Marni selalu percaya bahwa suaminya, Bambang, adalah magnet keberuntungan yang salah alamat.
Bayangkan, pria itu setiap hari pulang dengan tubuh berlumuran semen, aroma keringat matahari yang menyengat, dan tangan sekasar parutan kelapa. Namun, ada satu hal yang membuat Marni tetap bertahan selain cinta: Aura. Bambang punya aura yang tidak masuk akal. Kalau dia berjalan melewati kumpulan kucing liar, kucing-kucing itu akan berbaris rapi seperti sedang menyambut jenderal. Kalau dia duduk di warung kopi yang sepi, lima menit kemudian warung itu pasti penuh sesak sampai pemiliknya kewalahan.
“Mas, kamu itu buruh bangunan atau pawang massa?” tanya Marni suatu sore sambil membersihkan sisa plamir di kuping Bambang.
Bambang cuma nyengir, memperlihatkan gigi putihnya yang kontras dengan wajahnya yang gosong. “Mungkin karena Mas ikhlas, Dek. Masang keramik pakai hati, ngaduk semen pakai perasaan.”
---
Suatu hari, Bambang diterima bekerja di proyek renovasi rumah mewah milik seorang pengusaha nyentrik bernama Pak Subrata. Pak Subrata ini terkenal galak, pelit, dan tidak percaya pada siapapun. Sudah lima kontraktor dipecat dalam sebulan.
Namun, sejak Bambang menginjakkan kaki di sana sebagai tukang aduk semen cadangan, suasana berubah.
Mandor proyek, Pak Tejo, keheranan. "Bambang, kamu berdiri di situ sebentar saja."
Bambang menurut. Dia berdiri memegang sekop di dekat tembok yang retak. Anehnya, Pak Subrata yang biasanya hobi teriak-teriak pakai toa, tiba-tiba keluar rumah dengan wajah damai. Begitu melihat Bambang, Pak Subrata merasa seperti melihat air terjun di tengah gurun.
"Kamu... siapa namamu?" tanya Pak Subrata dengan nada lembut yang hampir membuat Pak Tejo pingsan.
"Bambang, Pak. Buruh harian," jawab Bambang lugu.
"Bambang... kamu punya aura biru laut yang menenangkan. Mulai hari ini, kamu jangan ngaduk semen. Tugasmu cuma satu: berdiri atau duduk di dekat saya setiap kali saya sedang pusing mikirin saham," perintah Pak Subrata.
Maka resmilah Bambang naik jabatan menjadi "Ajudan Aura". Gajinya naik tiga kali lipat, tapi kerjanya cuma menemani Pak Subrata makan siang atau sekadar memperhatikan Pak Subrata main golf di halaman belakang.
---
Di rumah, Marni mulai curiga. Bambang pulang makin sore, tapi bajunya makin bersih. Tidak ada lagi bau semen. Yang ada malah bau parfum *sandalwood* mahal.
"Mas, kamu jujur sama aku. Kamu masih jadi kuli, kan? Kok baumu kaya direktur?" selidik Marni sambil memicingkan mata.
"Masih, Dek. Cuma sekarang Mas bagian... pengawasan kualitas udara," jawab Bambang jujur tapi bohong.
Marni tidak percaya. Dia menduga Bambang jadi simpanan tante-tante kaya. Maka, keesokan harinya, dengan daster batik dan kacamata hitam yang dibeli di pasar kaget, Marni membuntuti Bambang ke lokasi proyek.
Sesampainya di sana, mulut Marni menganga. Dia melihat suaminya duduk di kursi santai di pinggir kolam renang, sementara seorang pria tua kaya (Pak Subrata) sedang curhat sambil menangis sesenggukan di bahu Bambang.
"Bambang... istri saya selingkuh sama instruktur yoga, anak saya mau jadi rockstar gagal. Hanya di dekatmu saya merasa tenang..." ratap Pak Subrata.
Bambang cuma menepuk-nepuk bahu Pak Subrata. "Sabar, Pak. Hidup itu ibarat semen. Kalau cair terus ya nggak jadi tembok, kalau keras terus ya retak. Harus pas takarannya."
