Boni "Rantai" bukanlah pria yang akrab dengan wewangian selain aroma aspal basah, oli mesin, dan asap rokok murahan. Tubuhnya adalah peta jalanan Jakarta; ada tato naga yang melilit dari pergelangan tangan hingga leher, dan bekas luka sabetan di alis kiri yang membuatnya terlihat seperti tokoh antagonis di film eksyen kelas kakap. Sebutan "Rantai" bukan hiasan. Dulu, dia bisa merobohkan lima orang hanya dengan kalung rantai kapal yang selalu melingkar di lehernya.
Tapi hari ini, Boni merasa lebih terancam daripada saat dikepung tim buser. Dia berdiri di depan cermin buram di kontrakan sempitnya, mencoba mengancingkan kerah kemeja putih yang terasa mencekik leher tatonya.
"Bang, kancingnya jangan dipaksa. Entar hancur itu kemeja sewaan," celetuk tawa dari pintu.
Itu si Jeki, tangan kanan Boni di terminal. Jeki masih setia dengan jaket kulit dan rambut jabriknya. Di belakangnya, gerombolan pria berwajah sangar—anak buah Boni—berbaris rapi. Mereka semua memakai batik yang ukurannya kekecilan, membuat otot-otot mereka menonjol lucu.
"Gue deg-degan, Jek. Ini lebih parah daripada tawuran lawan geng sebelah," bisik Boni. Suaranya yang berat sedikit bergetar.
"Ya iyalah, Bang. Abang mau nikahin santriwati pilihan Kyai. Bukan mau malak pedagang kaki lima!"
Hari ini adalah hari akad nikah Boni dengan Wati. Wati adalah santriwati salafy tulen. Gadis itu terbiasa dengan kitab kuning, kain jarik, dan kerudung lebar yang menutup dada. Pertemuan mereka adalah anomali dalam simulasi kehidupan. Boni menyelamatkan ayah Wati—seorang guru ngaji sepuh—dari pemerasan preman pasar gadungan. Sang guru ngaji melihat "cahaya" di mata Boni yang garang, dan entah bagaimana ceritanya, perjodohan itu terjadi.
---
Rombongan pengantin pria berangkat. Tidak ada mobil mewah. Boni memimpin di depan dengan motor custom hitamnya, diikuti tiga puluh motor operasional terminal. Bayangkan: iring-iringan preman bertato, memakai batik, membawa seserahan berupa perhiasan, sembako, hingga seperangkat alat salat (yang dibeli Boni dengan keringat halal sebagai debt collector jasa penagihan resmi, bukan preman liar lagi).
Sesampainya di pesantren, suasana mendadak sunyi. Ratusan santriwati menunduk, sementara para santri putra menatap waspada. Boni turun dari motor, melepas helm, dan merapikan rambut undercut-nya.
"Assalamualaikum," ucap Boni pelan.
"Waalaikumussalam," jawab Kyai sepuh dengan senyum teduh.
Akad berlangsung tegang. Saat Boni menjabat tangan Kyai, otot lengannya yang bertato "Hate to Love" terlihat jelas. Namun, dengan satu tarikan napas, Boni mengucapkan ijab kabul dengan lantang. Satu kali tarikan napas. Tanpa cela.
"Sah!"
Boni resmi menjadi suami Wati. Saat Wati keluar dari balik tirai untuk mencium tangan suaminya, Boni membeku. Wati sangat cantik dalam balutan putih yang sangat sederhana. Wajahnya bersih tanpa make-up berlebihan, hanya aura kedamaian yang terpancar. Saat jemari lembut Wati menyentuh kulit tangan Boni yang kasar dan penuh bekas luka, Boni merasa seperti tersengat listrik surga.
"Mohon bimbingannya, Mas Boni," bisik Wati pelan.
Boni menelan ludah. Gue yang harusnya dibimbing, Sayang, batinnya menjerit.
