Waktu berlalu begitu cepat tepat diusia kehamilan mamah 7 bulan dan pre eklampsi mamah mengalami kejang, dan melahirkan wanita kecil 🤏 pre mature dengan nama keluarga dan tidak ada yang sama,
Anak itu bernama elita septiani dia sering membaca koran saat masih usia 3 tahun saat TK taman kanak-kanak lalu, lalu dia bersembunyi dibalik pohon karet, penuh ulat bulu dan gatal-gatal saat dirumah, diobati dengan salep dan bedak, laporan sama mamah sering sekali menyiksa karena dy bermain di siang hari tanpa tidur siang, bermain bersama laki-laki saat SD,main galasin
Nina :"el,kita main galasin yuk"
Ka Risna :" Iya besok ke sekolah ikut sama kakak" Besoknya saya kesekolah setelah selesai taman kanak-kanak ikut kakak, saat itu umur saya baru 5 tahun "
Dan kami senang bermain bersama,kemudian di kelas 4 SD saking keasikan bermain dan belajar,saya dan orang tuaa ke sumatera melakukan silaturahmi keluarga,
Ke air depan rumah,dan ke sungai dekat rumah namanya aek muara sada, saya ketemu ansor dan kami bibi serta saya berenang, ansor 1 x berenang dy tidak pernah mau bermain air dengan saya
dan saya selalu meminum susu di botol susu, susu selama SD kelas 6 waktu itu ada bayi bernama dzakwan adek lelaki satu satunya,
Hari itu masuk SMP negeri tapi pak Darsono selalu menelpon saat masa operasi mamah anak ke dua kehamilan 9 bulan lewat 3 minggu, dy bilang
Darsono :" Assalamualaikum bu, gimana kabarnya? " Sudah lahiran? Saya mau menawarkan anak ibu di Sekolah menengah pertama negeri "
Mamah :"maaf Tidak, saya sedang gawat melahirkan dan harus operasi butub ketenangan" Untuk sekolah dimana saja bisa "
Darsono "iya bu, baik lah "
Saya rasa sudah mau lahiran, sudah pembukaan 5
Lalu mamah di ruang operasi karena tidak tahan dengan sakitnya, semua terasa aneh saat siuman mamah meracau
Bapak selalu disamping mamah, kemudian saya bilang " Kapan kita ke sekolah " Nanti mamah sehat dulu
Lihat setelah sehat, pergi ke kampung melihat sawah yang terjual dan sewa kembali untuk biaya hidup dan lahiran, mamah dan bapak berdagang, lalu memiliki tanah karet, rumah di kampung
SMA saya memakai arit membantu bibi mengambil padi, lalu melakukan masak memasak untuk makan di angin semilir sepoi-sepoi bersama keluarga
Setelah elita septiani besar dy punya gelar doktor dan bahagia beserta keluarga besarnya seorang kepala yayasan dan manager serta hidup bahagia
- tamat -
Judul ke 2 :
" Cewek pelakor "
Ini tentang syifa, meisya
Kelihatannya Syifa cuma kecapean biasa, tapi pas sampai di gerbang rumah... B O M! 💣 Teman kantornya kaget setengah mati melihat..
9
Berbeda dengan Meisya dan Khalil, Syifa justru sedang asyik ngobrol ke sana kemari.
“Kalian tahu gak sih, kemarin suami aku tiba-tiba ngajak aku jalan-jalan ke Eropa setelah ketahuan chattingan mesra sama cewek. Kocak banget, deh!”, ujar Hilda salah satu teman kantornya.
“Lah, terus?”
“Ya, aku terima aja ajakan suami. Tapi, aku gak korek-korek lagi tentang kedekatan suami dan cewek itu. Aku lebih fokus ke karier, perawatan wajah, dan layanan ekstra sama suami. Aku takutnya suami kaya gitu memang karena pelayanan aku sebagai istri kurang. Intinya sih, harus ada komunikasi yang sehat.”
