Di sebuah gang yang kalau malam lebih sering ribut suara knalpot daripada suara jangkrik, berdirilah rumah bertingkat milik Bu Lastri.
Lantai bawah adalah kerajaan Bu Lastri dan tiga putrinya. Lantai atas? Surga sekaligus neraka bagi Zilva.
Enam kamar kos pria. Enam aroma parfum berbeda. Enam potensi bikin hati deg-degan.
Zilva, anak sulung, tipe perempuan yang cantiknya kalem. Rambut panjang tergerai, tatapan lembut, dan senyum yang cuma muncul kalau benar-benar tulus. Dia bukan tipe yang gampang teriak “ih ganteng banget!” cuma karena ada laki-laki lewat.
Berbeda 180 derajat dengan adik keduanya,Rani.
Rani itu makhluk unik. Sedikit tomboy, jalannya lebih cepat dari niat, dan kalau lihat pria napasnya suka kayak lagi habis lari maraton.
“Ka! Itu abang laundry ganteng banget!”
“Itu bapak-bapak udah nikah, Ran.”
“Yang penting pria, Ka!” Zilva cuma bisa elus dada.
Adik ketiga, Lala, masih SMP. Tugasnya cuma satu: jadi penonton paling rajin drama keluarga.
***
## Aroma yang Mengguncang Iman
Suatu sore, ketika Zilva sedang menyiram bunga, langkah itu terdengar.
Tenang. Berat. Mantap.
Dan sebelum sosoknya terlihat, wanginya sudah lebih dulu menyapa.
Itu dia.
Fajrilah.
Penghuni kamar nomor tiga.
Pria maskulin dengan potongan rambut rapi, lengan sedikit berotot, kulit bersih terawat. Setiap minggu kurir datang membawa paket—face wash, serum, sunscreen, body lotion.
“Cowok kok rajin banget skincare,” gumam Rani suatu hari.
“Kenapa? Kamu iri?” jawab Zilva.
“Enggak sih. Cuma takut kalah glowing.”
Fajrilah selalu menyapa sopan.
“Assalamualaikum, Mbak Zilva.”
Dan setiap kali itu terjadi, hati Zilva rasanya seperti:
**JEDOR.**
Bukan deg-degan lagi. Itu kayak pintu hati didobrak pakai tabung gas.
****
## Rani dan Dunia Maya
Sementara Zilva sibuk menata rasa dalam diam, Rani sibuk menata status.
“Ka, aku lagi deket sama kakak kelas. Anak basket.”
“Minggu lalu anak band.”
“Itu beda lagi.”
Rani gampang jatuh cinta. Lebih gampang lagi bangkitnya. Tapi sayangnya, sering dimanfaatkan.
Uang pulsa? Rani yang bayarin.
Tugas? Rani yang ngerjain.
Janji ketemu? Laki-lakinya yang menghilang.
Belum lagi cinta dunia maya.
Cowok-cowok random DM dengan foto profil ganteng tapi aslinya entah siapa.
Zilva sering menegur.
“Ran, jangan gampang percaya.”
“Ka, hidup itu harus gesrek. Kalau kalem terus kayak Kak Zilva, kapan nikahnya?”
Zilva terdiam.
Kalimat itu kadang terasa seperti tamparan lembut.
****
## Tabrakan yang Tak Direncanakan
Hari itu listrik padam. Bu Lastri menyuruh Zilva naik mengecek MCB.
Tangga kayu rumah itu terkenal suka bunyi. Krek. Krek.
Saat Zilva sampai di atas, pintu kamar nomor tiga terbuka.
Dan…
Brak!
Zilva menabrak dada Fajrilah.
Bukan dada biasa. Dada hangat beraroma kayu dan citrus.
Maaf, Tuhan.
“Eh, maaf!” Fajrilah spontan memegang bahunya.
Zilva membeku.
Rasanya jantungnya bukan cuma jedor, tapi sudah konser dangdut full sound system.
