AKU BUKAN ORANG KAYA. TAPI TEKADKU KUAT UNTUK MENGUMROHKAN KEDUA ORANG TUA. AKU MEMILIH JALUR ...
"Mak ingin sekali naik haji," ujar Mak pada tahun 2009.
Waktu itu kami hidup dalam ekonomi yang teramat sangat sulit. Aku hanya terdiam dan tidak terlalu mendengarkan keinginannya. Aku juga menganggap itu sebuah kemustahilan.
"Tapi gimana mau naik haji, mau makan aja payah," tambahnya lagi.
Seiring berjalannya waktu, b i a y a haji meroket naik dan terkendala tak bisa langsung berangkat. Bersamaan dengan banyaknya orang-orang yang berangkat umroh.
Lagi-lagi Mak mengatakan keinginannya untuk umroh. Namun dia kembali berkata "mustahil" karena kondisi ekonomi.
Tahun 2021, Mak berubah pikiran.
"Mak mau Qurban aja lah. Pengen Qurban kambing seekor. Kata ulama, kambing Qurban tu nanti jadi kendaraan kita di surga."
Aku hanya terdiam. Aku tak bisa membantu karena untuk kebutuhan hidup sehari-hari, aku terbilang susah. Posisiku sebagai tulang rusuk menjadi tulang punggung membuatku tak mampu berbuat banyak.
Mak pun mulai m e n a b u n g dari hasil jualan di kantin sekolah untuk membeli kambing Qurban. Ia m e n a b u n g lima ri b u rupiah setiap harinya.
Harga kambing Qurban sebenarnya tak seberapa. Namun bagi kami yang hidup dalam ekonomi bawah, terbilang mahal.
Awal tahun 2022, aku mencoba menulis di sebuah platform besar dan mencari peruntungan di dunia literasi. Dengan harapan bisa menghasilkan u a n g 1 jt setiap bulan dan bisa m e n a b u n g untuk membeli kambing Qurban buat Mak.
Allah maha besar. Aku berhasil mengumpulkan u a n g untuk membeli kambing. Bahkan 2 ekor kambing sekaligus. Khusus untuk Mak dan Pak Qurbankan.
"Alhamdulilah, Mak lah pernah Qurban. Kini Mak pengen banget umroh," ujar Mak tetiba ketika aku pulang dari Makassar sehabis liburan.
Wajah perempuan itu berkaca-kaca seakan memiliki harap yang teramat sangat.
"Mak benaran pengen umroh?" tanyaku untuk memastikan.
"Iya. Mak mau ngumpulin duit, nanti Mak b e l i e m a s. Emasnya mau Mak j u a l untuk umroh," sahutnya.
"Doakan novel aku laris ya, Mak. Aku berjanji akan b i a y a i Mak umroh."
"Dak usahlah. D u i t kerja kau untuk kau saja."
"Dak apa-apa. Aku n a b u n g 2 jt sebulan untuk Mak umroh."
"Nanti kebutuhanmu gimana?"
"Bisalah nanti tu. Insyallah aku atur d u i t aku dengan baik."
"Beneran?"
"Iya." Aku menyahut dengan senyum mengembang. "Mak mau kan nunggu sampe aku bisa ngumpulin d u i t tu?"
"Serahlah. Mudah-mudahan d u i tnya cepat terkumpul. Mau 3 tahun, mau 5 tahun, nak berapa tahun pun Mak tunggu."
"Pokoknya Mak do'akan rejeki aku lancar."
"Aamiin."
Rejeki tidak ada yang tahu. Aku yang hanya penulis pemula, yang hanya pernah sekali meraih penghargaan, tiba-tiba diambil seorang author famous Naimatun Niqmah untuk kolaborasi menulis novel drama rumah tangga tema ketabahan h a t i seorang perempuan yang menanti kehadiran buah h a t i.
Aku yang diajak kolaborasi dengan ketentuan g a j i dan segala sesuatunya semakin bersemangat menulis dan berkarya.
Kutanamkan niat di dalam h a t i untuk bekerja keras di saat ada kesempatan. Aku harus menunaikan niatku untuk Mak. Aku pun mulai memeras otak untuk menulis karya terbaik agar terus bertahan dan dinanti pembaca.
Allahu Akbar. Semakin banyak pembaca setia membuat aku semakin semangat menulis hingga akhirnya aku benar-benar melupakan semua kesenangan dunia. Aku melupakan belanja, foya-foya, dan healing demi mengumpulkan u a n g untuk Mak berangkat umroh.
Hingga akhirnya rejeki di depan m a t a. Aku bisa mendapatkan g a j i 55 jt kalau kuat dan bersemangat mengejar jumlah kata.
Bismillah. Dengan penuh keyakinan, aku daftarkan Mak umroh pada Ustad Abror Albanjari . Kudaftarkan juga Pak sekaligus karena yakin u a n gnya akan terkumpul.
Tentu saja aku sudah terlebih dahulu mencari tahu travel yang akan aku pakai ini melalui sosial media dan beberapa orang yang aku kenal.