“Oh, gitu. Syukurlah, gak sampai dinikahi kan?”
“ya, gak lah Syif. Alhamdulilah. Kalau kamu sendiri gimana sama suami, aman kan?”
“Aku bingung mau cerita sama kalian dari mana. Suamiku.. hmm, uok..uok”, jawab Syifa sambil mual-mual. Mukanya pun terlihat pucat dan lemas.
“Kenapa? Syifa, kamu gapapa kan?”, tanya teman-teman yang lainnya.
“Antar aku ke toilet aja.”,ujar Syifa.
Mereka mengantarkan Syifa menuju toilet kafe. Nampaknya, Syifa lemas dan susah untuk diajak jalan. Sambil menunggu, temannya itu bertanya-tanya.
“Ada apa dengan Syifa, ya? Akhir-akhir ini dia tampak murung dan jarang sekali ceria seperti biasanya.”, tanya Hilda.
Tak lama, Syifa pun keluar dari toilet dan ia muntah-muntah di westafel. Karena tak enak dengan pengunjung lainnya, Hilda menawarkan Syifa untuk beroba ke dokter. Sayang, tawarannya itu ditolak halus oleh Syifa.
“Gapapa, ini hanya kecapean. Antar aku saja ke rumah”
“Tapi, Syifa”
“Udah, gapapa”
Dan apa boleh buat, mereka pun dengan terpaksa mengantar Syifa ke rumah. Dan yang mengantar Syifa ini adalah Hilda saja. Teman yang lainnya kebetulan dihubungi suami masing-masing untuk menikmati hari sabtu bersama keluarga.
“Syifa, maaf ya. Aku cuma bisa ngantar kamu sampai sini aja naik mobil. Nih, suami aku chat mulu buat segera pulang. Soalnya mau staycation di puncak.”
“Sama aku juga, tumben-tumbenan banget suami aku nelpon mulu liat deh?”, ujar salah satu temannya yang menunjukkan history panggilan di layar hpnya.
Dan ya, Syifa rupanya kembali pulih setelah tanpa obrolan seputar dunia rumah tangga. Ia terlihat lebih tenang dari pada tadi.
Selama di perjalanan, tak ada obrolan apa pun yang berkaitan dengan rumah tangga. Hilda yakin, Syifa sedang tidak baik-baik saja.
Dan sambil menikmati alunan lagu favorit di mobil, Syifa tampak lebih tenang. Ia justru lebih suka membahas aneka makanan yang wajib mereka kunjungi ketika weekend.
“Hil, lo tahu gak cirambay yang dijual di foodcourt Braga, asli enak banget. Pedasnya pas, aroma bawang putihnya bikin nagih. Udah coba belum?”
“Oh, yang di sana. Gue belum coba. Minggu depan kita ke sana, yuk!”
Sementara itu, Meisya dan Khalil juga sedang di perjalanan menuju rumah. Mereka tampak bahagia karena menyambut kedatangan bayi yang sudah lama dinanti. Dengan alunan lagu romantis, mereka juga asyik bercengkrama mengingat masa-masa pertemuan mereka.
“Mas inget gak?”
“Apa?”
“Waktu itu, aku kan masih jadi pelayan di Toko Buku. Terus kamu bikin onar buka plastik buku yang masih disegel. Dibaca iya, dibeli kagak. Sebel banget, eh kamu nyogok so soan minta maaf dan minta nomor telepon.“haha, iya ya. Inget banget, terus pas kamu ngasi nomer telepon yang angkat telepon aku bukan kamu tapi mantan pacarmu.”
“Haha, dia marah-marah lo. Sangkanya aku selingkuh sama kamu, mas. Pada kenyataannya, dia yang selingkuh dari aku. Alibi pengen putus yang aku putus sama mantan. Awalnya aku terima maafmu karena memang aku dulu nyaman banget curhat sama kamu sampai kecantol hatinya.”
