Maya menatap pantulan dirinya di cermin retak kamar ART, merapikan kebaya putih murah yang terasa mencekik lehernya. Di ruang tengah, aroma kemenyan dan bunga melati yang mulai layu memenuhi udara, beradu dengan bau antiseptik yang tajam. Hari ini, ia tidak sedang bersiap untuk mengepel lantai atau mencuci piring kristal keluarga Adiguna. Hari ini, ia akan menandatangani kontrak seumur hidup yang dibungkus dengan nama pernikahan.
Gavin Adiguna duduk di kursi roda elektriknya, kaku seperti patung lilin. Kecelakaan mobil dua tahun lalu tidak hanya meremukkan tulang belakangnya, tapi juga menghanguskan binar di matanya. Pria itu dulunya adalah CEO muda yang wajahnya menghiasi sampul majalah bisnis, kini ia hanyalah tumpukan daging dan penyesalan yang harus diurus 24 jam. Ibu Sarah, sang nyonya besar, telah memberikan tawaran yang tak bisa ditolak oleh seorang perempuan Gen Y yang terhimpit utang pinjol peninggalan orang tuanya: "Nikahi anakku, urus dia sampai akhir hayatnya, dan semua beban finansialmu akan menguap seperti embun."
Prosesi ijab kabul itu berlangsung dingin, lebih mirip transaksi gadai daripada penyatuan dua jiwa. Saat tangan Gavin yang lemas diletakkan di atas tangan Maya untuk menandatangani dokumen, Maya merasakan dingin yang menjalar hingga ke tulang. Tidak ada ciuman, tidak ada tatapan cinta. Hanya ada helaan napas berat Gavin yang seolah-olah mengutuk takdirnya sendiri karena harus menikahi seorang pelayan demi ego ibunya yang ingin melihat anaknya "ada yang mengurus."
Bulan-bulan pertama adalah simulasi neraka bagi Maya. Setiap pagi, ia harus memindahkan tubuh Gavin yang berat ke kamar mandi, membersihkan sisa-sisa ekskresi manusiawi yang memalukan, dan menyuapi makanan hambar ke mulut pria yang selalu membuang muka. Gavin adalah tipe majikan yang menggunakan kebisuannya sebagai senjata. Ia tidak pernah membentak, tapi setiap kali Maya menyentuh kakinya yang mengecil untuk dipijat, Gavin akan memejamkan mata dengan raut jijik yang amat sangat.
"Kamu tidak perlu repot-repot memijat mayat ini, Maya," ucap Gavin suatu malam, suara pertamanya setelah berminggu-minggu bungkam.
Maya tetap menekan jempolnya di telapak kaki Gavin. "Aku melakukan ini bukan karena peduli, Gavin. Aku melakukan ini karena ini pekerjaanku. Kontrakku bilang aku istrimu, tapi di rumah ini, aku tetaplah buruh yang dibayar dengan pelunasan utang."
Kalimat satir Maya rupanya menjadi retakan pertama di dinding keangkuhan Gavin. Perlahan, mereka mulai berkomunikasi lewat sarkasme. Mereka adalah representasi sempurna dari generasi yang hancur oleh ekspektasi. Gavin hancur oleh tuntutan sukses keluarga, dan Maya hancur oleh sistem ekonomi yang mencekik. Di tengah keheningan kamar mewah itu, mereka mulai berbagi cerita tentang mimpi-mimpi yang terkubur; Gavin tentang kode-kode pemrograman yang ia cintai lebih dari sekadar angka profit, dan Maya tentang galeri seni yang ingin ia bangun sebelum realita memaksanya memegang sapu.
Setahun berlalu, dan keajaiban yang sering muncul di drama-drama televisi mulai terasa nyata. Maya mulai melihat sisi manusiawi Gavin yang rapuh. Ia mulai membelikan Gavin buku-buku baru, memutar musik *post-rock* kesukaan pria itu, bahkan sesekali membawanya ke taman belakang untuk sekadar melihat langit. Maya jatuh cinta. Sebuah perasaan berbahaya yang seharusnya tidak ada dalam kamus seorang "istri kontrak." Ia mulai percaya bahwa ia adalah malaikat penolong bagi pria lumpuh yang kesepian ini.
Hingga suatu siang, Maya pulang lebih awal dari pasar karena merasa badannya kurang fit. Ia masuk ke rumah lewat pintu samping, berniat langsung menuju kamar Gavin untuk memberikan kejutan berupa camilan yang baru ia beli. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu kamar yang sedikit terbuka.
Di dalam sana, ia tidak melihat suaminya yang tak berdaya di atas tempat tidur. Ia melihat Gavin berdiri tegak di depan jendela besar, melakukan gerakan peregangan kaki dengan sangat lancar. Tidak ada kursi roda, tidak ada kaki yang lemas. Gavin berdiri kokoh, memegang ponsel di telinga dengan raut wajah yang sangat dingin dan penuh kuasa.