“Gak apa-apa…” suaranya lirih.
Lampu dari jendela membuat wajah Fajrilah terlihat semakin tegas. Ada lesung samar saat dia tersenyum.
Dan di detik itu, Zilva tahu.
Dia jatuh. Bukan lagi terpeleset. Tapi benar-benar jatuh.
***
## Gesrek yang Mulai Menggila
Sejak kejadian itu, Zilva mulai memperhatikan hal kecil.
Cara Fajrilah menyetrika baju dengan rapi.
Cara dia menunduk sopan saat berbicara dengan Bu Lastri.
Cara dia membantu Lala membawa galon tanpa diminta.
Rani pun tak tinggal diam.
“Ka, si kamar tiga kayaknya suka sama kamu deh.”
“Jangan ngaco.”
“Kalau dia gak suka, ngapain sering senyum ke kamu? Ke aku aja enggak.”
“Karena kamu kalau lihat dia langsung teriak ‘Abang wangi!’.”
Rani cengengesan.
Tapi dalam candaan itu, Zilva mulai berharap.
Dan berharap adalah awal dari gesrek paling berbahaya.
**"
## Rahasia di Balik Wangi
Suatu malam, Zilva tanpa sengaja mendengar percakapan di teras atas.
Suara Fajrilah. Dan seorang wanita.
Zilva mengintip dari balik pintu tangga.
Wanita itu cantik. Anggun. Pakaiannya rapi. Tatapannya lembut ke arah Fajrilah.
Tangan mereka saling menggenggam.
“Sebentar lagi aku pindah kerja ke luar kota,” suara Fajrilah pelan.
“Kita lanjutkan rencana itu, ya.”
Wanita itu mengangguk.
“InsyaAllah, mas.”
Rencana?
Zilva merasa dunia berhenti.
Jedor yang biasa terasa hangat, kini seperti hantaman palu.
***
## Hari Terakhir Kamar Nomor Tiga
Seminggu kemudian, koper besar tergeletak di lorong kos.
Bu Lastri sibuk menyiapkan air minum perpisahan kecil. Rani berkali-kali memandang Fajrilah dengan wajah sedih dramatis seolah kehilangan aktor favorit.
Zilva berdiri paling belakang.
Fajrilah mendekat.
“Mbak Zilva… terima kasih sudah selalu ramah.”
Zilva tersenyum. Sempurna. Tenang. Seolah hatinya tak sedang runtuh.
“Semoga sukses di tempat baru.”
“Doakan saya segera menikah ya.”
Kalimat itu seperti pisau tipis yang rapi menyayat.
“In sya Allah,” jawab Zilva pelan.
Tak ada pengakuan dan adegan dramatis.
Hanya langkah kaki turun tangga.
Dan aroma wangi yang perlahan menjauh.
***
## Setelah Jedor, Hanya Sunyi
Malam itu, Rani masuk kamar Zilva tanpa ketuk.
“Ka… kamu nangis?”
Zilva cepat mengusap pipi.
“Enggak.”
Rani duduk di sampingnya.
“Ka, maaf ya kalau aku sering bilang kamu terlalu kalem. Ternyata nahan rasa itu sakit juga.”
Zilva tersenyum pahit.
“Ran, gak semua cinta harus dimiliki. Kadang cukup dirasakan.”
Rani terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tak punya candaan.
Di luar, kamar nomor tiga kosong.
Tak ada lagi paket skincare. Wangi citrus. Dan tidak ada lagi jedor yang bikin dunia terasa hidup.
Zilva berdiri di balkon lantai dua. Angin malam menerpa wajahnya.
Cinta pertamanya…
datang seperti parfum mahal—menyentuh lembut, membekas lama, tapi tak bisa dimiliki.
Dan di rumah kos itu, kehidupan terus berjalan.
Rani tetap gesrek dengan cinta-cinta barunya.
Lala tetap jadi penonton setia.