“Siapa dulu, dong.”
“Hmm, dasar jodoh itu jorok, ya. Aku harap kamu itu adalah jodoh dunia akhiratku. Tak boleh ada yang mengambil cintamu selain anak kita.”
Mendengar pernyataan itu, Khalil menundukkan kepala sebentar. Lalu, menarik nafas dan segera mencium kening Meisya. Tak berhenti sampai di sana, tangan kiri Khalil tak berhenti mengelus tangannya hingga mereka pun akhirnya sampai di depan gerbang rumah. Dan datanglah satpam jaga yang membuka pintu gerbang.
Sementara di mobil yang lain, Hildan tampak bingung depan pemandangan di depannya. Ia melihat Khalil mengantarkan seorang perempuan muda yang tengah hamil besar.
“Syifa, itu Khalil sama si elita septiani“Oh, itu Meisya.”
Mendengar kode bukan, Hilda pun sudah mulai curiga. Ini benar-benar di luar dugaan. Perempuan secantik dan sebaik Syifa bisa didua oleh suami yang selalu dibanggakan. Karena kesal, Hilda turun dari mobil dan mengajak Syifa jalan meski dalam kondisi lemas.
“Mbok mana, pak? Tolong panggilin”, tanya Syifa.
Mendengar suara khas Syifa, Khalil pun membalikkan badan. Nampaknya ia kaget, melihat kondisi Syifa yang lemas. Dan ia pun mulai bingung, memilih antar Meisya atau ikut bantu Syifa masuk ke rumah.
Hilda pun menatap perempuan yang tengah hamil itu dari atas sampai bawah. Perbandingannya sangat jauh, harusnya Syifalah yang menang. Aneh banget, memang. Ada saja laki-laki yang kurang bersyukur memiliki istri secantik Syifa. Karena penasaran, Hilda pun memperkenalkan diri pada Meisya.
“Hai, saya Hilda. Temannya Syifa”
“Salam kenal, Meisya. Istri kedua Mas Khalil”
Dugaan Hilda betul, Syifa memang didua oleh suaminya. Dan tak lama, Mbok Midun datang sambil membawa kursi roda.
“Ini ada kursi roda, buat Bu Syifa aja ya? Pak. Soalnya, Bu Syifa juga lemas.”
“Oh, iya boleh”
Perasaan Khalil mulai terasa tenang. Tapi, tidak dengan Meisya.
“Dih, manja banget. Kecapean doang harus naik kursi roda. Kebiasaan kayanya, deh!”,gumam Meisya dalam hati.
Sementara itu, Hildan masih setia mengantarkan Syifa sambil mendorong kursi roda. Lalu, mengantarkannya hingga kamar tidur di lantai 2. Tatapan Hildan semakin sinis, melihat ke me sraan Khalil dan Meisya menuju ka mar.
“Ya ampun, geli banget. Gue gak tahu bagaimana perasaan Syifa selama ini. Kenapa gak pindah rumah aja. Sih? Risih, tau!”, Hilda bertanya pada hati kecilnya.
Karena merasa iba pada Syifa, Hilda menawarkan diri untuk mengantarkan Syifa untuk berobat atau sekadar menemaninya hingga tidur.
“Syifa, mau berobat sekarang gak? Biar gue anter, mumpung lagi libur”
“Gak, hil makasih. Nanti gue dianter Khalil, kok.”
“Atau gak gue temenin sekarang sampai tidur ya?”
“Haha ya ampun, Hilda gue gapapa kok kalem aja. Doain gue aja semoga kuat dan pahalanya mengalir deras untuk gue. Ibadah kan bukan salat doang”
“Maa Syaa Allaah, keren banget temen gue yang satu ini. Yaudah, gue pulang ya. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk hubungi gue. Satu lagi, jangan setres ya!”
Sekarang, Syifa tinggal seorang diri di kamar. Suaminya lebih mementingkan istrinya yang tengah ham il besar.
(tamat)