Fitrilia Yuleha, atau yang akrab disapa Iffil, menatap nanar jendela bus yang membawanya pergi dari kampung halaman. Di dadanya, sesak luar biasa menghimpit saat terbayang wajah mungil Akbar, putra semata wayangnya yang masih duduk di bangku TK. Akbar adalah satu-satunya alasan Iffil sanggup berdiri tegak setelah badai rumah tangganya karam.
Perceraian dengan Owen Petra meninggalkan luka yang menganga. Owen, pria itu lebih mencintai wanita lain daripada keluarganya sendiri, pergi begitu saja. Tekad Iffil bulat: ia harus mengubah nasib. Ia tak ingin Akbar tumbuh dalam kemiskinan dan bayang-bayang ayahnya yang hobi bergonta-ganti pasangan.
Langkah kaki Iffil terhenti di sebuah supermarket besar di Kota Teh Obeng. Di sana, ia diterima bekerja. Kehidupan awalnya di perantauan berjalan lurus dan penuh disiplin. Iffil hidup hemat; setiap lembar rupiah hasil keringatnya selalu ia amplopkan untuk dikirim ke kampung. Di sana, kedua orang tuanya menjaga Akbar dengan kasih sayang penuh. "Untuk sekolah Akbar," bisiknya setiap kali menyetor uang di kantor pos.
Namun, keteguhan hati itu mulai retak saat sosok Akhiar Donizwara muncul. Pria yang akrab dipanggil Idon itu adalah seorang pemuda tampan dengan senyum semanis jagung muda. Idon pandai bicara, penuh perhatian, dan membuat Iffil merasa kembali menjadi gadis remaja. Dunia Iffil yang dulunya hanya berisi rak supermarket dan kerinduan pada anak, kini beralih menjadi dering telepon dari Idon.
Cinta buta itu perlahan menggerogoti tanggung jawabnya. Amplop-amplop yang biasanya terbang ke kampung, kini berpindah ke meja kafe dan bioskop untuk menyenangkan sang "brondong". Kabar dari kampung tentang Akbar yang mulai menunggak biaya sekolah dan kedua orang tuanya yang sakit-sakitan hanya dianggap angin lalu. Iffil telah mabuk oleh kasih sayang semu Idon.
Waktu berlalu, petaka pun tiba. Kabar duka tersiar dari kampung: kedua orang tua Iffil meninggal dunia dalam waktu yang berdekatan karena usia dan sakit yang tak terobati. Di saat yang sama, Idon mendesak Iffil untuk segera meresmikan hubungan mereka. Tanpa pikir panjang dan tanpa menengok pusara orang tuanya, Iffil memilih menikah dengan Idon di perantauan.
Akbar, bocah kecil yang dulu dijanjikan masa depan cerah, kini sebatang kara. Karena ibunya telah sibuk dengan kehidupan barunya bersama suami muda dan tak lagi peduli, Akbar yang malang akhirnya harus berpindah tangan ke sebuah panti asuhan. Kamar panti yang dingin menjadi saksi bisu betapa cinta musim jagung sang ibu telah melenyapkan tempatnya di dunia.