bisa kembali ke masa depan yang stabil. Dalam perjalanan lintas dimensi itu, Max melihat sesuatu yang lebih indah dari sekadar sains: ia menemukan kedamaian dalam lantunan doa-doa pendek yang sering kuucapkan saat kami terdesak.
Hidayah itu datang seperti cahaya fajar di tengah badai ruang-waktu. Sebelum kami berhasil melompat kembali ke tahun di mana aku seharusnya berada, Max memilih untuk bersyahadat. Di bawah langit yang warnanya tak pernah ada dalam buku sejarah, ia mengganti namanya menjadi Ahmad. Ia melepaskan identitas lamanya di masa lalu demi masa depan bersamaku.
Kini, aku adalah seorang time traveler dalam arti yang sesungguhnya. Kami berhasil menetap di masa kini, namun jiwa kami tetaplah petualang antar-era. Tak ada lagi kesunyian yang dingin, karena di sampingku ada Ahmad, pasangan halalku yang telah melewati ribuan tahun cahaya hanya untuk menggenggam tanganku.
Kebahagiaan kami kini lengkap dengan kehadiran seorang putri kecil yang kami beri nama cahaya. Ia mewarisi kecerdasan ayahnya dan daya imajinasi ibunya. Terkadang, saat menatap matanya, aku melihat kilasan masa depan—mengingatkanku bahwa jodoh memang rahasia Tuhan yang tak terbatas oleh jarak, negara, bahkan waktu.