"Ya Alloh lindungi Mimi, Ya Alloh sayangi Mimi, Ya Alloh Jagai Mimi." Mendengar lantunan lagu yang terlontar dari Anakku, sungguh buatku terharu, tak terasa linangan airmata membasahi kedua pipiku.
Yah, dia Revan, anak bungsuku, yang begitu dekat denganku saat ini. Revan paling tidak bisa melihatku sedih ataupun menangis langsung dia memeluk dan ikutan menangis juga.
Sungguh berat rasanya, aku ingin meninggalkan mereka, perihal syarat dari keluargaku. Jika aku bercerai dengan suamiku, aku tidak boleh membawa buah hatiku.
Bukan karena keluargaku tidak sayang pada anakku, akan tetapi pengalaman dari kakaku sebelumnyalah yang membuat keputusan tersebut dibuat.
Aku memeluk erat anakku, saat rasa bimbang menggelayuti pikiranku. "Sayang, maafkan Mimi ya nak, Mimi bukan enggak sayang kamu, tapi mimi enggak bisa lagi bertahan hidup dengan Dady seperti dulu lagi." Begitulah ucapku dalam batinku.
Tak sanggup melontarnya pada anak bungsuku, maklumlah dia masih sangat kecil belum lima tahun usianya.
"Mimi kenapa mimi nangis?." Tanya Revan memelukku semakin erat.
"Enggak sayang, Mimi kelilipan, Revan bobo ya nak sudah malam, nanti besok Revan bangun pagi main lagi sama Arkan."
"Iya Mimi, tapi aku belum bisa tidur, di tutup dari tadi mataku masih belum ngantuk Mimi."
Aku tersenyum melihat kelakuan anak bungsuku saat itu masih begitu polosnya. Sementara Rasya dan Reskia sudah pada tidur.
Begitulah aku disetiap malam tak bisa jika tidak menangis, merutuki nasibku. Hidup bersama dengan suamiku namun sudah tak sejalan.
Sudah berulang kali aku meminta talaq tapi tidak juga digubris, sementara aku masih berusaha bertahan meski hati sudah sangat terluka.
Acapkali anak sulungku ingin diantar sekolah, ada saja alasan yang membuatku kesal. Bahkan selalu saja ketika kamu membutuhkan Mas Irvan ada tapi mas Irvan selalu saja dengan nada ketus menolak mentah mentah, terkadang ada saja alasan sibuk sibuk dan sibuk.
Anakku sampai bilang, "Mimi, kenapa Dady, kayak gitu sih, baru saja rasanya minta tolong antar ke sekolah saja Dady selalu bilangnya sibuk."
"Sudah tidak apa, kamu pakai angkot atau jalan kaki saja kalau sepedamu belum diservis nak."
Seiring berjalannya waktu, percekcokan antara aku dan mas Irvan semakin menjadi jadi, semakin hari anakku semakin pada berani, membantah padaku. Aku hanya bisa elus dada.
Dalam hati ku berkata, "sampai kapan aku harus menjalani rumah tangga toksik kayak gini."
Pernah aku mengadu pada salah satu keluarga suami, jika aku ingin bercerai saja. Namun yang ku pikir akan mendapatkan pembelaan karna sama sama seorang wanita, ternyata semua diluar ekspektasiku.
Dia berkata, jika aku pergi, maka anak anakku akan dibawa ke panti. Dan suamiku mengiyakan dengan entengnya.
Bak tersambar petir hal itu begitu menusuk hatiku saat itu.
"Tante, aku udah enggak kuat sama Irvan, aku pengen pulang saja ke bunda."
"Ya kalo kamu mau pisah sama Irvan, terus gimana anak anak kamu Vivian?, Anak kamu masih pada kecil loh itu." Ucap Tante Rasya. Tante Jumi namanya.
"Van kenapa sih dengan kalian, Enggal bisa apa akur gitu, pake acara mau cerai segala."
"Irvan enggak pernah bilang mau cerai dari Vivian kok, dia aja yang ngotot pengen cerai terus." Jawab enteng mas Irvan pada tantenya.
"Tuh kan Vi, irvannya saja tidak mau cerai piye toh kamu malah pengen cerai."