Malam harinya, di kamar kayu sederhana di lingkungan pesantren, Boni duduk kaku di pinggir kasur. Dia merasa seperti gorila yang nyasar di toko keramik. Wati sedang merapikan mukena.
"Mas Boni mau ngaji?" tanya Wati polos.
Boni nyengir kuda. "Mas cuma hafal Al-Fatihah sama Qulhu, Dek. Itu juga sering ketuker sama lirik lagu Slank."
Wati tertawa kecil. Suaranya seperti musik yang menenangkan kegaduhan di kepala Boni. "Nggak apa-apa. Kita mulai dari Alif-Ba-Ta ya?"
Baru saja Boni mau membalas gombalan tipis-tipis, ponselnya bergetar hebat. Nama di layar: Jeki Terminal.
"Bang! Gawat! Gudang sembako Haji Saleh dibakar anak buah si Macan. Mereka bilang ini kado pernikahan buat lu!" suara Jeki panik di seberang sana.
Rahang Boni mengeras. Mata tenangnya mendadak berubah tajam. Aura premannya kembali keluar dalam sekejap. Dia lupa kalau di depannya ada istrinya yang baru saja selesai salat Isya.
"Siapkan anak-anak. Jangan ada yang gerak sebelum gue sampai. Jangan bawa senjata tajam, bawa kunci Inggris sama rante aja," perintah Boni dingin.
Wati menatap suaminya dengan cemas. "Mas mau ke mana?"
Boni terdiam. Dia menatap Wati, lalu menatap jaket kulitnya yang tergantung di kursi. "Dek... ada urusan kerjaan bentar. Masalah terminal."
"Mas masih... main fisik?" tanya Wati lirih.
Boni mendekat, berlutut di depan istrinya. "Mas janji ini buat terakhir kalinya. Mereka ganggu orang kecil. Mas nggak bisa diam. Tapi Mas janji, nggak akan ada darah di tangan Mas yang bakal Mas pake buat pegang tangan kamu besok pagi."
Wati diam sejenak, lalu mengambil tangan Boni dan menciumnya. "Pulang sebelum Subuh ya, Mas. Kita mulai kelas Alif-Ba-Ta-nya."
---
Boni melesat membelah malam. Di gudang terminal, suasana mencekam. Si Macan, preman saingan Boni yang iri karena Boni mulai "insyaf" dan menguasai jalur pengamanan secara legal, sudah siap dengan bensin dan parang.
"Woy, pengantin baru! Mana keris lu? Atau lu udah ganti pake tasbih?" ejek Macan disambut tawa anak buahnya.
Boni turun dari motor. Dia melepas kemeja putihnya, menyisakan kaos dalam singlet hitam yang mengekspos seluruh tato naga di tubuhnya. Dia tidak membawa rantai. Dia hanya membawa tangan kosong.
"Gue udah janji sama bini gue nggak bakal bikin lo masuk rumah sakit," kata Boni tenang. "Tapi gue nggak janji kalau cuma bikin lo masuk puskesmas."
Perkelahian pecah. Boni bergerak seperti badai. Meskipun dia berusaha "tobat", skill bertarungnya yang sudah terasah puluhan tahun tidak hilang. Dia menangkis sabetan parang dengan lengan bawah yang keras seperti besi, lalu membalas dengan satu pukulan telak ke ulu hati Macan.
Dalam sepuluh menit, area itu bersih. Anak buah Macan lari kocar-kacir. Macan sendiri terkapar sambil memegang perutnya.
Jeki mendekat. "Habisin aja Bang, biar nggak tuman!"
Boni menatap tangannya yang lecet. Dia teringat wajah Wati. "Nggak. Panggil ambulans. Bilang sama mereka, terminal ini sekarang di bawah perlindungan 'Suami Santri'. Siapa pun yang berbuat onar, urusannya sama doa istri gue."
Jeki dan anak-anak terminal melongo. "Doa istri, Bang?"