Bu Lastri tetap menghitung uang sewa.
Sementara Zilva…
belajar bahwa tak semua yang bikin hati bergetar akan tinggal.
Kadang, yang tersisa hanya kenangan dan ruang kosong di kamar nomor tiga.
Dan setiap kali ada penghuni baru lewat dengan wangi berbeda,
hati Zilva tak lagi jedor.
Hanya berbisik pelan.
“Semoga kali ini… bukan sekadar tamu.”
****
Rumah Bu Lastri itu bukan rumah biasa.
Dari luar terlihat seperti rumah keluarga sederhana di gang yang kalau pagi dipenuhi suara motor pegawai berangkat kerja dan kalau sore dipenuhi gosip ibu-ibu. Tapi siapa sangka, lantai dua rumah itu adalah dunia lain.
Enam kamar kos pria.
Enam pintu dengan warna cokelat tua yang kalau malam terlihat seperti portal menuju drama kehidupan.
Zilva, anak sulung Bu Lastri, sudah terbiasa dengan itu semua. Sejak SMA, dia membantu ibunya mengurus kos-kosan. Mulai dari nyuci sprei, bersihin lorong, sampai menerima paket.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah bisa ia biasakan. Yaitu aroma yang khas. Karena di antara enam penghuni, ada satu yang wanginya selalu berbeda.
Fajrilah.
Pria penghuni kamar nomor tiga.
***
### Rumah yang Tak Pernah Sepi
Zilva punya dua adik perempuan.
Rani, si anak kedua. Rambut dikuncir asal, kaos longgar, celana training, dan suara lebih lantang dari toa masjid.
Lala, si bungsu, masih SMP, tapi sudah ahli jadi komentator kehidupan orang lain.
“Ka, kamar dua bayar listrik belum,” teriak Rani dari bawah tangga.
“Udah aku catat.”
“Terus kamar tiga dapet paket lagi!”
Zilva mengangkat kepala.
“Kamar tiga?”
“Iya. Kayaknya skincare lagi. Cowok apa apotek berjalan sih.”
Zilva pura-pura tidak peduli. Padahal jantungnya sedikit berdetak lebih cepat.
Paket itu selalu datang dua minggu sekali. Kotaknya rapi. Labelnya branded. Kadang serum, kadang sunscreen, kadang toner khusus pria.
Rani pernah nyeletuk,
“Ka, dia lebih glowing dari kita bertiga digabung.”
Zilva hanya menahan senyum.
***
### Pertemuan Pertama yang Tidak Dramatis
Tidak ada adegan slow motion waktu pertama kali Zilva melihat Fajrilah.
Tidak ada musik romantis.
Yang ada cuma suara tangga kayu yang berbunyi krek-krek dan Zilva yang hampir terpeleset karena lantai habis dipel.
Fajrilah dengan sigap menahan tangannya.
“Pelan, Mbak.”
Tangannya hangat.
Tatapannya tenang.
Suaranya berat tapi lembut.
Sejak saat itu, setiap kali mendengar langkah kaki turun tangga dari kamar nomor tiga, hati Zilva seperti disetrum halus.
Bukan yang lebay.
Tapi cukup untuk bikin ia sadar: ada sesuatu yang berubah.
****
### Rani dan Standar Kegantengan yang Meresahkan
Rani punya standar tampan yang fleksibel.
Sangat fleksibel.
“Ka, abang galon ganteng.”
“Itu bapak-bapak, Ran.”
“Gak apa-apa, yang penting pria.”
“Ka, satpam komplek senyumnya manis.”
“Itu lagi sakit gigi.”
Rani selalu jatuh cinta dengan cepat. Dan sering bangkit dengan dramatis.
Satu minggu nangis karena diputusin anak band.Minggu berikutnya update status “single happy”. Dua hari kemudian sudah posting foto tangan berdua dengan cowok baru.
