Ruang kerja itu biasanya adalah tempat Satria Maulana merasa paling berkuasa. Di balik meja mahoni yang harganya setara dengan satu unit rumah subsidi, ia mendikte ekonomi, memutus nasib ribuan karyawan, dan menjadi wajah dari kemapanan kelas atas Jakarta. Namun malam ini, lampu kristal yang menggantung di plafon terasa seperti ribuan jarum yang menusuk matanya.
Di hadapannya, Kevin Septian—paman yang selalu ia benci karena sifat parasitnya—tersenyum dengan binar kemenangan yang menjijikkan. Di atas meja, lembaran-lembaran kertas kusam dan sebuah foto usang menjadi noda yang merusak estetika ruangan mewah tersebut.
"Kau lihat wajah wanita ini, Satria?" Kevin menunjuk foto seorang wanita dengan riasan menor dan pakaian yang terlalu berani. "Ini Isna. Cantik, bukan? Dia adalah primadona di sebuah gang sempit di kawasan Jakarta Utara tiga puluh tahun lalu. Dan kau... kau adalah 'produk sampingan' dari salah satu malam kerjanya."
Satria merasakan dunianya berputar. Oksigen seolah mendadak hilang dari ruangan itu. "Keluar, Kevin," desisnya, namun suaranya bergetar hebat.
"Malu? Tentu saja. Seorang CEO Maulanacorp yang diagung-agungkan media ternyata anak seorang pelacur yang dibuang ke panti asuhan karena dianggap beban," Kevin tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan pisau di atas piring kaca. "Kak Kumala membelimu seperti membeli boneka porselen karena dia mandul. Kau bukan pewaris, Satria. Kau hanyalah komoditas."
Pintu ruangan terbanting terbuka. Kumalasari masuk dengan wajah pucat pasi. Ia melihat dokumen itu dan seketika tangannya gemetar. "Kevin! Apa yang kau lakukan?! Keluar dari sini sekarang!" teriaknya histeris.
Kevin mengangkat bahu dengan santai. "Aku hanya mengembalikan keponakanku ke realitas, Kak. Hartamu terlalu banyak untuk dikelola oleh seseorang yang bahkan tidak tahu siapa ayahnya." Setelah melemparkan tatapan menghina terakhir, Kevin melangkah keluar, meninggalkan keheningan yang lebih mematikan daripada ledakan bom.
Kumalasari mendekati Satria, mencoba menyentuh bahu pria yang ia besarkan dengan segala kemewahan itu. "Satria, Sayang... dengarkan Mama. Itu tidak mengubah apa pun. Kau tetap putraku—"
"Jangan sentuh aku!" Satria menyentak tangan Kumalasari. Matanya merah, bukan karena air mata, tapi karena amarah dan rasa hina yang membakar dari dalam. "Putra? Kau bilang aku putramu? Kau membeliku! Kau menjadikanku tameng agar kau tidak ditendang dari keluarga Maulana karena tidak bisa memberi keturunan!"
"Bukan begitu, Nak... Mama menyayangimu lebih dari nyawa Mama sendiri—"
"Cukup!" Satria berteriak, suaranya menggema di dinding-dinding kedap suara. "Semua prestasiku, semua kerja kerasku, semua harga diriku... ternyata dibangun di atas kebohongan yang menjijikkan. Aku ini apa? Sampah yang kau beri label emas? Aku anak pelacur, Ma! Darah yang mengalir di tubuhku ini berasal dari tempat paling rendah di kota ini!"
Satria menyapu semua benda di atas mejanya hingga berantakan di lantai. Ia tidak bisa menerima alasan apa pun. Baginya, kasih sayang Kumalasari kini terasa seperti transaksi bisnis yang dingin. Ia merasa seperti barang curian yang dipoles agar laku di pasar kelas atas.
Malam itu, Satria menghilang. Ia memacu mobilnya tanpa tujuan, mengabaikan ratusan telepon dari Dania Evita. Dania—wanita yang seharusnya menjadi pelabuhan terakhirnya. Bagaimana ia bisa berdiri di samping putri Brotosuseno dengan membawa label "Anak Pelacur"? Ia membayangkan wajah Brotosuseno yang angkuh saat mengetahui calon menantunya lahir di tempat tidur remang-remang.
Kevin tidak berhenti di sana. Ia mulai menyebarkan bisikan-bisikan beracun ke telinga Dania dan ayahnya. Ia mencoba merusak fondasi kepercayaan mereka, mengatakan bahwa Satria adalah penipu ulung yang menyembunyikan genetik "kriminal" dalam dirinya.
Satria berakhir di sebuah hotel murah di pinggiran kota, tempat yang jauh dari kemewahan yang biasa ia hirup. Ia duduk di lantai yang dingin, menatap botol-botol minuman keras yang sudah kosong. Guncangan batinnya terlalu dahsyat. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat bayangan Isna—ibu kandungnya yang tak ia kenal—sedang tertawa di bawah lampu merkuri. Ia merasa dikhianati oleh takdir, dikhianati oleh Kumalasari yang menyembunyikan kebenaran, dan dihancurkan oleh Kevin yang kini sedang berpesta di atas penderitaannya.
"Aku tidak punya siapa-siapa," bisiknya pada kegelapan. "Aku tidak punya akar. Aku hanyalah bayangan."
Ia mengambil sebilah pisau lipat yang selalu ia bawa di tas kerjanya untuk membuka surat. Matanya menatap tajam pada urat nadi di pergelangan tangannya yang selama ini terbungkus jam tangan seharga miliaran rupiah. Jam tangan itu kini terasa seperti borgol.
Pikirannya melayang pada Dania. Apakah Dania akan menangis jika ia pergi? Ataukah Dania akan merasa lega karena terbebas dari skandal yang memalukan? Ia merasa dirinya adalah aib berjalan. Jika ia mati, maka rahasia itu akan terkubur bersamanya, dan Maulanacorp bisa jatuh ke tangan siapa pun—ia tidak peduli lagi.
Satria melangkah menuju balkon kamar hotel di lantai dua puluh. Angin malam menusuk tulang, namun ia merasa mati rasa. Ia melihat ke bawah, ke arah jalanan yang tampak seperti aliran sungai cahaya yang tak berujung. Satu langkah lagi, dan semua rasa malu ini akan hilang. Satu langkah lagi, dan ia tidak perlu lagi menghadapi tatapan kasihan atau hinaan orang-orang.
Di dalam saku jasnya, ponselnya bergetar tanpa henti. Nama "Dania" berkedip di layar, tapi Satria tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengangkatnya. Ia merasa sudah terlalu kotor untuk disentuh oleh kesucian Dania.
Ia berdiri di tepian balkon. Kakinya gemetar, namun pikirannya kosong. Dunia di bawah sana seolah memanggilnya, menawarkan keheningan yang kekal, jauh dari intrik perusahaan, jauh dari kebohongan Kumalasari, dan jauh dari bayang-bayang Isna.
Tepat saat ujung sepatunya meninggalkan beton balkon, pintu kamar hotel didobrak paksa dari luar. Satria menoleh sekilas, namun gravitasi sudah mulai mengambil alih tubuhnya yang lelah.
"Satria! Jangan!" sebuah teriakan histeris memecah kesunyian malam.
Tubuh Satria melayang di udara, antara hidup dan mati, antara penyesalan dan keinginan untuk bebas. Dan di detik-detik yang terasa seperti keabadian itu, hanya ada satu pertanyaan yang tersisa: Apakah ia akan benar-benar menyentuh tanah, ataukah takdir masih ingin mempermainkannya lebih lama lagi?
---