Pukul tiga pagi, dan rumah itu tidak pernah benar-benar tidur. Di kamar pojok yang berbau balsem dan sisa makanan yang tumpah, Pak Baskoro sedang berbicara dengan bayangan di sudut plafon. Suaranya serak, memaki hantu-hantu masa lalu yang menurutnya sedang mencuri sisa pensiunnya. Ia menderita skizofrenia sejak sepuluh tahun lalu, sebuah penyakit yang perlahan-lahan mengunyah kewarasannya hingga yang tersisa hanyalah cangkang manusia dengan sorot mata liar.
Andra terbangun dengan napas berat. Di sampingnya, Widya masih mematung menatap langit-langit, matanya sembab. Konflik ini bukan lagi soal siapa yang salah, tapi soal dua arah jalan yang tidak mungkin disatukan.
"Dia kambuh lagi, Dra," bisik Widya datar. Suaranya tidak lagi mengandung amarah, hanya kelelahan yang sudah mencapai sumsum tulang.
Andra menghela napas, bangkit dari tempat tidur tanpa alas kaki. "Aku harus cek. Takutnya dia menyalakan kompor lagi seperti minggu lalu."
"Sampai kapan?" Widya ikut duduk, suaranya naik satu oktav. "Sampai dia benar-benar membakar rumah ini? Atau sampai aku kehilangan akal sehatku juga?"
Andra tidak menjawab. Ia keluar kamar, menemukan ayahnya sedang berusaha membongkar ubin lantai dengan sendok makan, katanya ada "pesan rahasia dari Presiden" di bawah sana. Dengan sabar, Andra memegang bahu renta itu, menuntunnya kembali ke tempat tidur meski tangannya dicakar hingga berdarah. Inilah rutinitasnya. Inilah bakti yang menjadi jerat lehernya.
Pagi harinya, meja makan terasa seperti medan perang yang membeku. Koper-koper sudah berjajar di ruang tamu. Alena, anak gadis mereka yang baru lulus SMA, duduk menunduk. Ia adalah permata di rumah yang retak ini. Alena telah mendapatkan beasiswa penuh di Sorbonne, Paris. Widya, yang selama sepuluh tahun mengubur karier arsiteknya demi mengurus rumah tangga dan "mertua ajaibnya", akhirnya memutuskan untuk mengambil tawaran posisi manajer desain di sebuah firma di London.
"Aku sudah beli tiketnya, Dra. Dua tiket. Untukku dan Alena," ujar Widya sambil meletakkan selembar kertas di meja. "Surat cerainya sudah di meja kerjamu. Aku tidak minta harta. Aku hanya minta kebebasan."
Andra menatap istrinya, lalu beralih ke Alena. "Len, kamu tidak mau tinggal di sini dulu? Tunggu sampai kondisi Eyang stabil?"
Alena mengangkat wajahnya. Ada kasih sayang di matanya, tapi ada juga ketakutan yang dalam. "Papa, selama lima tahun terakhir, Alena tidak pernah bisa belajar dengan tenang. Alena takut pulang ke rumah karena Eyang sering berteriak bahwa Alena adalah jelmaan iblis. Alena sayang Papa, tapi Alena ingin hidup. Alena ingin melihat dunia tanpa rasa takut bahwa seseorang akan mencekik Alena saat tidur."
Kalimat itu menghantam Andra lebih keras daripada pukulan apa pun. Ia adalah seorang anak yang tidak tega membuang ayahnya ke panti jompo karena janji pada almarhumah ibunya. Namun, ia juga seorang ayah yang gagal memberikan rasa aman pada putrinya.
"Pilih, Dra," suara Widya memecah kesunyian. "Ikut kami ke Eropa. Kita titipkan Pak Baskoro di fasilitas perawatan terbaik. Aku yang akan bayar biayanya. Kita mulai hidup baru. Atau, kamu tetap di sini, membusuk bersama delusi ayahmu, dan kita selesai hari ini."
Andra menatap ke arah kamar ayahnya. Terdengar suara tawa melengking dari sana. Pak Baskoro sedang bernyanyi lagu perjuangan dengan lirik yang kacau.
