Di malam saat takbir berkumandang, semua orang sibuk mempersiapkan hari raya. Dari rumah ke rumah terdengar suara panci dan wajan yang saling bersahutan. Ada yang menyiapkan lontong, memasak opor ayam, membuat sambal goreng, dan menata kue-kue di meja ruang tamu untuk menyambut tamu esok hari.
Begitu juga di rumahku.
Ibu terlihat sibuk di dapur, memasak opor dan menyiapkan berbagai hidangan untuk besok. Aroma santan dan bumbu rempah memenuhi seluruh rumah.
Sementara itu, di belakang rumah, di tungku kayu yang menyala hangat, aku duduk bersama bapak. Kami sedang merebus ketupat dalam panci besar. Api kayu berderak pelan, dan asap tipis naik ke udara malam yang dipenuhi gema takbir.
Obrolan kami malam itu terasa panjang. Aku anak perempuan yang tak pernah berhenti mengoceh ketika bersamanya, bertanya banyak hal tak penting yang anehnya tak pernah membuat beliau bosan menjawab.
“Menurut bapak, besok aku pakai baju yang pink atau yang biru?” tanyaku.
“Yang paling kamu suka,” jawabnya.
“Yang paling baru aja, yang pink!”
Bapak tertawa kecil.
“Wah, pasti cantik sekali anak bapak.”
Aku tersenyum bangga, lalu bertanya lagi,
“Lebih cantik aku atau ibu?”
Bapak tersenyum sambil mengaduk panci ketupat.
“Masih paling cantik anak bapak. Tapi jangan bilang-bilang ke ibu ya, nanti ibu marah terus lebarannya nggak jadi.”
Aku mengangguk sambil tertawa bersamanya. Bagiku saat itu yang penting adalah mendapat pujian darinya
Tak lama kemudian bapak berkata lagi,
“Besok kalau sudah salat Idul Fitri, jangan lupa salim sama ibu, ya. Minta maaf yang bener.”
"Tapi ibu galak, suka marah-marah. Aku lebih sayang bapak.”
Bapak langsung menoleh ke arahku, lalu tersenyum lembut.
“Nggak boleh begitu. Ibu itu marah bukan karena benci, tapi karena sayang. Ibu capek ngurus rumah, ngurus kalian semua. Kalau ibu nggak sayang, ibu nggak akan repot-repot begitu.”
Aku hanya diam mendengarkan.
Bapak melanjutkan dengan suara pelan,
“Kalau suatu hari bapak nggak ada, kamu harus jaga ibu, ya. Temani ibu. Jangan bikin ibu sedih.”
Aku mengangguk tanpa benar-benar memahami arti kata-katanya saat itu.
Kami kembali diam. Hanya suara takbir dari masjid dan kayu yang terbakar menemani malam itu.
Saat itu aku tidak pernah menyangka…
bahwa suatu hari, kenangan sederhana di depan tungku kayu itu tidak akan pernah terulang lagi sejak Tuhan meraihnya dalam pangkuan
Setelah tahun-tahun berlalu, tungku itu sudah ibu rapikan. Kayu-kayu yang dulu tersusun di sampingnya sudah tidak ada lagi. Panci besar tempat kami merebus ketupat pun entah disimpan di mana.
Semua dibersihkan, semuanya disingkirkan.
Bukan karena ibu ingin menghapus jejak kenangan di sana,
melainkan karena setiap sudutnya terlalu penuh dengan ingatan tentang bapak.
Sekarang tempat itu sudah kosong.
Namun anehnya, setiap malam takbiran datang, kenangan itu seperti hidup kembali. Seolah ia masih duduk di sana, mengaduk panci ketupat sambil tersenyum mendengarkan ocehanku.