Koridor utara nggak pernah benar-benar sepi. Tapi setiap Gavin berdiri di sana, orang-orang otomatis memilih jalan memutar. Seolah ada garis tak terlihat yang nggak boleh dilewati.
Hari ini dia bersandar di dekat jendela besar, cahaya sore menimpa sisi wajahnya. Dasi hitamnya diluruskan pelan, persis seperti kebiasaannya mengerjakan soal matematika tanpa salah satu pun angka meleset.
Seragamnya rapi, seolah lipatannya dihitung pakai penggaris.
Alana melihatnya terlalu cepat.
Refleksnya langsung menunduk, mempererat pelukan pada buku catatan penuh rumus yang sudah ia hafal setengah mati semalaman. Ia cuma ingin lewat. Lewat dan nggak dianggap ada.
Tiga langkah lagi.
Dua.
Satu—
“Berhenti, Alana.”
Suaranya nggak keras. Tapi cukup buat langkah Alana patah di tengah gerakan.
Ia mengangkat kepala pelan. Gavin sudah tidak bersandar. Sekarang berdiri tegak di depannya, jaraknya cukup dekat untuk membuat ruang pribadi terasa seperti konsep yang dilupakan.
“Lo ngehindar?” tanyanya datar.
“Nggak.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Gavin cuma diam. Matanya menyipit sedikit, seolah dia baru saja menemukan noda coretan di atas kertas putih yang seharusnya bersih sempurna.
“Besok ujian,” katanya. “Udah siap?”
Alana menegakkan bahu. “Siap.”
Detik-detik berlalu, tapi Gavin nggak berkedip sedikit pun. Suara loker yang dibanting keras di ujung lorong sama sekali nggak mengalihkan perhatian cowok itu. Dia masih terus memperhatikan Alana, diam, seolah sedang menunggu Alana melakukan kesalahan bodoh yang bisa ditertawakan dalam hati.
Gavin mengikis jarak. Langkah kecil itu cukup untuk membuat bayangannya jatuh menelan separuh wajah Alana.
Alana harus sedikit mendongak, mendadak sadar kalau postur di depannya ini terlalu dominan. Ada wangi parfum maskulin yang tajam, kontras dengan hawa AC koridor yang kering.
Tatapan Gavin turun, lalu berhenti tepat di bawah mata Alana.
“Lo kurang tidur,” ucapnya.
Alana menegang. “Bukan urusan lo.”
“Hmm.”
Gavin memiringkan kepala. Sudut matanya menyipit, seolah baru saja menemukan satu lagi bukti yang dia cari.
“Kemarin di lab kimia,” lanjutnya, suaranya tetap rata. “Eksperimen gagal lagi?”
Nafas Alana tertahan.
Jadi dia lihat.
Jari Alana memutih, mencengkeram buku sampai ujung kertasnya terlipat. Dia tidak bergerak.
“Itu bukan urusan lo juga,” balasnya, lebih pelan kali ini.
Gavin tidak tersenyum. Itu yang membuat suaranya terdengar jauh lebih tajam.
“Kalau mau jadi saingan gue, jangan rapuh di ruang kosong.”
Alana mendongak cepat. “Siapa bilang gue saingan lo?”
“Nilai lo,” jawabnya singkat. “Selisih dua poin. Itu cukup buat diperhitungkan.”
Dada Alana sesak. Bukan karena takut, tapi karena panas hati.
Gavin diam beberapa detik, lalu sedikit membungkuk.
“Tapi kalau lo gampang goyah cuma gara-gara satu percobaan gagal, jangan berharap bisa ngalahin gue.”
Gavin mengucapkannya tanpa nada. Datar, seperti sebuah kepastian yang tidak butuh dibantah.
Dan entah kenapa, itu malah bikin Alana semakin muak.
Bel berdering nyaring. Langkah kaki mulai ramai memenuhi koridor, tapi Gavin tidak bergeming.
“Besok,” katanya singkat. “Jangan bikin gue kecewa.”
Gavin berbalik. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru, seolah dia baru saja bicara dengan tembok.
Alana berdiri diam beberapa detik.
Kesal? Iya.
Tertantang? Jelas.
Sialnya, Alana justru puas. Setidaknya, Gavin menatapnya sebagai lawan, bukan korban yang perlu dikasihani.
“Oke,” gumamnya pelan. “Kalau lo mau perang nilai, kita lihat siapa yang jatuh duluan.”
Besok bukan soal nilai.
Ini soal siapa yang bakal jatuh dari puncak. Dan Alana tidak berencana jadi orangnya.