"Dia ayahku, Wid. Dia yang menggendongku saat aku sakit parah dulu. Kalau aku titipkan dia ke panti, dia akan merasa dibuang. Dia akan mati dalam ketakutan," suara Andra bergetar.
"Lalu bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan Alena?" Widya berdiri, air matanya tumpah. "Kami juga manusia, Dra! Kami bukan martir untuk penyakit ayahmu! Kamu memilih masa lalu yang sudah rusak daripada masa depan yang masih bisa kita selamatkan!"
Dilema itu mencekik udara di ruangan tersebut. Andra berdiri di persimpangan yang mustahil. Jika ia pergi, ia menjadi anak durhaka. Jika ia tinggal, ia menjadi suami dan ayah yang egois.
Plot twist yang menohok terjadi saat Andra masuk ke kamar ayahnya untuk mengambil sisa pakaian kotor. Ia menemukan Pak Baskoro sedang duduk tenang di kursi goyangnya, sorot matanya mendadak jernih—sebuah momen *lucid* yang jarang terjadi pada penderita skizofrenia berat.
"Andra," panggil ayahnya lembut.
Andra tertegun. "Ya, Yah?"
"Pergilah. Bawa istrimu. Bawa cucuku," ucap Pak Baskoro. Suaranya tidak lagi serak memaki. "Aku tahu aku ini beban. Di kepalaku banyak orang bicara, tapi saat ini, mereka sedang diam. Aku melihat koper di depan. Jangan biarkan Alena kehilangan dunianya hanya karena kepalaku yang rusak."
Andra terpaku. "Ayah sadar?"
Pak Baskoro tersenyum pahit, air mata menetes di pipinya yang keriput. "Hanya sebentar. Sebelum orang-orang di kepalaku berteriak lagi. Pergilah sekarang, sebelum aku berubah jadi iblis lagi dan memintamu tinggal. Aku lebih baik mati kesepian daripada melihatmu mati berdiri karena mengurusku."
Andra memeluk ayahnya erat, menangis sejadi-jadinya. Namun, saat ia melepaskan pelukan itu, mata ayahnya kembali kosong. Pak Baskoro tiba-tiba mendorong Andra dan berteriak, "Siapa kamu?! Jangan curi radio saya!"
Andra mundur perlahan. Ia keluar dari kamar, melihat Widya dan Alena yang menunggunya dengan kunci mobil di tangan. Andra mengambil pena di meja, menandatangani surat cerai itu dengan tangan gemetar.
"Aku tidak bisa ikut, Wid," bisik Andra. "Tapi aku tidak akan menahan kalian lagi. Pergilah. Jadilah hebat di sana. Alena, kejar mimpimu. Jangan menoleh ke belakang."
Widya memeluk Andra untuk terakhir kalinya, sebuah pelukan yang penuh duka dan pelepasan. Mereka pergi. Suara mobil menjauh meninggalkan halaman. Andra berdiri di ruang tamu yang kini kosong, hanya ditemani suara tawa ayahnya dari kamar sebelah.
Plot twist terakhir yang paling menyakitkan adalah saat Andra membersihkan kolong tempat tidur ayahnya seminggu kemudian. Ia menemukan tumpukan surat yang ditulis ayahnya selama bertahun-tahun dalam masa sadarnya yang singkat. Surat-surat itu berisi permohonan agar Andra memasukkannya ke rumah sakit jiwa sejak lama.
Ayahnya ternyata sudah lama ingin "dibuang" agar anak-cucunya bahagia, namun Andra—karena egonya yang mengatasnamakan bakti—justru memaksa semua orang tinggal dalam neraka tersebut hingga semuanya hancur berkeping-keping. Bakti yang ia agungkan ternyata adalah penjara yang ia bangun sendiri untuk orang-orang yang paling ia cintai.
Kini, ia sendirian. Menjaga seorang lelaki tua yang bahkan tidak tahu siapa namanya, di sebuah rumah yang kini benar-benar menjadi museum delusi.
---