Namaku Resmira Ayub. Panggil saja Ira. Sejak memutuskan resign dari pekerjaan lama, sifatku berubah. Aku menjadi dingin, sedingin sisa kopi di meja yang terlupakan. Ada satu nama yang menjadi alasan di balik itu semua: Ikrar Ramadonal.
Pertemuan terakhir kami tahun lalu adalah sebuah bencana. Dia mengajakku kencan, memintaku memesan ayam goreng di sebuah gerai cepat saji. Aku masih ingat bagaimana dia makan dengan rakus, lalu tanpa malu membungkus sisa ayam yang tak habis. "Buat sarapan besok," katanya tanpa dosa.
Puncaknya adalah saat di kasir. Dengan gaya sombong, dia membuka dompetnya lebar-lebar di depanku—pamer, seolah isinya jutaan. Nyatanya? Hanya tumpukan uang receh logam dan ribuan kusam.
"Kamu yang bayar dulu, ya?" ucapnya santai.
Aku terpaku. Harga diriku seperti dihempas ke lantai berminyak gerai itu. Bagaimana mungkin laki-laki yang mengajak jalan justru membiarkan teman kencannya membayar semuanya? Hari itu, aku pulang dengan rasa mual yang lebih hebat daripada keracunan makanan.
Tahun-tahun berlalu. Aku sudah mengubur memori itu, meski status kami sebenarnya tidak pernah jelas. Bagiku, dia hanyalah serangga yang lewat. Namun bagi Ikrar, dia seolah masih merasa memilikiku.
Siang itu, Dina mengajakku ke Plaza. Di tengah keramaian, sosok itu muncul lagi. Ikrar. Dia tersenyum lebar ke arahku, melambaikan tangan seolah kami adalah sepasang kekasih yang baru terpisah satu jam.
"Ira! Sayang, apa kabar?" sapaannya membuat bulu kudukku meremang.
"Mokondo," umpatku pelan, hampir tak terdengar.
Aku bersiap untuk memaki, mengeluarkan semua rasa dingin yang kusimpan. Namun, langkahku terhenti saat melihat seorang wanita paruh baya di belakangnya. Wanita itu tampak lesu, mengenakan pakaian kusam yang sudah pudar warnanya.
"Ira, kenalin, ini Ibuku," suara Ikrar mendadak melunak, tidak ada lagi nada sombong itu. "Ibu ingin ketemu kamu. Dia tahu aku sering cerita tentang kamu... tentang bagaimana kamu dulu 'membantu' aku makan saat aku benar-benar tak punya uang sepeser pun."
Aku terdiam. Marahku membeku.
Si wanita tua itu meraih tanganku, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Nak Ira. Ikrar bilang kamu satu-satunya orang yang tidak merendahkannya saat dia jatuh miskin dan kehilangan kerjaan dulu. Dia simpan tulang ayam sisa makan kalian hari itu... katanya itu pemberian dari perempuan paling baik yang pernah dia kenal. Dia sengaja pamer dompet kosong dulu karena ingin tahu, apa masih ada orang tulus di dunia ini... dan dia bilang itu kamu."
Duniaku serasa berputar. Ikrar tidak mendekat, dia hanya berdiri di sana dengan senyum getir.
"Maafkan aku yang memalukan itu, Ra. Aku hanya ingin memastikan satu hal sebelum aku pergi jauh," kata Ikrar pelan. "Sekarang aku tahu, aku memang tidak pantas untukmu. Bukan karena aku tidak punya uang, tapi karena aku sudah menghancurkan pandanganmu tentang ketulusan."
Hari itu di Plaza, aku tidak jadi memaki. Aku hanya berdiri mematung saat melihat mereka berjalan menjauh, hilang di balik pintu kaca. Aku sadar, kopi yang dingin tidak akan pernah bisa hangat lagi, sama seperti hatiku yang kini tidak hanya dingin, tapi juga patah oleh penyesalan yang terlambat. Ternyata, akulah yang gagal memahami sebuah ujian harga diri.