Pangeran Rafa adalah putra tunggal yang sangat dimanja ayahnya, sang raja. Walau ia gagah, pandai memanah, dan bertarung dengan pedang, ayahnya melarang ia pergi jauh dari kerajaan. Larangan ayahnya ini membuat sang pangeran merasa bosan. Ia merasa tidak pernah punya petualangan seru dalam hidupnya.
Suatu hari, Pangeran Rafa berjalan-jalan ke pasar kota raja. Disana ia duduk di dekat nenek penjual bunga. Ia sedang kesal karena ayahnya lagi-lagi melarangnya pergi jauh. Pangeran Rafa yang kesal, melampiaskan kekesalannya pada nenek itu. Ia mengambil beberapa tangkai bunga dan di lemparnya. Si nenek penjual bunga diam saja karena tahu itu adalah pangeran anak raja.
Nenek itu mengambil kembali bunga yang berserakan, dan menatanya ke tempat semula. Pangeran Rafa kembali mengambilnya dan melemparkan bunga itu. Pada saat itu, si nenek menatapnya dan berseru,
"Semoga kau jatuh cinta pada Jeruk Tertawa!"
Sang pangeran tidak menggubris ucapan si nenek. Ia malah membelakanginya. Setelah berkata begitu, nenek itu pun menghilang. Pangeran Rafa menengok ke segala arah, namun nenek itu benar-benar lenyap bagai asap bersama bunga dagangannya.
“Hari ini, pengalamanku lain dari biasanya,” gumam Pangeran Rafa agak bingung.
Beberapa hari kemudian, kata-kata nenek itu ternyata menjadi kenyataan. Pangeran Rafa tiba-tiba ingin sekali memiliki Jeruk Tertawa. Ayahnya, bahkan seisi istana, tak mengerti mengapa pangeran tiba-tiba jadi seperti itu.
“Apa itu Jeruk tertawa, Rafa?” tanya sang raja pada putranya.
“Aku juga belum pernah melihatnya, Ayah! Tapi tak tahu kenapa, aku ingin sekali memilikinya!” kata Pangeran Rafa heran sendiri.
Hari demi hari, Pangeran Rafa semakin ingin memiliki Jeruk Tertawa. Ia bagaikan jatuh cinta pada jeruk itu. Ia tidak selera makan, dan hanya melamun di tempat tidurnya. Pangeran Rafa mulai menyadari, ia telah terkena kutukan si nenek penjual bunga.
Sang Raja mendatangkan berbagai tabib untuk mengobatinya putra tunggalnya. tak ada yang bisa menyembuhkannya.
"Apa yang harus Ayah lakukan padamu?" tanya sang raja putus asa. "Di mana Jeruk itu bisa ditemukan?"
Pangeran Rafa akhirnya berkata, “Ayah, ijinkanlah aku yang mencarinya sendiri, sebab ini terjadi akibat kesalahanku sendiri juga.”
Pangeran Rafa bercerita tentang kutukan si nenek yang bunganya ia rusak. Dengan berat hati, sang raja akhirnya mengizinkan putra tunggalnya pergi.
“Mungkin ini sudah waktunya kau belajar bertanggung jawab dan mandiri,” kata sang raja sedih.
Pangeran Rafa akhirnya memulai perjalanannya. Sampai suatu sore, di saat hari mulai gelap, ia tiba di sebuah mata air. Di tempat itu, ia melihat seorang nenek yang sedang mengambil air. Tidak seperti sikapnya yang sebelumnya, kali ini Pangeran Rafa menyapa nenek itu dengan ramah,
"Nek, bolehkan saya bermalam di rumah Nenek semalam ini saja? Hari mulai gelap, dan saya tidak tahu harus menginap di mana.”
"Aku hanya memiliki pondok kecil. Saking kecilnya, kalau aku berbaring, kakiku berada di luar pondok. Di mana aku harus meletakkan mu di pondokku itu?” ujar si nenek ketus.
Pangeran Rafa mengeluarkan segenggam koin emas dan meminta tolong nenek itu mencarikan tempat untuknya. Begitu melihat emas, berkata lah nenek itu,
"Ayolah, anakku, aku punya rumah besar! Kau bisa menginap di tempatku!”
Mereka lalu pulang bersama. Ketika duduk di meja makan, Pangeran Rafa bertanya, "Katakan padaku, Nek, di mana aku bisa menemukan Jeruk Tertawa?”
Nenek itu langsung memukulnya, "Diam! Nama itu dilarang disebut!"
Pangeran Rafa kembali mengeluarkan segenggam koin emas. Mata nenek itu seketika bersinar dan berkata gembira,
"Bangunlah pagi-pagi sekali, dan seberangi gunung di depan rumahku. Di sana kau akan bertemu gembala yang bekerja di istana, tempat Jeruk Tertawa disimpan. Kalau kau bisa membujuk si gembala, kau bisa masuk ke sana. Tetapi berhati-hatilah! Setelah kau mendapat Jeruk itu, segeralah kembali padaku."
