Bagi Try Tantri, pertemuan di hari Valentine itu terasa seperti takdir yang manis. Wawat bukan sekadar pria; dia adalah pelindung. Sebagai fotografer, Wawat memiliki tatapan yang teduh, khas seorang pria dewasa yang sudah selesai dengan ego dunianya. Gedung mewah yang dipesannya malam itu menjadi saksi bisu betapa Try merasa sangat dicintai.
Bulan-bulan berganti, kelekatan mereka semakin menjadi. Try merasa telah menemukan pelabuhan terakhirnya. Namun, sebuah pengakuan di hari kasih sayang setahun berikutnya meruntuhkan segalanya. Sambil tertunduk, Wawat mengaku bahwa ada wanita lain yang secara hukum masih memilikinya.
"Aku akan memilihmu, Try. Aku akan mengakhiri semuanya," janji Wawat malam itu.
Try terdiam dalam dilema yang menyiksa. Dia mencintai Wawat, tapi dia benci pengkhianatan. Wawat membuktikan ucapannya; dia mengurus perceraian, meninggalkan masa lalunya demi memulai lembaran baru dengan Try. Namun, saat Wawat datang dengan tangan terbuka dan status barunya, Try justru melangkah mundur.
Bayangan istri Wawat dan rasa bersalah karena menjadi alasan hancurnya sebuah keluarga terus menghantui Try. Di titik itulah Try sadar, dia tidak bisa mencintai pria yang mampu meninggalkan komitmen lamanya begitu saja. Dia membuang Wawat dari hidupnya.
Cerita berakhir di sebuah sudut kota. Wawat duduk sendirian dengan kameranya, memotret keramaian tanpa tujuan, kehilangan rumah dan kehilangan cinta. Sementara Try, terus berjalan dengan hati yang tak lagi bisa percaya pada janji romantis di hari Valentine.