Di malam yang dingin ini, angin menerbangkan dedaunan kering di luar jendela kamar kosku. Cahaya lampu meja yang sedikit redup membuat layar laptop ku tampak semakin terang, tapi mata ku malah terus melirik foto kecil di sudut meja – aku dan Diana saat SD, tangan saling menjepit erat dengan senyum lebar di wajah kita. Sesuatu yang mengganjal di dalam dada membuatku tidak bisa fokus menyelesaikan laporan kerja yang harus dikirim besok pagi. Pikiran ku selalu terpaku pada satu nama saja. Diana ya, sedang apa dia sekarang?
Kenapa aku selalu memikirkan dia? Padahal sejak lulus SMA, jalur hidup kita berbeda – dia kuliah di kota lain dan kini bekerja sebagai dokter di rumah sakit daerah sana, sementara aku memilih bekerja di perusahaan teknologi di Makassar. Kita jarang bertemu, hanya terkadang chat singkat atau video call di hari raya. Padahal aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa selain sahabat dari kecil. Tapi mengapa hati dan pikiran ini seakan berkata lain? Apa mungkin aku punya perasaan lebih kepadanya?
Tapi mana mungkin aku jatuh cinta kepada dia, bisik ku pelan sambil mengusap foto lama itu. Kan aku dan Diana punya janji khusus sejak kecil.
Ingatan kembali datang deras. Saat kita masih kelas 6 SD, di bawah pohon beringin sekolah kita, kita berdua bersumpah dengan tangan di dada. "Kalau nanti kita besar, kita harus selalu menjaga satu sama lain sebagai sahabat terbaik. Tidak boleh ada yang mengubahnya, sampai mati!" ucap Diana kala itu dengan wajah serius yang lucu. Aku langsung menyanggupi tanpa ragu.
Aku menarik napas dalam-dalam dan menatap kembali layar laptop. Mungkin saja perasaan yang muncul sekarang cuma karena aku merindukan kebersamaan lama kita. Atau mungkin karena akhir-akhir ini aku merasa kesepian sendirian di kosan. Ya, pasti itu saja. Janji yang kita buat dulu adalah hal yang paling penting bagiku. Dan aku akan menjaganya sampai akhir hayat ku.
Beberapa minggu kemudian, suara dering ponsel ku membuatku terkejut – nama Diana muncul di layar. "Halo aku mau ke Makassar minggu depan nih, ada acara kerja sama rumah sakit lokal. Bisa ketemu kah?" ucap suaranya yang sudah lama tidak kubaca langsung. Hatiku berdebar kencang tapi aku cepat menjawab, "Tentu dong! Kita bisa makan malam sama aja."
Hari itu tiba dengan cepat. Ketika melihat Diana masuk ke restoran tempat kita janjian, aku hampir tidak percaya mata. Wanita cantik dengan rambut panjang yang kini sudah sedikit berpangkal abu-abu, mengenakan baju kasual tapi tetap terlihat anggun. Senyumnya masih sama seperti dulu – hangat dan membuat hatiku bergetar.
"Kamu tetap aja sama ya, selalu datang terlambat!" ucap dia sambil tertawa, sama seperti dulu saat kita masih sekolah. Kita cerita banyak hal – tentang pekerjaannya yang kadang membuatnya lelah tapi penuh makna, tentang kehidupanku yang sering terjebak deadline proyek. Sampai akhirnya dia terdiam sejenak, menatapku dengan mata yang sedikit serius.
"Aku mau cerita sesuatu," ucap dia pelan. "Beberapa bulan lalu, ada teman kerja yang mengajak aku menikah. Dia baik dan mencintaiku. Tapi aku merasa ada yang kurang. Aku tidak bisa berhenti berpikir tentang seseorang yang selalu ada di pikiranku sejak kecil..."
Hatiku berhenti sejenak. Jantungku berdebar kencang dan mulutku terasa kering. Apakah mungkin... pikirku sebelum bisa menyelesaikannya.
"Dia adalah sahabat terbaik ku yang selalu menjaga janji," lanjut dia sambil menatap mata ku. "Kita pernah punya janji untuk selalu menjaga satu sama lain sampai mati. Tapi apa kamu pikir, janji itu bisa saja berubah bentuk menjadi sesuatu yang lebih dalam?"
Aku terdiam lama, memikirkan semua perasaan yang pernah kubendung. Maka aku pun membuka hati dan bercerita tentang malam dingin itu, tentang pikiran yang selalu terpaku padanya, dan tentang bagaimana aku selalu menjaga janji kita dengan segenap hati.
"Janji kita untuk saling menjaga sampai mati itu tetap ada," ucap ku dengan suara mantap. "Cuma mungkin kita salah mengartikan bentuknya dulu. Menjaga satu sama lain sebagai pasangan hidup juga termasuk bagian dari menjaga janji kan?"
Diana meneteskan air mata bahagia dan mengangguk. Tangannya menemukan tanganku di atas meja, sama seperti dulu saat kita bersumpah di bawah pohon beringin – tapi kali ini, sentuhan itu membawa makna yang lebih dalam.
Aku terdiam lama, memikirkan semua perasaan yang pernah kubendung. Maka aku pun membuka hati dan bercerita tentang malam dingin itu, tentang pikiran yang selalu terpaku padanya, dan tentang bagaimana aku selalu menjaga janji kita dengan segenap hati.
"Janji kita untuk saling menjaga sampai mati itu tetap ada," ucap ku dengan suara mantap. "Cuma mungkin kita salah mengartikan bentuknya dulu. Menjaga satu sama lain sebagai pasangan hidup juga termasuk bagian dari menjaga janji kan?"
Diana meneteskan air mata bahagia dan mengangguk. Tangannya menemukan tanganku di atas meja, sama seperti dulu saat kita bersumpah di bawah pohon beringin – tapi kali ini, sentuhan itu membawa makna yang lebih dalam. Kita sepakat untuk memulai hubungan baru, dengan janji yang sama namun makna yang lebih dalam.
Namun takdir punya rencana sendiri. Hanya tiga hari setelah pertemuan itu, aku mendapatkan panggilan darurat dari rumah sakit tempat Diana bekerja. "Buat apa kamu bergegas jalan malam hari sendiri?" ucap dokter dengan suara berat saat memberitahukan bahwa Diana mengalami kecelakaan lalu lintas saat hendak pulang dari acara kerja sama.
Saat aku tiba di rumah sakit, Diana sudah tidak bisa lagi bicara dengan jelas. Dia hanya bisa melihatku dengan mata penuh cinta dan rasa tidak tega. Tangannya lembut menyentuh wajah ku, lalu dia mengangkat jempolnya – tanda kita saat kecil untuk menyatakan bahwa kita akan selalu menjaga janji. Aku menangis sambil memegang tangannya erat.
"Kita... janji... sampai mati..." ucap dia dengan suara pelan sebelum napasnya terhenti.
Aku merenung sambil menatap foto lama kita di kamar kosku beberapa hari kemudian. Hujan deras mengetuk jendela, seperti menangis bersama ku. Aku mengambil pena dan menulis kata-kata di buku catatan lama kita: "Kan ku jaga janji ini sampai mati. Sekarang bahkan setelah mati, aku akan tetap menjagamu di hatiku. Janji kita tidak akan pernah pudar."
Aku menyimpan foto itu dekat hati ku, bersumpah bahwa cinta dan janji kita akan terus hidup selama aku masih bernapas – dan bahkan setelahnya.