Bagi Arini, kehadiran Widya di rumah itu seperti instalasi seni yang salah tempat. Minimalis, tenang, dan terlalu sempurna. Di usia Arini yang menginjak 32 tahun—usia di mana ia seharusnya sudah dewasa tapi masih terjebak dalam pusaran daddy issues—ia melihat Widya bukan sebagai ibu tiri, melainkan sebagai penyusup yang menggunakan kebaikan sebagai senjata pemusnah massal.
Widya tidak pernah berteriak. Dia tidak pernah menyuruh Arini mencuci piring atau membersihkan rumah seperti dongeng Cinderella. Sebaliknya, Widya adalah "Malaikat" yang membuat Arini merasa seperti iblis.
"Rin, ini jus seledri dan apel buat asam lambung kamu. Tadi malam kamu pulang telat lagi, ya? Lembu (adik tiri Arini) bilang kamu lembur," ucap Widya dengan suara selembut sutra.
Arini hanya mendengus, menyesap kopinya yang pahit sembari menatap layar laptopnya yang penuh dengan spreadsheet. "Nggak usah repot-repot, Tante. Aku bisa buat sendiri."
Widya hanya tersenyum—senyum yang menurut Arini sangat manipulatif. Widya telah menikah dengan ayahnya, seorang pengusaha properti yang kaku, selama sepuluh tahun. Selama itu pula, Widya telah menjadi tameng bagi Arini dari kemarahan ayahnya. Setiap kali Arini gagal dalam bisnis startup-nya, setiap kali Arini putus cinta dan mabuk-mabukan, Widya selalu ada di sana. Membersihkan muntahannya, membayar utang-utangnya secara diam-diam, dan memeluknya saat Arini menangis sesenggukan.
Dia benar-benar malaikat. Dan itulah yang membuat Arini benci setengah mati.
---
Suatu sore, Arini menemukan Widya sedang duduk di taman belakang, mengajari Lembu (anak kandung Widya dengan ayah Arini) cara merawat anggrek. Lembu adalah anak yang manis, penurut, dan sangat mencintai Arini.
"Kak Arini! Lihat, Mama bilang anggrek ini harus disiram pakai hati, bukan cuma pakai air," seru Lembu riang.
Arini hanya memutar bola mata. "Jangan percaya omong kosong itu, Lem. Tanaman itu butuh pupuk dan fotosintesis, bukan perasaan."
Widya menoleh, masih dengan senyum tenangnya. "Mungkin benar, Rin. Tapi manusia butuh keduanya. Kamu sudah makan? Tante masak rendang kesukaanmu."
"Aku diet, Tante. Jangan cekokin aku kolesterol terus," jawab Arini ketus sambil berlalu.
Malam itu, Arini mendengar ayahnya bertengkar dengan Widya di ruang kerja.
"Kenapa kamu terus-terusan membela dia, Widya? Arini itu sudah kepala tiga! Dia tidak punya tanggung jawab! Dia menghabiskan uang warisan ibunya untuk bisnis konyol yang bangkrut terus!" teriak ayahnya.
Suara Widya tetap tenang, hampir seperti bisikan. "Dia masih berduka, Mas. Dia merindukan ibunya. Beri dia waktu. Aku yang akan menanggung semua kesalahannya. Tolong, jangan usir dia."
Arini yang menguping di balik pintu merasa dadanya sesak.Sialan, batinnya. Dia sedang bermain peran sebagai martir lagi. Arini merasa semakin dikerdilkan oleh kebaikan Widya. Seolah-olah seluruh dunia harus tahu bahwa Widya adalah pahlawan dan Arini adalah beban.
---
Kejadian itu bermula saat ayah Arini jatuh sakit secara mendadak. Stroke. Dalam semalam, rumah yang biasanya tenang berubah menjadi medan perang fungsional. Widya menjadi perawat yang luar biasa. Dia tidak tidur, dia menyuapi suaminya, mengganti popoknya, dan tetap sempat membuatkan Arini sarapan.
Arini mulai merasa goyah. *Mungkin dia benar-benar tulus?* pikirnya suatu malam saat melihat Widya tertidur di kursi samping tempat tidur ayahnya dengan wajah yang amat kelelahan.
Namun, kecurigaan Arini kembali muncul saat ia menemukan sebuah brankas kecil di bawah tempat tidur Widya saat ia sedang mencari berkas asuransi ayahnya. Brankas itu tidak terkunci sepenuhnya. Di dalamnya, tidak ada perhiasan emas. Hanya ada tumpukan botol obat kosong dan sebuah buku catatan kecil bersampul hitam.
Arini membukanya dengan tangan gemetar.
Di halaman pertama, tertulis: "Dosis Keikhlasan: Bagaimana Menghancurkan Tanpa Menyentuh."
Arini mengerutkan kening. Ia mulai membaca entri-entri di dalamnya yang bertanggal sepuluh tahun lalu—sejak hari pertama Widya masuk ke rumah ini.
6 Maret: Arini mulai percaya aku adalah temannya. Aku membelikannya semua yang dia mau. Semakin aku memberinya uang, semakin dia malas. Kemandiriannya mulai terkikis. Anak ini akan menjadi parasit yang sempurna.