"Iya. Doa dia tembus ke langit. Lo mau dilaknat?" ancam Boni. Mereka semua serentak menggeleng.
---
Pukul 04.30, Boni sampai di depan gerbang pesantren. Dia membersihkan sisa debu dan bau keringat di pancuran wudu. Dengan langkah gontai tapi pasti, dia masuk ke kamar.
Wati sudah bangun, memakai mukena putih bersih. Dia melihat luka kecil di pipi Boni. Tanpa banyak tanya, Wati mengambil kotak P3K.
"Sakit, Mas?" tanya Wati sambil menempelkan kapas alkohol.
"Nggak sesakit kalau Mas kehilangan kamu, Dek," jawab Boni, mencoba
cheesy.
Wati tersenyum tipis. "Mas, jadi preman itu capek ya? Harus jaga wilayah terus."
"Dulu iya. Sekarang Mas mau jaga kamu aja."
"Kalau gitu, sekarang kita mulai ngajinya. Ikuti Wati ya... Alif..."
Boni menarik napas panjang. Pria yang ditakuti seluruh preman Jakarta Timur itu kini duduk bersila, dengan lidah yang kaku, mengikuti suara lembut istrinya.
"A-alif..." ucap Boni terbata-bata.
Wati memperbaiki makhraj Boni dengan sabar. Di luar, suara azan Subuh berkumandang. Boni merasa inilah pertarungan terberat sekaligus terindah dalam hidupnya: menaklukkan egonya sendiri di bawah bimbingan seorang wanita yang bahkan tidak pernah melihat kekerasan.
Beberapa bulan berlalu. Boni benar-benar berubah. Dia mengelola jasa keamanan legal dan logistik terminal dengan jujur. Anak buahnya yang dulu preman liar, sekarang wajib pakai baju rapi dan dilarang maki-maki.
Suatu hari, saat Boni sedang membereskan lemari di rumah baru mereka, dia menemukan sebuah kotak tua milik Wati. Isinya bukan kitab kuning. Isinya adalah... Sabuk Hitam Karate dan sertifikat juara pencak silat tingkat nasional.
Boni melongo. Dia membawa sabuk itu ke dapur tempat Wati sedang memotong sayur.
"Dek... ini apa?"
Wati menoleh, lalu tersenyum manis. "Oh, itu. Dulu sebelum masuk pesantren, Wati itu atlet pencak silat, Mas. Bapak yang nyuruh Wati masuk pesantren biar lebih kalem."
Boni menelan ludah. "Berarti waktu Mas bilang mau ke terminal lawan Macan kemarin..."
"Wati tahu Mas bakal menang. Tapi kalau Mas kalah pun, Wati sebenarnya udah siap nyusul pake motor ojek buat bantuin Mas nendang mereka semua," kata Wati enteng sambil terus memotong wortel dengan kecepatan luar biasa—yang baru disadari Boni adalah teknik pisau tingkat tinggi.
Boni terduduk lemas di kursi meja makan. Dia tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa ketawa, Mas?"
"Nggak... Mas cuma mikir. Ternyata kita emang jodoh, Dek. Yang satu preman mau jadi santri, yang satu santri ternyata suhu bela diri."
Wati mendekat, mengecup kening Boni. "Yang penting kan sekarang kita satu saf, Mas. Mas imamnya, Wati makmumnya. Tapi kalau imamnya macem-macem, makmumnya bisa tendangan sabit."
Boni merangkul istrinya. "Siap, Nyai Guru!"
Malam itu, di bawah lampu jalanan terminal yang redup namun tenang, Boni Rantai menyadari satu hal: kekuatan sejati bukan ada pada rante atau tato, tapi pada keberanian untuk menjadi lembut di tangan orang yang tepat. Dan untuk pertama kalinya, Boni tidak lagi takut pada hari esok. Karena selama ada Wati di sampingnya, bahkan neraka jalanan pun terasa seperti taman surga yang sejuk.
---