Namaku Adel. Aku berusia dua puluh tiga tahun.
Aku punya hobi. Hobi pertamaku adalah melukis. Memang tidak terlalu bagus, tapi setidaknya aku bisa. Hobi keduaku menulis. Imajinasi yang kumiliki cukup kaya, jadi aku bisa merangkai banyak cerita dari pikiranku sendiri. Itulah hobiku.
Ibu dan ayahku bercerai ketika aku masih kecil. Sejak perpisahan itu, aku tumbuh dengan perasaan sulit menerima orang baru dalam hidupku. Entah kenapa, selalu ada ketakutan bahwa siapa pun yang datang pada akhirnya juga akan pergi meninggalkanku. Mungkin karena itulah sampai sekarang aku masih sendiri. Aku belum berani membuka hati untuk siapa pun.
Ya, aku pernah menyukai beberapa orang dalam hidupku. Mereka datang, lalu semuanya terasa seperti akan berjalan ke arah yang lebih serius. Awalnya kupikir mereka yang pergi. Tapi sebenarnya bukan. Justru aku yang lebih dulu menjauh.
Aku tidak pernah benar-benar yakin mereka menyukaiku. Dan meskipun aku menyukai mereka, aku tak pernah menunjukkannya secara terang-terangan. Aku sendiri tidak serius dalam menjalin hubungan.
Seperti yang sudah kukatakan, aku punya trauma tentang hubungan.
Jadi setiap kali perasaan itu mulai tumbuh, aku memilih menghindar. Aku pergi sebelum semuanya menjadi terlalu dalam. Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku tidak ingin terikat pada siapa pun. Lebih mudah meninggalkan daripada ditinggalkan.
Aku menjalani hidup hampir selalu seorang diri. Bukan hanya menjauh dari lawan jenis, tetapi juga sering menjaga jarak dari sesama jenis. Aku tidak ingin terikat pada siapa pun, dalam bentuk hubungan apa pun.
Karena itu, aku membangun batas setinggi Tembok Tiongkok di sekelilingku. Sebuah jarak yang sengaja kuciptakan agar tak seorang pun benar-benar masuk ke dalam hidupku. Aku bahkan jarang menganggap mereka sebagai teman yang sesungguhnya.
Separah itu luka yang kusimpan di hatiku.
Oh iya, aku belum memperkenalkan satu hal tentang diriku. Aku seorang Kristen. Sejak kecil, aku sangat mencintai Tuhanku. Aku sering bercerita dan berbicara kepada-Nya, seolah Dia adalah tempat paling aman untukku pulang.
Namun ketika aku tumbuh dewasa, aku mulai mengenal lebih banyak hal tentang hidup. Banyak sekali pikiran yang bermunculan. Banyak pertanyaan yang berputar di kepalaku.
Bukan karena hidupku sekarang lebih menderita. Jika dipikir-pikir, masa kecilku justru jauh lebih berat. Tetapi saat dewasa, aku mulai menyadari dan memahami banyak hal. Dan kesadaran itulah yang membuat hidup terasa lebih rumit untuk dijalani.
Saat aku tumbuh dewasa, perlahan aku mulai menjauh dari Tuhan. Aku mulai banyak mempertanyakan-Nya. Bahkan, ada masa ketika aku marah kepada-Nya.
Aku bertanya-tanya, mengapa aku lahir ke dunia ini? Mengapa Tuhan mengizinkanku lahir? Dalam keputusasaan, aku pernah mengutuk kelahiranku sendiri.
Padahal dulu aku adalah anak yang selalu datang kepada Tuhan—berdoa, bercerita, menjadikan-Nya tempat pulang. Namun semakin dewasa, aku justru tidak lagi berani datang kepada-Nya. Bukan hanya karena takut, tetapi juga karena malu.
Dalam imanku, aku tahu Tuhan tidak pernah menolak siapa pun. Dia menerima setiap orang yang datang kepada-Nya. Tetapi perasaan tidak layak dan rasa bersalah karena telah mempertanyakan serta menghakimi-Nya membuatku memilih menjauh.