Marni yang melihat dari balik pohon kamboja merasa bingung. *Suamiku ini buruh bangunan atau terapis spiritual?*
---
Puncak keanehan terjadi saat sebuah sindikat perampok bersenjata menyatroni rumah Pak Subrata malam-malam, tepat saat Bambang sedang lembur "menenangkan" Pak Subrata yang baru saja rugi investasi kripto.
Lima pria bertopeng masuk lewat jendela. "Diam! Serahkan semua perhiasan!" teriak pemimpin perampok.
Pak Subrata gemetar. Tapi Bambang tetap tenang. Dia berdiri, perlahan mendekati para perampok itu. Anehnya, semakin Bambang mendekat, para perampok itu justru menurunkan senjatanya. Mereka mulai merasa... ngantuk. Dan damai.
"Bang, kok saya jadi pengen pulang dan minta maaf sama Ibu saya ya?" bisik salah satu perampok sambil menjatuhkan pistolnya.
"Iya, Bang. Tiba-tiba saya ngerasa berdosa. Aura Abang ini kok kaya malaikat pencabut rindu," sahut perampok lainnya.
Dalam sekejap, lima perampok itu justru sujud di kaki Bambang, bertobat massal sambil menyerahkan diri ke polisi. Pak Subrata makin kagum. Bambang dianggap pahlawan.
Marni akhirnya melabrak Bambang malam itu juga. "Mas! Jelaskan semuanya! Kenapa perampok bisa tobat dan orang kaya bisa jinak sama kamu?"
Bambang menghela napas panjang. Dia masuk ke kamar dan mengambil sebuah botol kecil dari tas kerjanya yang kusam. Di label botol itu tertulis: "BIBIT PARFUM KASTURI ASLI - EKSTRAK BUNGA KANTIL & SEREH."
"Maksudnya apa, Mas?"
"Dek, sebenarnya Mas itu bukan punya kekuatan gaib. Waktu kecil, kakek Mas itu dukun pengasihan yang gagal. Dia cuma mewariskan satu resep ramuan minyak yang kalau kena keringat manusia, reaksinya bakal menciptakan feromon yang bikin orang di sekitar merasa rileks, patuh, dan jatuh cinta."
Bambang melanjutkan, "Mas selalu pakai minyak ini di ketiak sebelum kerja. Karena Mas buruh bangunan dan banyak keringat, aromanya menyebar ke mana-mana. Orang-orang kira itu aura atau karisma, padahal itu cuma reaksi kimia keringat kuli ketemu minyak kakek."
Marni terdiam. "Jadi selama ini aku cinta sama kamu karena... minyak ketiak?"
Bambang tertawa kecil. "Enggak, Dek. Kalau kamu kan beda. Kamu cinta sama aku pas minyaknya habis, kan?"
Marni berpikir sejenak. "Iya sih. Pas kamu bau kecut juga aku tetap sayang."
---
Cerita tidak berhenti di situ. Pak Subrata yang tahu rahasia "aura" Bambang bukannya marah, malah mengajak Bambang kerja sama.
Kini, Bambang bukan lagi buruh bangunan. Dia menjadi CEO dari perusahaan "Aura-Tech", yang memproduksi pengharum ruangan khusus untuk ruang sidang, kantor pajak, dan ruang tunggu rumah sakit agar semua orang tidak emosian.
Nama produk unggulannya? "Sweat of Wisdom" (Keringat Kebijaksanaan).
Dan Bambang tetap rendah hati. Meski sudah jadi miliarder, setiap hari Minggu dia tetap memakai celana kolor bolong dan duduk di depan rumah, menikmati aura aslinya: aura bapak-bapak yang hobi pelihara burung perkutut dan lupa bayar iuran sampah.
Karena bagi Bambang, pesona sejati bukan berasal dari minyak ketiak kakeknya, melainkan dari saldo rekening yang selalu penuh untuk membahagiakan Marni.
---