Zilva sering mengingatkan, tapi Rani selalu menjawab santai,
“Hidup itu harus gesrek, Ka! Kalau terlalu kalem kayak Kak Zilva, nanti keburu kiamat baru nikah.”
Zilva pura-pura kesal, padahal kalimat itu kadang menusuk.
Karena memang benar.
Zilva tidak pernah berani terlalu maju dalam urusan hati.
***
### Aroma yang Mengguncang Logika
Sore itu, hujan turun deras.
Zilva naik ke lantai dua untuk menutup jendela lorong.
Pintu kamar nomor tiga terbuka sedikit. Angin mendorongnya perlahan.
Dan dari dalam, aroma itu menguar.
Wangi kayu lembut bercampur citrus. Bersih. Hangat. Menenangkan.
Zilva tidak sengaja melihat Fajrilah sedang berdiri di depan cermin kecil. Mengoleskan skincare dengan telaten. Tidak buru-buru. Tidak asal.
Serius sekali.
Seperti sedang merawat sesuatu yang berharga.
Dan entah kenapa, Zilva merasa…
ingin jadi sesuatu yang diperhatikan seperti itu.
“Eh…”
Fajrilah menoleh.
Zilva panik.
“A-aku cuma mau nutup jendela.”
“Oh iya. Hujan deras.”
Hening sesaat.
Rani tiba-tiba muncul dari tangga.
“Abang wangi banget sumpah!”
Zilva ingin menghilang.
Fajrilah tertawa kecil.
Dan suara tawanya itu… seperti tambahan efek suara di kepala Zilva.
**JEDOR.**
****
### Tangga Kayu dan Degup yang Tak Wajar
Malam hari, listrik padam mendadak.
Bu Lastri menyuruh Zilva mengecek MCB.
Tangga kayu terasa lebih gelap dari biasanya. Lampu darurat hanya menyala samar.
Langkah kaki dari arah lorong terdengar.
Zilva berbalik.
Dan…
Brak.
Ia menabrak dada Fajrilah.
Refleks, pria itu memegang bahunya agar tidak jatuh.
Dalam gelap, jarak mereka terlalu dekat.
Zilva bisa merasakan napasnya.
Bisa mencium wanginya lebih jelas.
Bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang tak terkendali.
“Maaf… gelap,” kata Fajrilah pelan.
“G-gak apa-apa.”
Lampu tiba-tiba menyala.
Mereka saling menatap beberapa detik terlalu lama.
Rani muncul lagi entah dari mana.
“Waduh, ini adegan FTV banget.”
Zilva menutup wajahnya.
***
### Awal dari Sesuatu yang Tidak Ia Akui
Sejak malam itu, Zilva mulai sadar.
Ia memperhatikan jam berapa Fajrilah pulang.
Ia hafal suara langkahnya.
Ia tahu kapan aroma itu menyebar di lorong.
Dan setiap kali mereka bertemu, senyum kecil itu selalu ada.
Tidak pernah berlebihan dan menggoda.
Tapi cukup untuk membuat hati Zilva merasa istimewa.
Ia mulai berharap. Berharap yang sederhana saja.
Mungkin suatu hari, pria kamar nomor tiga itu akan duduk lebih lama di ruang tamu.
Mungkin suatu hari, mereka akan berbincang bukan sekadar basa-basi.
Dan tanpa disadari, cinta itu tumbuh pelan.
Tidak berisik seperti cinta Rani.
Tidak dramatis.
Tapi dalam. Diam-diam. Mengakar.
Zilva belum tahu…
Bahwa akar yang terlalu dalam, jika tercabut, akan menyisakan luka yang sulit sembuh.
Dan di atas tangga kayu yang sering berbunyi krek-krek itu,
kisahnya baru saja dimulai.
***
Sejak insiden tabrakan di tangga kayu itu, hidup Zilva terasa… berbeda.
Bukan berubah drastis dan jadi drama sinetron. Tapi ada getar kecil yang selalu muncul setiap mendengar suara pintu kamar nomor tiga dibuka.