Aku seperti membangun jarak di antara kami. Seolah-olah jika aku melangkah ke kiri, Tuhan ke kanan. Jika aku mendekat, aku merasa Dia menjauh—meski mungkin sebenarnya akulah yang terus melangkah pergi.
Ketika aku sadar bahwa aku menjauh dari Tuhan, rasanya seperti kehilangan segalanya. Dulu aku tidak memiliki mama dan papa sebagai tempatku berkeluh kesah. Namun aku tidak pernah benar-benar merasa sendirian, karena saat itu aku merasa memiliki Tuhan.
Tetapi ketika aku memilih menjauh dari-Nya, hidupku terasa kosong. Ada bagian dalam hatiku yang tidak lagi terisi. Seolah-olah aku kehilangan sumber kehidupanku sendiri. Hatiku hampa, hari-hariku suram. Satu hari terasa begitu panjang, seperti satu tahun yang tak kunjung selesai.
Dalam kelelahan itu, aku sering bertanya, sampai kapan semua ini akan berlangsung? Ada masa ketika aku begitu putus asa hingga berpikir, untuk apa aku terus hidup? Aku bahkan pernah berkata dalam doaku yang penuh amarah, bahwa aku masih bertahan hanya karena Tuhan masih mengizinkanku bernapas. Jika Dia tidak lagi mengizinkan, maka aku tak akan menolak.
Ada masa ketika aku sangat merindukan Tuhan. Aku merindukan kehangatan-Nya, merindukan kasih sayang-Nya, merindukan sosok yang dulu selalu kurasakan hadir bersamaku.
Namun setiap kali kerinduan itu datang, rasa malu ikut menyertainya. Aku ingin kembali, tetapi aku merasa terlalu jauh. Aku rindu, tapi aku tidak tahu bagaimana harus menatap-Nya lagi.
Namun karena Tuhan begitu mengasihiku—seperti Ia mengasihi setiap orang—Dia tidak membiarkanku terus menjauh. Perlahan, Dia menarikku kembali melalui SPK.
Dalam imanku, ada yang disebut pemuritan—sebuah proses untuk semakin mengenal Tuhan dan bertumbuh lebih dalam bersama-Nya. Di sanalah aku mulai belajar lagi tentang kasih, tentang pengampunan, dan tentang arti kembali.
Pada awalnya, ketika kelas itu dimulai, aku masih pasif. Kepalaku keras, hatiku terus memberontak. Meski begitu, aku tetap mengikuti setiap arahan guru yang membimbingku di sana.
Ia mengajarkanku untuk kembali teduh, membaca Alkitab, dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Aku melakukannya, meski kadang tanpa perasaan. Satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari—bahkan sampai satu bulan.
Perlahan, ada sesuatu yang berubah. Hatiku mulai terasa lebih dekat kepada Tuhan. Namun aku sadar, kedekatan itu belum berarti aku benar-benar mengenal-Nya sepenuhnya.
Aku adalah anak yang lahir dari luka. Saat kecil, aku bukan hanya ditinggalkan oleh ayahku. Aku juga sering merasa ditolak—di keluargaku, di lingkunganku.
Banyak yang membuliku.
Mereka mengejek penampilanku, mengatakan hal-hal yang membuatku merasa tidak berharga. Kata-kata itu menempel begitu lama, hingga aku tumbuh menjadi anak yang minder dan kurang percaya diri.
Luka-luka itu begitu banyak di hatiku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana menamainya. Bukan hanya sulit menamai, aku pun kesulitan mengenalinya. Semuanya hanya terasa seperti beban yang kupikul tanpa benar-benar kupahami.
Namun perlahan, saat mengikuti kelas SPK dan menjalani setiap prosesnya, aku mulai belajar mengenali hatiku sendiri. Aku mulai melihat kembali luka-luka lama yang selama ini kusembunyikan.
Aku yang dulu minder. Aku yang dulu kurang percaya diri. Aku yang mudah emosi, yang memendam perasaan karena takut pada penilaian orang lain. Aku yang selalu mencari validasi.
