Hotel Mulia malam itu beraroma campuran antara parfum high-end dan aroma kepalsuan yang tipis. Di ballroom lantai tiga, angkatan 2008 sedang merayakan 18 tahun kelulusan. Ini adalah usia di mana Gen Y mulai menyadari bahwa tulang punggung lebih sering sakit daripada hati, dan investasi yang paling nyata adalah kesehatan lambung.
Di tengah kerumunan pria dengan jam tangan seharga DP rumah dan wanita dengan tas bermerek yang diletakkan secara strategis agar masuk ke dalam frame Instagram Story, muncullah Siska.
Dulu, Siska adalah "The It Girl". Dia adalah alasan mengapa anak-anak cowok rajin ikut ekskul basket dan alasan mengapa anak-anak cewek diam-diam memfotokopi gaya rambutnya. Tapi malam ini, Siska tampak... memudar.
Ia mengenakan kemeja flanel yang warnanya sudah agak "bule", celana jin longgar yang tidak menunjukkan lekuk tubuh, dan tas kain belanja bertuliskan toko organik lokal. Rambutnya diikat asal-asalan dengan jepit badai seharga lima ribuan.
"Siska? Ini beneran kamu?" tanya Aris, yang sekarang menjabat sebagai VP di sebuah bank swasta, sambil menyesap soda-nya dengan kelingking terangkat.
Siska tersenyum malu-malu, matanya tidak berani menatap langsung. "Iya, Ris. Apa kabar? Wah, jam tanganmu... bisa buat beli beras setahun ya?"
Aris tertawa, tapi tawanya mengandung rasa kasihan yang kental. "Ah, biasa saja. Kamu sendiri... sibuk apa sekarang? Kok jarang kelihatan di sosmed? Terakhir aku lihat kamu di Bali lima tahun lalu, kan?"
Siska menghela napas panjang, sebuah desahan yang terdengar sangat "sandwich generation". "Aduh, boro-boro Bali, Ris. Sekarang bisa bayar cicilan motor tanpa nunggak saja sudah sujud syukur. Aku cuma jualan daster online kecil-kecilan. Itu pun kalau ada yang beli."
Kabar itu menyebar lebih cepat daripada gosip tentang siapa yang menghamili siapa saat SMA dulu. Dalam waktu tiga puluh menit, Siska bukan lagi primadona yang ditakuti, melainkan "proyek amal" bagi teman-temannya.
---
Meja nomor lima menjadi pusat "Simpati Nasional". Di sana duduk Sari (si ratu skincare), Bobby (pengusaha properti yang bicaranya selalu soal yield), dan Maya (influencer mikro yang hidupnya diukur dengan engagement rate).
"Siska, makan yang banyak. Jangan sungkan, ini sudah dibayar panitia," ujar Sari sambil menggeser piring berisi salmon panggang. "Aku dengar kamu lagi sulit ya? Duh, padahal dulu kamu paling shining."
Siska mengunyah perlahan, seolah-olah dia belum makan sejak kemarin. "Ya begitulah, Sar. Hidup berputar. Pas pandemi kemarin, usahaku gulung tikar. Tabungan ludes buat pengobatan orang tua. Sekarang ya... yang penting bisa makan hari ini."
Maya langsung mengeluarkan HP-nya. "Siska, aku mau tag kamu di Story, tapi akunmu mana ya? Kok nggak ketemu?"
"Oh, akun lamaku sudah kualihkan. Sekarang cuma pakai akun jualan daster. Nggak usahlah, May, malu. Bajuku nggak estetik buat masuk feed kamu yang penuh warna pastel itu," jawab Siska sambil menunduk.
Melihat Siska yang begitu terpuruk, ego teman-temannya membubung tinggi. Ada kepuasan tersendiri bagi mereka melihat sang bintang sekolah kini berada di bawah kaki mereka. Bobby, dengan gaya pahlawan kesiangan, mengeluarkan dompetnya.
"Siska, ini bukan apa-apa. Anggap saja modal tambahan buat dastermu," kata Bobby sambil menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke tangan Siska. "Jangan ditolak. Kita kan kawan lama."
Sari dan Maya tidak mau kalah. Mereka memberikan voucher belanja, sisa parfum yang masih setengah botol, bahkan Sari menawarkan daster Siska untuk dipromosikan di grup WhatsApp komplek mewahnya. Siska menerima semuanya dengan air mata yang menggenang.