Krek.
Langkah kaki mantap turun tangga.
Dan aroma itu—wangi kayu bercampur citrus mengambang di lorong seperti notifikasi cinta yang tak bisa di-silent.
*****
### Paket yang Datang Lebih Sering dari Chat Gebetan
Siang itu kurir datang lagi.
“Kamar tiga, Mbak.”
Zilva menerima paket dengan wajah setenang mungkin.
Labelnya jelas: skincare pria premium.
Rani muncul seperti hantu kepo.
“Ka, dia lebih setia sama serum daripada sama perempuan kayaknya.”
Zilva menahan senyum.
“Setidaknya dia konsisten.”
“Kalau konsisten ke Kak Zilva juga bagus tuh.”
Zilva langsung melempar kain lap ke arah Rani.
“Ngaco.”
Padahal dalam hati, ia membayangkan sesuatu yang terlalu manis untuk diakui.
Bagaimana kalau suatu hari nanti…
paket yang datang bukan lagi skincare?
Tapi cincin?
Astaga.
Zilva menepuk jidatnya sendiri.
“Gesrek banget sih kamu, Zilva.”
****
### Percakapan yang Terlalu Nyaman
Sore itu, Bu Lastri minta tolong Fajrilah membantu memperbaiki kran bocor di dapur bawah.
Dan untuk pertama kalinya, Fajrilah duduk lebih lama di ruang keluarga.
Zilva menyiapkan teh.
Rani sengaja duduk paling depan, siap jadi komentator.
“Kamu kerja di mana, Mas?” tanya Bu Lastri.
“Di perusahaan logistik, Bu. Bagian operasional.”
Suaranya tenang. Tidak banyak gaya. Tidak sok keren.
Zilva memperhatikan detail kecil.
Tangannya bersih. Kukunya rapi.
Cara duduknya sopan.
Cara menatap lawan bicara tidak pernah kurang ajar.
“Mas Fajrilah punya pacar?” celetuk Rani tanpa rem.
Zilva tersedak teh.
Bu Lastri melotot.
“Rani!”
Fajrilah tersenyum tipis.
“Belum.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi efeknya di dada Zilva seperti petasan tahun baru.
JEDOR.
Ia menunduk cepat-cepat.
Belum.
Artinya… ada kemungkinan?
Harapan itu tumbuh seperti rumput liar.
Tidak diminta.
Sulit dihentikan.
*****
### Rani dan Drama Dunia Maya
Sementara itu, kehidupan Rani tetap penuh roller coaster.
Satu malam ia menangis karena cowok online yang katanya kuliah di luar negeri tiba-tiba menghilang.
“Kak… dia ghosting aku.”
“Kamu pernah video call?” tanya Zilva pelan.
“Enggak sih…”
“Pernah ketemu?”
“Belum…”
Zilva menarik napas.
“Ran, kamu harus lebih hati-hati.”
Rani menatap kosong.
“Aku cuma pengen ada yang serius sama aku, Ka.”
Kalimat itu membuat Zilva terdiam.
Karena jauh di dalam, ia pun merasakan hal yang sama.
Bedanya, Rani berani mengejar.
Zilva hanya berani berharap.
****
### Hujan dan Pengakuan yang Hampir Terucap
Suatu malam hujan turun deras. Listrik kembali padam.
Tangga kayu jadi medan licin penuh bayangan.
Zilva naik untuk memastikan jendela lorong tertutup.
Di ujung koridor, Fajrilah berdiri memandang hujan.
Sendirian.
Zilva mendekat pelan.
“Hujannya deras ya.”
“Iya. Kayaknya lama.”
Hening.
Suara hujan seperti latar musik yang terlalu cocok.
“Mas… betah di sini?” tanya Zilva, mencoba terdengar santai.
“Betah. Tempatnya nyaman.”
Lalu ia menoleh.
“Terutama orang-orangnya.”
Dunia seakan melambat.