"Gini saja van, kamu kerja saja diluar kota kek atau luar negri, kalo emang Vivian tetap ngotot pengen pergi, anak anak bawa aja ke panti." Ucap ya telak langsung membuat ku bak tersambar petir.
Aku tak menyangka kok bisa setega itu, membiarkan darah daging mereka dengan seenaknya mengatakan hal yang buatku sakit rasanya darah dagingku sendiri digituin.
Seolah tidak punya hati nurani, padahal dulu sebelum aku melahirkan buah hatiku. Mereka begitu ingin anak laki laki dari ku, tapi nyatanya anak anakku sudah dilahirkan sampai setega itu mengatakan hal yang menyakitkan hatiku saat itu.
Sejak saat itu aku jadi banyak diam dan seperlunya saja pada keluarga suamiku, sesekali aku mencatat semua hal menyakitkan itu dalam setiap gambar yang ku lukis pada sebuah canvas.
Aku berpikir saat itu, akuntidak bisa hanya berdiam diri saja, suatu saat aku akan tinggalkan semuanya bersama anakku, suatu saat nanti, kelak ku sukses dengan hasil karyaku.
Meski masih dipandang sebelah mata, aku tak memperdulikan itu semua, rezeki sudah ada yang mengatur, begitulah tekad dalam benakku.
Satu tahun, dua tahun terus ku kerjakan karya lukis ku, yang ku pamerkan di akun sosial mediaku. Dan suatu ketika sungguh takjub rasanya saat dimana ada seorang yang tertarik akan lukisanku.
Dia Lionel, seorang CEO dari perusahan yang bergerak di bidang yang sama denganku. Dia memiliki daya tarik terhadap setiap pesona dalam karyaku.
Ia pun menghubungiku dan mengajakku dalam sebuah pertemuan secara private, dan deal akhirnya aku bekerja sama dalam proyek besar bersamanya.
Langit sedang cerah cerahnya, secerah hatiku saat ini, aku memiliki geloka uang dari hasil karyaku. Yang aku tekadkan untuk menggugat cerai suamiku saat itu.
Hubunganku dengan Lionel juga sudah semakin dekat layaknya sahabat. Dan ia sangat tau bagaimana kesulitanku saat itu.
Lionel dengan sigap membantuku dalam proses perceraianku saat itu, menghubungi pengacaranya dan tak ku sangka semudah itu ketika uang sudah bicara.
Pada akhirnya ketuk palu pun sudah terjadi, aku sudah bisa bernafas lega. Keluar dari ruang lingkup yang membuatku tinggal bagaikan di neraka.
Aku sendiri tidak mau ambil pusing perkara anak anakku mereka mau tinggal dengan siapa, meski hal asuh sepenuhnya jatuh kepadaku karena usia mereka masih dibawah pengasuhan ku ibu kandungnya.
Sementara mas Irvan, masih saja dengan sikap arogannya, merasa ia lah yang paling hebat tiada tandingannya. Merasa dirinya paling banyak membantu keluarga ku. Padahal dia tidak melihat pada kakakku yang justru dalam diam ia malah lebih banyak berjasa dibandingkan dirinya yang penuh dengan perhitungan.
Tiga tahun berlalu, masa Iddah ku juga sudah selesai lama, tak ku sangka Lionel mengajakku bertemu, dan mengajak ku kencan malam itu.
Membawa buket bunga yang begitu besar dan panjang sekitar satu meter yang membuat aku tepok jidat melihatnya, "Lionel ini kamu gila ya, buket sebesar dan sepanjang ini, gimana pula aku bawanya haish.*
*Special for you, darl."
Bukan sembarang buket tapi ini buket berbentuk bunga tapi berisikan uang yang entah berapa nominalnya. Tak lama buket itu dititip lebih dulu pada anak buahnya yang sudah berjejer memegang buket sepanjang itu, mungkin bisa masuk rekor muri sepertinya.
Saat itu aku berada di Istanbul, menaiki balon udara, disitulah Lionel bersimpuh mengutarakan perasaannya padaku dan melamarku.
Aku terharu melihat ketulusannya, aku pun menjawab "ya, Lionel aku mau."
Kami berpelukan haru saat itu da Lionel mengecup dahiku tak lama berteriak, "Mommy Vivian, i love you."
Dan ketiga buah hatiku, malaikat kecilku kini tinggal bersamaku, hidup bersama Dady baru mereka.
Fin