"Pulang selalu malam, Ren. Bapak takut kau terjerat obat- obatan terlarang. Kuliah itu untuk masa depan, bukan untuk hura-hura dengan pergaulan tidak jelas," suara Bapak berat, bergetar di balik pintu kamar yang tak sepenuhnya tertutup.
Aku, Allan Reno Randra—yang lebih akrab dipanggil Aren—hanya terdiam di balik tembok ruang tamu. Bau minyak kayu putih yang biasa tercium dari tubuh Bapak kini bercampur aroma obat-obatan yang menyengat. Sejak Ibu meninggal, Bapak adalah satu-satunya duniaku. Ia memilih tidak menikah lagi, mendedikasikan sisa hidupnya untuk melihatku memakai toga.
Namun, Bapak tidak tahu bahwa kepulanganku yang larut bukan karena pesta. Aku hanya tidak sanggup pulang ke rumah yang terlalu sepi ini. Aku kehilangan dua orang sekaligus: Ibu yang pergi selamanya, dan Dovan, sahabat karibku sejak kecil.
Dovan adalah tempatku berbagi segalanya, sampai ia mengambil Deya Annastsya dariku. Deya, perempuan yang tadinya adalah tempatku bersandar setelah Ibu tiada, kini bersanding dengan sahabatku sendiri. Kami putus hubungan total. Pengkhianatan itu menciptakan lubang besar di dadaku, membuatku lebih memilih duduk berjam-jam di taman kota sendirian hingga larut, hanya untuk menghindari rasa sepi di rumah.
Malam itu, aku memberanikan diri masuk ke kamar Bapak. Wajahnya pucat. Di atas meja nakas, berserakan tumpukan surat tagihan rumah sakit yang selama ini ia sembunyikan dariku.
"Aku tidak hura-hura, Pak," bisikku sambil menggenggam tangannya yang mulai mendingin. "Aku cuma... tersesat mencari jalan pulang."
Bapak tersenyum tipis, matanya sayu menatap foto Ibu di dinding. "Jangan lama-lama tersesatnya, Ren. Bapak sudah mau menyusul Ibu. Jangan sampai saat Bapak pergi, kau belum menemukan dirimu sendiri."
Malam itu menjadi percakapan terakhir kami. Bapak pergi dalam tidurnya, meninggalkan aku dalam keheningan yang paling pekak.
Di pemakaman, dari kejauhan, aku melihat Dovan dan Deya berdiri menatapku. Mereka ingin mendekat, tapi jarak yang tercipta sudah terlalu lebar. Kini aku benar-benar pulang tepat waktu, namun tidak ada lagi suara Bapak yang menyambutku di balik pintu.