Tatapan itu tidak biasa.
Tidak seperti basa-basi.
Jantung Zilva berdebar lebih keras dari suara hujan di atap seng.
Ia ingin bertanya lebih jauh.
Ingin tahu lebih dalam.
Tapi langkah kaki Rani tiba-tiba terdengar dari tangga.
“Ka! Wifi mati lagi!”
Suasana buyar.
Fajrilah tersenyum kecil.
“Sepertinya saya harus turun.”
Dan lagi-lagi, momen itu menggantung.
*****
### Harapan yang Terlalu Cepat Berlari
Malam itu, Zilva sulit tidur.
Ia membayangkan kemungkinan-kemungkinan.
Bagaimana kalau Fajrilah memang sedang membuka hati?
Bagaimana kalau ia hanya perlu sedikit lebih berani?
Ia tidak ingin jadi seperti Rani yang sering terluka.
Tapi ia juga lelah hanya jadi penonton rasa sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Zilva berpikir:
Mungkin… tidak apa-apa mencoba.
Keesokan paginya, ia berdiri lebih lama di depan cermin.
Memilih baju yang sedikit lebih rapi.
Mengurai rambut lebih hati-hati.
Rani memperhatikan dengan senyum licik.
“Wah, ada yang mau perang cinta.”
“Diam.”
“Ka… jangan cuma nunggu. Kalau suka, kasih kode.”
Zilva terdiam.
Memberi kode?
Ia bahkan belum yakin apakah kode itu akan dibaca… atau diabaikan.
Dan di lantai dua, kamar nomor tiga masih tertutup rapat.
Tak ada yang tahu bahwa di balik pintu itu, ada rahasia yang belum terungkap.
Rahasia yang perlahan akan mengubah semua harapan menjadi sesuatu yang tak pernah Zilva bayangkan.
Karena cinta yang tumbuh diam-diam…
kadang juga hancur tanpa suara.
******
Hari itu terasa biasa saja.
Terlalu biasa untuk sebuah hari yang diam-diam sedang menyiapkan patah hati.
Zilva sedang melipat cucian di ruang tengah ketika terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Bukan motor pegawai.
Bukan kurir.
Mobil sedan hitam.
Rani langsung mengintip dari jendela seperti reporter infotainment.
“Ka… kamar tiga kedatangan tamu cewek.”
Zilva mencoba terlihat tenang.
“Oh.”
Padahal jantungnya sudah berdetak tidak wajar. Ia naik ke lantai dua dengan alasan mengecek lorong. Tangga kayu berbunyi seperti biasa, tapi kali ini setiap bunyinya terasa seperti hitungan mundur.
Di ujung koridor, pintu kamar nomor tiga terbuka.
Seorang wanita berdiri di sana. Anggun. Rapi. Wajahnya dewasa. Tatapannya tenang. Dan Fajrilah berdiri sangat dekat dengannya. Terlalu dekat. Zilva berhenti beberapa langkah dari mereka.
“Mas, aku udah urus semua berkasnya,” suara wanita itu lembut. “Tinggal kamu siap pindah.”
Pindah?
Kata itu menggantung di udara seperti bom waktu.
Fajrilah mengangguk.
“Iya. Sebentar lagi.”
Wanita itu tersenyum, lalu menggenggam tangan Fajrilah.
Zilva merasa napasnya tercekat.
Tangannya gemetar.
Wangi citrus yang dulu terasa hangat kini terasa asing.
***
### Percakapan yang Menampar
Malamnya, Bu Lastri mengadakan makan kecil di bawah karena Fajrilah pamit.
Rani tampak murung.
Lala ikut-ikutan sedih meski tidak terlalu paham kenapa.
Zilva duduk paling ujung, mencoba terlihat biasa.
Fajrilah berdiri dan berbicara pelan.
“Terima kasih sudah menerima saya di sini. Banyak kenangan baik.”
Zilva tersenyum tipis.