12 Agustus: Mas (Ayah) mulai muak dengan perilaku Arini. Aku sengaja membelanya di depan Mas agar kemarahan Mas semakin memuncak secara internal. Biarkan aku menjadi 'Malaikat' di mata Arini, agar dia tetap merasa lemah dan bergantung padaku.
19 November: Jus seledri yang kuberikan setiap pagi mulai bekerja. Bukan untuk kesehatan lambungnya, tapi untuk memastikan tekanan darahnya tetap rendah sehingga dia selalu merasa lemas dan tidak punya energi untuk berpikir kritis.
Dunia Arini berputar. Ia membalik halaman demi halaman. Widya ternyata tidak pernah mencintainya. Widya adalah seorang arsitek kehancuran yang sangat sabar. Dia memberikan "kasih sayang" yang berlebihan untuk memastikan Arini tidak pernah tumbuh dewasa. Dia membayar utang-utang Arini agar Arini tidak pernah belajar tanggung jawab. Dia memuji kegagalan Arini agar Arini tidak pernah belajar dari kesalahan.
Dan yang paling mengerikan adalah entri tentang ayahnya.
Januari: Dosis obat pengencer darah Mas mulai kuganti perlahan. Tidak ada yang akan curiga. Dia akan lumpuh, dan aku akan menjadi satu-satunya pemegang kuasa atas seluruh asetnya. Dan Arini? Dia akan tetap menjadi anak bodoh yang menganggapku pahlawannya.
---
Arini menutup buku itu. Napasnya memburu. Ia mendengar langkah kaki mendekat. Itu Widya.
Widya masuk ke kamar, melihat Arini memegang buku hitam itu. Tidak ada kepanikan di wajah Widya. Senyum "Malaikat" itu masih di sana, tapi kali ini terasa sangat dingin, seperti es di kutub utara.
"Kamu sudah membacanya, Rin?" tanya Widya lembut. "Sayang sekali. Padahal rencanaku adalah membiarkanmu hidup nyaman sebagai 'anak manja' sampai akhir hayatmu."
Arini berdiri, matanya menyalang. "Kamu... kamu monster! Kamu meracuni Papa? Kamu menghancurkan hidupku?"
Widya tertawa kecil, suara tawanya sangat merdu namun mengerikan. "Menghancurkanmu? Aku memberimu kenyamanan, Arini. Aku memberimu alasan untuk tetap menjadi korban. Bukankah Gen Y sepertimu sangat suka merasa sebagai korban keadaan? Aku hanya memfasilitasinya."
Widya melangkah mendekat. "Sekarang, setelah kamu tahu, apa yang akan kamu lakukan? Lapor polisi? Tidak ada bukti. Jus itu sudah habis. Obat Papa sudah kuganti kembali dengan yang asli pagi tadi. Buku itu? Hanya catatan fiksi seorang ibu rumah tangga yang bosan."
Arini terdiam. Dia menatap Widya, lalu tiba-tiba... Arini tersenyum. Sebuah senyuman yang belum pernah dilihat Widya sebelumnya.
"Tante benar," ucap Arini pelan. "Aku memang parasit. Dan seorang parasit tidak akan membiarkan inangnya pergi begitu saja."
Arini mengeluarkan ponselnya. Dia menekan tombol stop pada aplikasi perekaman suara yang sudah berjalan sejak ia masuk ke kamar itu.
"Tante lupa satu hal tentang generasiku," kata Arini sambil melangkah santai menuju pintu. "Kami mungkin malas, kami mungkin hancur secara mental, tapi kami tumbuh dengan teknologi di tangan kami. Seluruh percakapan kita barusan—termasuk pengakuan Tante tentang mengganti obat Papa—sudah terunggah secara otomatis ke cloud storage pengacaraku."
Wajah Widya berubah pucat. Topeng malaikatnya retak seketika.
"Dan satu lagi," tambah Arini dengan nada satir yang menohok. "Aku tidak pernah meminum jus seledri itu. Rasanya menjijikkan. Aku selalu membuangnya ke tanaman anggrek kesayangan Tante di bawah. Tahu kenapa anggreknya mati kemarin? Mungkin karena dosis 'keikhlasan' Tante terlalu tinggi untuk tanaman."
Arini membuka pintu kamar, menoleh sekali lagi ke arah ibu tirinya yang mematung.
"Terima kasih atas sepuluh tahun 'kasih sayang'-nya, Tante. Sekarang, biarkan aku menunjukkan bagaimana rasanya menjadi 'anak nakal' yang sesungguhnya di pengadilan."
---
Tiga bulan kemudian, Widya mendekam di penjara atas percobaan pembunuhan terencana. Ayah Arini mulai pulih, meski butuh waktu lama untuk terapi fisik.
Arini duduk di taman belakang, memegang pot anggrek baru. Dia tidak lagi menyesap jus seledri, melainkan kopi hitam pekat yang ia buat dengan tangannya sendiri. Dia menyadari bahwa terkadang, kasih sayang yang terlalu sempurna adalah racun yang paling mematikan. Dan untuk tumbuh, seseorang harus berani menghancurkan malaikat palsu yang memanjakannya.
---