Maka pagi berikutnya, Pangeran Rafa pergi melintasi gunung. Di sana, ia bertemu dengan seorang gembala yang sedang menggembalakan domba-domba istana. Pangeran Rafa menyapanya dan bertanya tentang Jeruk Tertawa. Si gembala segera memukulnya dengan kasar sehingga Pangeran Rafa hampir terjatuh.
"Jangan sebut nama itu di sini!” serunya marah.
Pangeran Rafa memohon dengan sungguh-sungguh, dan memberi gembala itu segenggam koin emas. Gembala itu menjadi lebih tenang. Ia berkata,
“Aku punya sehelai kulit domba utuh. Pakailah kulit domba itu dan merangkak lah di antara domba-domba istana. Nanti sore, aku akan mengantar domba ke istana. Kau bisa ikut menyusup ke dalam. Pada malam hari, saat semua orang tertidur, pergilah ke lantai pertama. Lihatlah ke kamar di sebelah kanan.
Di atas rak di dekat tempat tidur, kau akan menemukan Jeruk Tertawa. Jika kau bisa mengambilnya, maka semuanya beres. Jika tidak berhasil, kau ada dalam masalah besar!”
Gembala itu lalu memberikan Pangeran Rafa sehelai kulit domba utuh. Pangeran segera memakainya dan merangkak di antara domba-domba. Ia berhasil masuk ke halaman istana tanpa ketahuan.
Ketika malam tiba dan semua orang tertidur, Pangeran Rafa keluar dari kulit domba. Ia merayap hati-hati dan ke lantai pertama. Ia lalu masuk ke ruangan yang ditunjukkan oleh si gembala. Di situ, ada seorang Putri yang sangat cantik sedang tidur nyenyak. Ia adalah Putri Aira, putri tunggal sultan pemilik istana itu.
Putri Aira memiliki rambut keemasan. Pangeran Rafa takjub melihatnya. Dan pada saat itu, Jeruk yang berada di rak dekat tempat tidur, mulai tertawa karena melihat pangeran Rafa.
Pangeran Rafa sangat terkejut. Ia buru-buru keluar kamar, menutup pintu, berlari kembali ke domba. Tawa jeruk itu rupanya cukup keras dan membangunkan Putri Aira. Namun, ia tak melihat ada orang di kamarnya.
“Kamu jangan ribut, ya!” tegurnya pada Jeruk ajaib kesayangannya. Ia lalu tidur lagi.
Setelah beberapa saat, Putri Aira tertidur sekali lagi. Pangeran Rafa masuk lagi dan melangkah ke rak tempat Jeruk itu. Namun, Jeruk itu malah semakin keras tertawa ketika melihat pangeran Rafa, rupanya pangeran Rafa masuk ke kamar itu tidak memakai baju dan rambutnya banyak bulu domba yang menempel sehingga terlihat lucu bagi Jeruk itu. Seperti sebelumnya, Pangeran Rafa buru-buru keluar kamar.
"Kamu nakal, membangunkan aku terus! Sekali lagi kami ribut, aku cubit, ya... ” omel Putri Aira pada jeruknya. Ia lalu berbaring tidur lagi.
Pangeran Rafa masuk untuk ketiga kalinya. Ia langsung berlari untuk mengambil jeruk dari rak. Sekarang Jeruk itu tidak bersuara lagi, karena takut dicubit oleh Putri Aira. Dengan cepat Pangeran Rafa keluar dan kembali ke kandang domba.
Ketika fajar menyingsing, gembala menggiring kawanan domba ke gunung. Pangeran Rafa ada di antara domba-domba itu. Setiba di padang rumput, sang pangeran keluar dari kulit domba dengan lega. Ia memberi gembala itu segenggam koin emas lagi.
Pangeran Rafa kembali ke rumah si nenek dengan gembira. Nenek itu tampak lega, namun ia lalu sibuk mengisi baskom yang sangat besar dengan air. Ia lalu memasukkan bubuk pewarna kuning ke dalam baskom. Sebilah papan panjang ia letakkan juga di atas baskom besar itu.
“Tidurlah di atas papan ini!” perintahnya pada Pangeran Rafa.
Walau bingung, Pangeran Rafa menuruti perintah nenek itu.
Sementara itu, Putri Aira terbangun. Ia kaget karena Jeruk ajaibnya hilang.
"Celaka! Jeruk ajaibku dicuri. Tiga kali ia membangunkan aku, tetapi aku tidak mengerti dan malah memarahinya! Oh, jerukku!” tangis Putri Aira.
Berita itu sampai ke telinga Sultan, ayah sang putri. Sultan segera memerintahkan agar gerbang kota segera ditutup. Prajuritnya disuruh mencari pencuri jeruk itu ke seluruh penjuru kerajaan. Namun mereka tidak menemukannya.