Kenangan baik.
Baginya itu bukan sekadar kenangan.
Itu adalah harapan yang diam-diam ia bangun setiap hari.
Setelah makan, Fajrilah mendekat.
“Mbak Zilva.”
“Iya, Mas?”
“Saya mau minta maaf kalau selama ini ada salah.”
“Gak ada kok.”
Hening sejenak.
“Saya akan menikah bulan depan.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Tapi efeknya seperti gedung runtuh di dalam dada.
Zilva tidak menangis dan berteriak. Ia hanya merasa sesuatu dalam dirinya patah dengan sangat rapi.
“Oh… selamat ya.”
Suara itu terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri.
“Terima kasih. Doakan lancar.”
“Iya.”
Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada harus mendoakan kebahagiaan seseorang… yang kita harapkan untuk diri sendiri.
******
### Tangga Kayu yang Terakhir
Keesokan harinya, koper besar sudah siap di depan kamar nomor tiga.
Rani membantu membawakan kardus.
“Abang jangan lupa sama kami ya.”
Fajrilah tersenyum.
“InsyaAllah tidak.”
Zilva berdiri sedikit jauh.
Tak ada lagi harapan tersisa.
Tak ada lagi kode yang ingin ia berikan.
Hanya pelajaran.
Saat Fajrilah turun tangga untuk terakhir kalinya, aroma itu kembali menyentuh udara.
Wangi yang dulu membuat jantungnya jedor.
Kini terasa seperti kenangan yang perlahan menjauh.
Mobil sedan hitam kembali datang.
Wanita itu turun dan membantu memasukkan koper.
Sebelum masuk mobil, Fajrilah menoleh sekali lagi ke arah rumah.
Tatapannya berhenti pada Zilva.
Sebentar.
Hanya sebentar.
Lalu mobil itu pergi.
Dan kamar nomor tiga resmi kosong.
*******
## Epilog — Tidak Semua Jedor Adalah Takdir
Beberapa minggu berlalu.
Penghuni baru datang.
Wanginya berbeda.
Langkahnya berbeda.
Segalanya berbeda.
Zilva tetap menjalani hari seperti biasa. Membantu ibunya. Mengawasi kos. Menjadi kakak bagi Rani dan Lala.
Rani kini mulai berubah.
Setelah beberapa kali tersakiti oleh cinta dunia maya, ia mulai lebih hati-hati.
“Ka,” suatu malam Rani berkata pelan, “aku kira cinta itu harus heboh. Ternyata yang tenang aja bisa bikin sakit banget ya.”
Zilva tersenyum.
“Iya, Ran.”
Ia berdiri di balkon lantai dua, memandang kamar nomor tiga yang kini berpenghuni baru.
Tidak ada lagi wangi citrus. Dan tidak ada lagi detak jedor yang mengacaukan logika. Yang tersisa hanya dirinya yang lebih dewasa.
Ia sadar sesuatu. Cinta tidak selalu datang untuk dimiliki. Kadang ia datang hanya untuk mengajari.
Mengajari tentang keberanian yang terlambat.Tentang harapan yang terlalu cepat.Dan sikap diam yang kadang menjadi penyesalan.
Zilva tidak membenci Fajrilah. Ia hanya menyimpan kenangan itu di sudut hati yang tidak lagi perih.
Karena suatu hari nanti, mungkin akan ada seseorang yang bukan sekadar tamu di lantai dua.
Seseorang yang tidak hanya membawa wangi,tapi juga tinggal. Dan jika saat itu tiba, Zilva tidak akan hanya diam.
Namun untuk sekarang, ia tersenyum kecil.
Tangga kayu itu masih berbunyi krek-krek. Kos-kosan tetap hidup dengan cerita baru. Sementara kisahnya dengan kamar nomor tiga…resmi selesai.
Tanpa gaduh dan balas dendam.
Hanya jedor yang berubah menjadi sunyi dan hampa.
**Tamat.**