Ketika aku mengatakan keinginan untuk memberangkatkan Pak juga, beliau sempat menolak.
"Mak saja yang berangkat umroh. Pak belakangan aja lah. Jangan habiskan duitmu untuk kami," ujar Pak waktu itu.
"Idak, Pak. Pokoknya aku janji akan berangkatin kalian umroh."
"Itu terserah kaulah. Pak cuma t a k u t kau stres karena mikirin naskah."
"Aku janji dak kan sampe s t r e s, apa lagi sampai g i l a."
Perjalanan untukku mendapat g a j i ini pun tak mudah. Penuh drama dan air mata. Bahkan pernah sama-sama menangis dengan Mak Glow karena sebuah masalah.
Aku sempat down selama 7 hari. Bahkan hampir g i l a karena keinginan itu hampir punah.
Untungnya aku punya banyak teman yang selalu memberi support. Aku punya keluarga yang tetap mendukung, bahkan selalu menghibur. N Jannah Dhije Ernawati Zamsari Aisah Dedi Yuni Ningsih yang tak lelah mengingatkan aku untuk tetap bersabar.
Hingga waktu itu tiba. Di hari kedua ramadhan, perjuanganku dan Mak Glow tak sia-sia. Allahu Akbar. Kami sampai bersujud syukur dan berpelukan.
Kulangkahkan kaki menemui pihak travel untuk melunasi sisa umroh Mak dan Pak.
"Masyaallah, Yuk. Mereka jadi berangkat?" Ustad seakan tak percaya ketika aku mentra n s f e r u a n g dan meminta nota p e l u n a san.
"Iya, Ustad. Allahu Akbar." Kuterima selembar kertas berisikan pelunasan umroh November itu dengan tangan gemetar.
Sepanjang perjalanan, air mata mengalir dengan deras. Aku berhenti di pinggir sungai dan menumpahkan semuanya. D a d a yang sesak selama sebulan terakhir, seketika terasa lega.
Aku pulang ke rumah dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Ketika sampai di depan rumah pun, sepeda motor kuletakkan secara asal.
"Maaaakkkkkk ...! Mak jadi Umroh!" Aku berhambur m e m e l u k Mak yang sedang memasak untuk berbuka puasa.
"Allahu Akbar!" Mak meletakkan Sutil dan bersujud di lantai. Kami berpelukan erat bersama Pak yang juga menangis tersedu-sedu.
"Mak dak mimpi 'kan?" Mak menatapku dengan air mata yang masih berlinang.
"Idak, Mak. Ini dak mimpi."
"Ya Allah. Allahu Akbar!" Mak lagi-lagi bersujud dengan penuh kebahagiaan.
Aku perlihatkan pelunasan umroh itu di hadapan mereka. Sebelum akhirnya kembali berpelukan.
"Mak tadi malam nangis setelah tahajud. Biasanya tak seperti itu. Tiba-tiba aja tadi malam ngalir sendiri air mata ni. Mak sampai sujud lamaa sekali."
Ya Allah. Mak selalu berdo'a siang malam agar aku tabah menghadapi masalah yang saat itu melanda. Mak dan Pak t a k u t aku stres. Karena mereka sering melihatku menangis tiap hari di jendela.
Sejak itu, Mak dan Pak semakin mendekatkan diri pada Allah. Mereka belajar banyak tentang umroh hingga tanggal 25 November itu tiba.
Ya Allah. Sungguh besar kuasa-Mu.
Aku bukan orang kaya. Aku bukan siapa-siapa, tapi Engkau mengabulkan keinginanku yang begitu besar.
Saat kulihat Mak memakai perlengkapan travel Lightwater Tour , air mata ini tak bisa kubendung. Aku menangis. Aku tak menyangka, keinginan Mak dan Pak akhirnya tercapai.
Sampai detik ini, aku selalu memantau akun travel untuk melihat Mak dan Pak. Air mata ini lagi-lagi jatuh tak tertahan.
Sehat-sehat Mak, Pak. Semoga ibadahnya berjalan dengan lancar. Kami a nak-ana kmu di sini selalu mendoakan kesehatan Mak dan Pak di sana.
Semoga umrohnya mabrur dan mabruroh. Aamiin.
Ini bukan bentuk atas balas jasa dan kasih sayang Mak dan Pak padaku. Karena pada kenyataannya, jasa, kasih sayang, dan pengorbanan Pak dan Mak yang telah mendidik aku seperti ini tak bisa dibalas dengan apa pun.
Ini adalah hadiah dari seorang anak yang bersyukur karena dibesarkan dengan rasa cinta dan pengorbanan Mak dan Pak yang begitu besar.
Talang Aro, 26 November 2023
Cerita itu aku tulis dan kuposting di Facebook dengan derai air mata sebelum aku mulai membaca surah Yasin dengan harapan ibadah Umroh Pak dan Mak berjalan dengan lancar.
Sungguh seperti mimpi aku bisa memberangkatkan mereka umroh. Padahal sebelumnya, Aku bahkan hampir g i l a karena impian ini.
Karena sepuluh bulan yang lalu aku hampir masuk rumah sakit jiwa ....