Sultan lalu memanggil peramal. Si peramal melihat di bola kristal ajaibnya. Ia lalu berkata,
“Sultan, saya melihat si pencuri Jeruk saat ini ada di sebuah kapal di lautan berwarna kuning. Dia pasti sudah pergi sangat jauh. Kita tidak tahu di mana letak lautan kuning seperti itu."
Sang sultan akhirnya menyerah, karena merasa tak ada kesempatan untuk menangkap si pencuri. Ia memerintahkan agar gerbang kota dibuka lagi. Mendengar pengumuman itu, Pangeran Rafa memberikan si nenek beberapa koin emas lagi. Ia lalu melanjutkan perjalanan pulang ke istana ayahandanya.
Di tengah jalan, Pangeran Rafa bertemu dengan seorang nenek penjual kalung manik-manik.
“Tolong beli kalung manik-manik ku, Tuan. Sudah beberapa hari tidak ada orang yang beli pekerjaan tanganku ini,” kata nenek itu.
Pangeran Rafa melihat kalung-kalung dengan manik-manik indah. Ia heran karena tak ada orang yang membelinya.
“Ini koin emas untukmu, Nek. Tolong pilihkan kalung manik-manik yang terindah untukku,” kata Pangeran Rafa sambil memberikan segenggam koin emas.
Nenek itu tampak gembira. Dari keranjangnya, ia mengambil sebuah kotak indah dan membukanya. Di dalamnya, ada seuntai kalung manik-manik kecil yang panjang dan sangat indah.
“Ini kalung manik-manik istimewa. Ceritakan lah isi hatimu pada kalung ini. Lalu kirimkan lah pada seorang gadis yang kau cintai. Maka, ketika gadis itu mengusap kalung ini, manik-manik ini akan menceritakan kembali ceritamu itu,” kata si nenek.
Pangeran Rafa menerima kalung itu dengan wajah masih bingung. Ia ingin bertanya lagi, namun saat menoleh ke tempat si nenek tadi duduk, nenek itu sudah pergi entah kemana. Pangeran Rafa kembali melanjutkan perjalanannya.
Ketika ia tiba di istana ayahnya, sang sultan sangat gembira. Ia memeluk putra tunggalnya dan menangis gembira.
Setelah mendapatkan jeruk tertawa, Pangeran Rafa mengira hatinya akan gembira. Namun, ternyata ia tetap merasa sedih bahkan sering gelisah. Ternyata, diam-diam ia teringat pada Putri Aira yang cantik. Pangeran Rafa merasa bersalah juga telah mencuri Jeruk itu. Di saat itu, Pangeran Rafa teringat pada kalung manik-manik yang dibelinya.
Sambil memegang kalung itu, Pangeran Rafa menceritakan isi hatinya. Tentang kutukan yang ia terima, sehingga ia terpaksa mencuri jeruk milik Putri Aira. Ia juga bercerita tentang keindahan rambut Putri Aira yang keemasan.
Pangeran Rafa lalu mengirim utusan untuk mengantarkan kalung itu pada Putri Aira. Sang putri meraba kalung itu dan ia sangat terkejut. Dari kalung itu, keluar suara yang menceritakan isi hati Pangeran Rafa. Kini Putri Aira tahu, siapa pencuri jeruk ajaibnya.
Sang utusan lalu bertanya, apakah Pangeran Rafa diijinkan untuk mengunjunginya, untuk mengembalikan Jeruk itu. Putri Aira yang juga penasaran pada pangeran Rafa itu pun mengizinkan.
Maka, Pangeran Rafa pun datang ke istana Putri Aira. Sang putri sangat terkejut, karena pencuri Jeruknya ternyata seorang pangeran yang sangat tampan. Putri Aira pun bertanya pada pangeran Rafa tentang bagaimana caranya ia bisa masuk istana dan bisa mengambil Jeruk itu tanpa diketahui penjaga istana. Pangeran Rafa tanpa tagu bercerita apa adanya, Putri Aira tertawa geli ketika mendengar pangeran Rafa bercerita tentang dirinya yang harus menjadi domba dan merangkak bersama kawanan domba.
Diam-diam, putri Aira jatuh cinta pada pangeran Rafa, demikian pula pangeran Rafa. Beberapa waktu kemudian, Pangeran Rafa dan Putri Aira menikah. Mereka hidup bahagia. Pangeran Rafa sangat bahagia, karena ia sudah merasakan petualangan seru dan mendapatkan Putri yang sangat cantik dan baik hati. Ia berjanji, akan bersikap sopan pada orang yang lebih tua. Ia sering ke pasar kota Raja, namun tidak pernah lagi bertemu dengan nenek penjual bunga. Dan ketika bertanya ke pedagang lain di sana, di pasar itu memang tidak pernah ada nenek-nenek yang menjual bunga.
Pesan Moral :
Pesan moral dari cerita "Jeruk Tertawa" adalah bahwa tindakan buruk dan kesombongan bisa membawa seseorang ke dalam kesulitan. Namun, ketika seseorang mau bertanggung jawab dan memperbaiki kesalahannya dengan tulus