"Kalian baik banget... Aku nggak tahu harus bilang apa," isyak Siska.
---
Menjelang akhir acara, saat lagu "Dan" dari Sheila on 7 diputar dan semua orang mulai mabuk nostalgia, sebuah insiden terjadi. Siska yang sedang terburu-buru menuju toilet—mungkin karena terlalu banyak makan gratis—tersandung kabel sound system.
BRAK!
Tas kain organiknya terlempar. Isinya berhamburan. Uang santunan dari Bobby, brosur daster, dan sebuah ponsel model terbaru yang bahkan belum resmi rilis di Indonesia terjatuh ke lantai marmer.
Siska panik. Dia berusaha merangkak mengambil ponselnya, tapi Aris lebih cepat. Saat Aris mengambil ponsel itu, layarnya menyala karena ada notifikasi masuk.
Layar itu tidak terkunci. Sebuah aplikasi perbankan internasional terbuka di sana. Mata Aris membelalak. Dia melihat deretan angka yang tidak masuk akal. Ada saldo sebesar $4.200.000,00 dengan nama akun: Siska Atmadja (Private Banking).
Bukan hanya itu, ada notifikasi dari WhatsApp yang muncul di atasnya:
"Siska, tim dokumenter Netflix sudah siap di lobi bawah. Mereka butuh footage terakhir untuk adegan 'The Great Pretender'. Gimana, sudah dapet semua reaksi palsu mereka?"
Suasana ballroom mendadak sunyi. Musik seolah menghilang. Aris menatap Siska, lalu menatap ponsel itu, lalu menatap teman-temannya yang tadi memberikan uang receh dan voucher diskon.
---
Siska berdiri. Dia tidak lagi menunduk. Bahunya tegak, tatapannya tajam dan cerdas, jauh dari kesan wanita dasteran yang tertindas. Dia mengambil ponselnya dari tangan Aris yang gemetar.
"Eksperimen selesai," ucap Siska datar. Suaranya kini terdengar berwibawa, tipe suara yang biasa didengar di ruang rapat dewan direksi.
"Siska... maksudnya apa ini?" tanya Sari dengan nada tinggi, wajahnya memerah karena malu.
Siska merapikan kemeja flanelnya yang ternyata adalah merek custom seharga sepuluh kali lipat dari baju Sari. "Kalian tahu kan aku kuliah sosiologi di luar negeri? Sekarang aku memproduseri dokumenter untuk Netflix tentang perilaku sosial Gen Y di Asia Tenggara. Judulnya 'The Currency of Compassion'
."
Dia menatap Bobby yang tadi memberinya uang. "Bobby, terima kasih untuk lima ratus ribunya. Uang ini akan aku donasikan atas namamu ke panti asuhan, karena sejujurnya, itu bahkan nggak cukup buat bayar parkir mobilku di bawah."
Siska kemudian menoleh ke arah Maya. "Dan Maya, kamu benar. Akun lamaku memang tidak ada, karena aku tidak butuh validasi dari likes. Tapi kalau kamu mau tahu, perusahaan investasi yang baru saja mengakuisisi agensi tempat kamu bernaung... itu adalah milik keluargaku."
Siska mengambil tas belanja kainnya, memasukkan kembali ponsel mahalnya, lalu tersenyum tipis.
"Aku datang ke sini ingin melihat siapa yang benar-benar teman saat aku tak punya apa-apa. Ternyata, kalian hanya menyukai 'Siska yang Miskin' karena itu membuat kalian merasa lebih sukses. Kalian tidak benar-benar peduli padaku, kalian hanya peduli pada ego kalian sendiri yang merasa lebih tinggi dariku."
Siska berjalan menuju pintu keluar. Di ambang pintu, dia berhenti sejenak dan menoleh.
"Oh, satu lagi. Acara ini? Semuanya gratis. Aku sudah membayar seluruh biaya sewa gedung dan katering ini sebulan yang lalu lewat anonim. Jadi, silakan nikmati sisa malamnya dengan uang 'santunan' kalian masing-masing. Sampai jumpa di Netflix tahun depan."
Siska melangkah keluar, dijemput oleh dua pria berjas hitam yang sudah menunggunya dengan tablet dan kamera tersembunyi. Di dalam ruangan, para "orang sukses" itu berdiri mematung, menyadari bahwa di balik kemiskinan pura-pura Siska, justru merekalah yang sebenarnya miskin—miskin ketulusan.
---