"Ya, Ma. Maya tidak curiga sama sekali. Dia benar-benar percaya aku masih lumpuh. Dia merawatku seperti bayi, bahkan dia sudah mulai terlihat 'bucin'. Ini sempurna. Biarkan dia terus merasa dibutuhkan sampai pengalihan aset dari rekening yayasan almarhum Papa atas nama 'istri sah' selesai diproses. Setelah itu, aku akan 'sembuh secara ajaib' dan kita bisa menendangnya keluar dengan alasan dia tidak level lagi mendampingi CEO."
Maya merasakan jantungnya berhenti berdetak. Seluruh pijatan yang ia berikan, setiap tetes keringat saat ia menggendong pria itu, dan setiap doa yang ia panjatkan untuk kesembuhan Gavin, semuanya hanyalah lelucon bagi mereka. Gavin tidak pernah butuh perawatan; ia butuh "bidak catur" untuk mengamankan warisan yang disyaratkan harus dikelola oleh seorang pria yang sudah beristri agar terlihat stabil di mata dewan komisaris.
Maya tidak menangis. Ia menarik napas panjang, mengeluarkan ponselnya, dan merekam aksi "jalan santai" Gavin dari balik celah pintu. Ia tidak masuk ke dalam untuk mengamuk. Sebagai anak muda yang terbiasa dengan strategi *survival* di hutan korporat, ia tahu bahwa balas dendam terbaik adalah dengan mengikuti permainan mereka, namun dengan akhir yang ia tulis sendiri.
Maya kembali ke dapur, menyiapkan makan siang seperti biasa. Saat ia mengantar nampan ke kamar, Gavin sudah kembali duduk di kursi rodanya dengan akting yang sempurna—wajah lesu dan kaki yang diselonjorkan lemas.
"Kamu sudah pulang, Sayang?" tanya Gavin dengan nada yang dibuat selembut mungkin.
Maya tersenyum, senyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan, namun matanya sedingin kutub. "Sudah, Mas. Aku tadi mampir ke kantor pengacara keluarga. Kamu tahu, aku baru sadar kalau di kontrak pernikahan kita, ada klausul tentang 'kejujuran medis'. Jika salah satu pihak memalsukan kondisi kesehatan untuk keuntungan finansial, maka pihak yang lain berhak atas 70% harta gono-gini tanpa perlu sidang yang lama."
Wajah Gavin mendadak pucat. Ia mencoba mempertahankan aktingnya. "Apa maksudmu, Maya? Aku tidak mengerti."
Maya meletakkan nampan itu, lalu mengeluarkan ponselnya dan memutar video rekaman Gavin yang sedang berdiri tegak tadi. Suara Gavin di video yang sedang berbicara dengan ibunya tentang "menendang Maya keluar" menggema di ruangan yang sunyi itu.
"Bangun, Gavin. Kakimu sudah sehat, tapi integritasmu sudah diamputasi," ucap Maya sambil melemparkan berkas gugatan cerai yang ternyata sudah ia siapkan lewat aplikasi bantuan hukum sejak ia mendengar desas-desus dari sopir pribadi keluarga sebulan lalu tentang "keajaiban" di kamar Gavin.
Gavin berdiri dengan refleks, lupa bahwa ia seharusnya berakting lumpuh. "Maya, tunggu! Aku bisa jelaskan! Itu hanya strategi bisnis ibuku!"
"Strategi bisnis? Kamu benar-benar Gen Y yang payah, Gavin. Kamu punya segalanya tapi tetap memilih jadi pengecut di balik kursi roda hanya untuk uang. Aku memang miskin harta, tapi setidaknya aku tidak perlu pura-pura lumpuh hanya untuk mendapatkan cinta atau harta."
Maya berjalan keluar, membawa tas ranselnya yang sudah ia kemas sejak pagi. Ia tidak butuh uang gono-gini itu; ia sudah mengirimkan video tersebut ke dewan komisaris perusahaan Gavin sebagai bukti penipuan publik yang akan menghancurkan reputasi pria itu selamanya. Baginya, melihat wajah panik Gavin yang kehilangan kendali atas "bidak"-nya jauh lebih memuaskan daripada saldo bank yang melimpah.
Saat ia melangkah keluar gerbang rumah mewah itu, Maya mematikan notifikasi pinjol di ponselnya yang baru saja ia lunasi dengan sisa tabungan rahasianya. Ia menghirup udara luar yang terasa berbeda. Ternyata, terpaksa menikahi majikan lumpuh telah memberinya satu pelajaran berharga: jangan pernah meremehkan orang yang tidak punya apa-apa, karena mereka tidak punya beban untuk menghancurkan segalanya.