Ternyata begitu banyak perubahan negatif dalam diriku lahir dari luka yang tidak pernah kusadari. Dan Tuhan, dengan sabar, mengajakku melihat semuanya perlahan—sedikit demi sedikit.
Dari perasaan-perasaan terluka yang mulai ku kenali itu, aku perlahan kembali mendekat kepada Tuhan. Aku mulai mencoba menceritakan semua rasa sakitku kepada-Nya. Namun sering kali aku tidak tahu harus menamainya apa. Lidahku kelu saat berdoa. Yang ada hanya diam dan air mata.
Tetapi Tuhan tidak membiarkanku sendirian. Suatu hari, pendeta berkata kepada kami di kelas SPK, “Ungkapkan semua isi hatimu dalam doa. Jika kamu ingin marah, maka marahlah. Jika kamu ingin menangis, maka menangislah. Jika kamu ingin berteriak, maka berteriaklah.”
Saat itulah sesuatu dalam diriku pecah. Untuk pertama kalinya, aku berani jujur. Dalam doaku, aku berkata, “Tuhan, aku marah. Aku marah kepada mama, papa, kakak, kepada orang-orang di masa laluku. Aku bahkan marah pada diriku sendiri. Mengapa Engkau menciptakan aku?”
Doa itu mungkin terdengar kasar, tetapi itulah isi hatiku saat itu.
Dalam imanku, ada yang disebut baptisan Roh Kudus. Entah bagaimana menjelaskannya, tetapi pada suatu momen kami mulai berdoa dalam bahasa roh. Dan di saat itu, hatiku terasa lega—seperti beban yang selama ini tak mampu kuucapkan akhirnya tersampaikan.
Ketika aku berdoa dalam bahasa roh, aku merasa seluruh isi hatiku tercurah kepada Tuhan, bahkan hal-hal yang tak mampu kuungkapkan dengan kata-kata. Sejak saat itu, perlahan hatiku mulai sembuh.
Aku mulai menyadari bahwa selama ini aku adalah pribadi yang kepahitan. Aku terluka begitu dalam, dengan begitu banyak lapisan luka, sampai-sampai aku tidak lagi mengenalinya. Ketika orang bertanya apakah aku terluka, aku bahkan tak tahu harus menjawab apa.
Namun ceritanya tidak berhenti sampai di situ. Seperti yang kuceritakan di awal, aku selalu kesulitan mengenali perasaanku terhadap orang lain, apalagi memulai sebuah hubungan.
Aku sempat merasa semua penderitaan dan luka itu sudah sembuh. Tetapi ada satu peristiwa yang menyadarkanku bahwa luka itu ternyata masih ada—masih aktif di dalam hatiku.
Di kelas SPK, aku bertemu dengan seseorang yang sebelumnya tidak kukenal. Kami tidak pernah benar-benar berbicara. Bahkan jarang saling menatap. Namun entah sejak kapan, aku mulai menyukainya.
Dia pria yang tampan. Matanya sedikit sipit, senyumnya manis, kulitnya cerah. Usianya sepertinya satu atau dua tahun lebih muda dariku. Ada sesuatu dalam dirinya yang menarik perhatianku—sebuah aura yang sulit kujelaskan.
Dia juga mengikuti kelas SPK. Saat berdoa, ia terlihat begitu tulus. Meskipun di luar kelas ia sering sibuk dengan ponselnya, diam-diam aku tetap memperhatikannya.
Di mana dia duduk? Di mana dia berdiri? Dengan siapa dia tertawa? Dengan siapa dia berbicara?
Tanpa kusadari, aku selalu memperhatikannya. Padahal aku bahkan tidak tahu namanya. Kami tidak pernah berbicara.
Hanya sekali kami seperti saling bertatapan. Atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar melihat ke arahku atau ke arah orang lain, karena kelas SPK selalu ramai.
Tetapi entah mengapa, aku merasa saat itu dia melihatku.
Dan di saat yang sama, aku langsung menyangkal perasaanku sendiri.
Aku berkata pada diriku, ini hanya rasa tertarik biasa. Bukan apa-apa. Aku tidak mau mengakui bahwa aku mulai menyukainya.
Namun hati kecilku terus berbisik, “Kamu menyukainya.”
Jika aku menjawab suara itu, aku berkata dalam hati, “Ya, aku memang menyukainya. Lalu kenapa?” Tetapi kalimat itu tidak pernah selesai tanpa bantahan dari diriku sendiri.
Aku mencoba meremehkannya. Lagipula, aku tidak ingin memilikinya, bukan? Dia tampan, matanya bening, usianya lebih muda, dan sepertinya berasal dari keluarga berada.
Sedangkan aku?
Pikiran-pikiran itu langsung menyerang. Aku merasa tidak sepadan. Tidak cocok. Seolah-olah sejak awal aku sudah kalah sebelum memulai apa pun.
Begitulah isi hatiku saat itu—bukan hanya tentang menyukai seseorang, tetapi juga tentang rasa tidak layak yang kembali muncul dari luka lama.
Namun ada suara lain yang muncul dalam hatiku. Suara itu mengingatkanku, “Bukankah beberapa jam yang lalu kamu berkata bahwa kamu sudah sembuh? Bukankah kamu berkata bahwa dirimu yang lama sudah mati bersama Kristus?”
Saat itulah aku tersadar—ternyata luka itu masih hidup. Ia belum sepenuhnya selesai.
Aku pun berdoa kepada Tuhan. Untuk pertama kalinya aku mengakui dengan jujur, “Tuhan, aku minder. Aku masih merasa tidak layak.”
Dan di tengah doa itu, perlahan sebuah pengertian tumbuh dalam hatiku. Bahwa aku berharga. Bukan karena penampilanku. Bukan karena kemampuanku menulis. Bukan karena apa pun yang bisa kulakukan.
Aku berharga karena aku adalah ciptaan Tuhan.
Kesadaran itu membuatku melihat diriku berbeda. Aku pantas dicintai. Aku pantas dihargai. Dan jika suatu hari aku menyukai seseorang, itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Karena nilai diriku tidak ditentukan oleh siapa yang menerimaku atau menolakku.
Karena rasa minder itu, aku tidak pernah sempat berkenalan dengannya. Karena perasaan tidak berharga itu, aku bahkan tidak berani sekadar menjadi temannya.
Kelas SPK pun berakhir. Besar kemungkinan kami tidak akan pernah bertemu lagi.
Namun anehnya, aku tidak merasa kehilangan. Justru aku merasa bahagia.
Di kelas itu, aku menyadari sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar mengenal seorang pria. Aku memahami bahwa luka di hatiku ternyata masih ada dan masih aktif. Dan melalui proses itu, aku belajar menghadapinya.
Luka itu mungkin belum sepenuhnya hilang. Ia masih ada sebagai bagian dari masa laluku. Tetapi sekarang aku tidak lagi membiarkannya menentukan nilai diriku. Aku belajar untuk tidak minder lagi. Aku belajar untuk melihat diriku sebagaimana Tuhan melihatku.
Teman-teman, mungkin banyak di antara kita memiliki masa lalu yang kelam. Masa lalu yang melukai, yang menghancurkan, yang membuat kita sulit memahami perasaan dan luka kita sendiri.
Apa pun agama kalian, siapa pun kalian, di mana pun kalian berada, dan apa pun status kalian, aku ingin mengatakan ini dengan jujur—karena aku sudah mengalaminya sendiri:
kalian berharga.
Kalian berharga bukan karena memiliki orang tua yang lengkap. Bukan karena pendidikan yang tinggi. Bukan karena kepintaran, jurusan, atau pencapaian apa pun.
Kalian berharga karena Tuhan mengasihi kalian. Karena sejak awal, hidup kalian memiliki nilai.
Aku menuliskan semua ini bukan karena aku sudah sempurna atau sepenuhnya sembuh.
Aku hanya seseorang yang sedang belajar mengenali lukanya sendiri dan memilih untuk bertumbuh darinya.
Jika pengalamanku bisa membuat kalian sedikit lebih berani menghadapi luka kalian, maka itu sudah lebih dari cukup bagiku.
Terima kasih sudah membaca.