Julian adalah definisi dari "hidup tanpa batas" yang sering diagung-agungkan di media sosial. Berasal dari pinggiran Amsterdam, pria dengan rahang tegas dan tato geometris di sekujur lengannya ini menghabiskan satu dekade hidupnya sebagai high-end party promoter. Baginya, moralitas hanyalah konstruksi sosial yang membosankan. Dosa? Julian tidak mengenali kata itu. Baginya, hidup adalah tentang high-end dopamine: alkohol termahal, hubungan tanpa komitmen yang datang dan pergi secepat slide Instagram, hingga zat-zat psikotropika yang membuat otaknya merasa seperti sedang surfing di awan neon.
Namun, ketahuilah kawan, bahwa mesin secanggih apa pun akan mengalami overheat jika dipaksa bekerja di luar kapasitasnya. Begitu juga jiwa manusia.
Di usianya yang menginjak 32 tahun, Julian merasakan sebuah kekosongan yang sangat teknis. Dia merasa seperti sebuah hard drive yang penuh dengan file sampah (junk files). Setiap pagi, dia terbangun dengan hangover yang bukan lagi sekadar sakit kepala, melainkan sakit eksistensial. Dia menatap cermin di apartemen mewahnya yang menghadap kanal, dan dia tidak mengenali pria yang menatap balik. Matanya redup, jiwanya tampak seperti browser yang kebanyakan membuka tab tapi tidak ada satu pun yang benar-benar penting.
"I'm done," bisiknya suatu malam, setelah sebuah pesta pora di Ibiza yang seharusnya membuatnya senang, tapi justru membuatnya ingin menghilang dari peta bumi. "I've done everything. I've tasted every sin. And I'm still empty. Why am I so empty?"
Julian lelah. Sangat lelah. Dia telah melakukan semua kesalahan yang bisa dilakukan manusia modern. Dia mengkhianati kepercayaan, merusak tubuhnya sendiri, dan menertawakan konsep Tuhan sebagai dongeng pengantar tidur untuk orang-orang lemah. Tapi ironisnya, di puncak kebebasannya, dia justru merasa terpenjara dalam labirin nafsunya sendiri.
Dia memutuskan untuk melakukan "pelarian terakhir". Dia mengemasi tas ranselnya, menjual mobil sport-nya, dan memesan tiket satu arah ke Istanbul. Kenapa Istanbul? Dia sendiri tidak tahu. Mungkin karena dia butuh tempat di mana sejarah dan modernitas bertabrakan, atau mungkin karena secara bawah sadar, dia rindu pada sesuatu yang lebih tua dari peradaban hura-hura yang dia jalani.
Sore itu, Julian berjalan menyusuri area Sultanahmet. Dia merasa seperti anomali di tengah kerumunan. Tato di lehernya dan gaya berpakaiannya yang sangat streetwear kontras dengan suasana religius di sana. Tiba-tiba, sebuah suara bergema membelah langit senja.
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Itu suara Adzan dari Blue Mosque. Bagi turis lain, itu mungkin hanya latar belakang suara yang eksotis untuk konten vlog. Tapi bagi Julian, frekuensi suara itu seperti sebuah defrag otomatis bagi sistem otaknya yang kacau. Ada sesuatu dalam nada itu yang terasa seperti panggilan pulang—bukan pulang ke rumah di Amsterdam, tapi pulang ke dalam dirinya sendiri.
Dia masuk ke dalam masjid, bukan sebagai turis yang memegang kamera, tapi sebagai pria yang sedang sekarat secara spiritual. Dia duduk di sudut karpet biru yang luas. Dia melihat orang-orang bersujud. Ada seorang kakek tua di sampingnya yang sedang memegang tasbih, bibirnya bergerak pelan, wajahnya memancarkan kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan Bitcoin sebanyak apa pun.
Julian merasa sangat kotor. Dia teringat semua botol yang dia habiskan, semua hati yang dia patahkan, dan semua malam yang dia habiskan dalam kegelapan moral. Dia merasa seperti perangkat yang penuh virus yang mencoba masuk ke dalam jaringan yang sangat suci.
"Apakah ada tempat untuk sampah sepertiku di sini?" gumam Julian dalam bahasa Inggris, nyaris tak terdengar.
Si kakek tua di sampingnya menoleh. Dia tidak paham bahasa Inggris dengan fasih, tapi dia paham bahasa air mata. Dia meletakkan tangannya yang keriput di atas bahu Julian.
"Allah... Rahman," kata si kakek dengan aksen Turki yang kental. "Allah... Rahim. No matter... how much... sin. Come. Just come."
Seketika, pertahanan Julian runtuh. Dia menangis sejadi-jadinya di bawah kubah besar itu. Dia merasa seperti sedang melakukan Format Factory pada seluruh hidupnya. Semua dosa yang dia lakukan selama sepuluh tahun terakhir seolah-olah ditarik keluar dari pori-porinya melalui air mata itu. Dia merasa kerdil, dia merasa malu, tapi anehnya, dia merasa sangat dicintai oleh sesuatu yang tidak bisa dia lihat.
Malam itu, Julian tidak kembali ke hotelnya. Dia menghabiskan waktu di pelataran masjid, berbicara dengan seorang imam muda yang fasih berbahasa Inggris. Mereka tidak bicara tentang hukum yang kaku atau ancaman neraka yang membara. Sang Imam bicara tentang pintu hidayah yang lebarnya melebihi jarak antara timur dan barat.
"Julian," kata Imam itu dengan tenang, "Islam bukan tentang menjadi sempurna. Islam adalah tentang mengakui bahwa kita retak, dan membiarkan cahaya Tuhan masuk melalui retakan itu. Setiap langkahmu menuju Tuhan, Dia akan berlari menujumu. Masa lalumu? Itu adalah cache yang sudah dihapus. Hari ini, kamu adalah new version."
Kata-kata itu adalah mind-blowing bagi Julian. Selama ini dia pikir dia harus "bersih" dulu baru bisa beragama. Ternyata, agama adalah sabun untuk mereka yang kotor, bukan piala untuk mereka yang sudah suci.
Keesokan harinya, Julian mengucapkan dua kalimat syahadat. Suaranya bergetar, lidahnya yang terbiasa mengucap kata-kata kasar kini mengecap manisnya iman untuk pertama kalinya. Ashhadu alla ilaha illallah...
Pov: Lo baru saja melakukan The Great Reset pada jiwa lo, dan rasanya lebih melegakan daripada memenangkan lotre satu triliun.
Bulan-bulan berikutnya tidaklah mudah. Julian harus berjuang melawan kecanduan lamanya, godaan dari teman-teman lamanya yang memanggilnya kembali ke jalur "asik", dan rasa bersalah yang kadang masih muncul di tengah malam. Tapi sekarang, dia punya antivirus yang kuat: Shalat lima waktu.
Bagi Julian, shalat adalah waktu charging. Dia tidak lagi butuh kafein berlebih atau zat kimia untuk merasa "hidup". Saat keningnya menyentuh lantai, dia merasa seluruh beban dunianya ditransfer ke bumi, dan jiwanya diangkat ke langit.
Dia mulai menggunakan akun media sosialnya yang dulu penuh dengan konten pamer kekayaan untuk berdakwah dengan cara yang sangat underrated dan satisfying. Dia mengunggah foto tatonya dengan caption: "The ink is permanent, but my sins are deleted by His Mercy. Allah doesn't look at your skin, He looks at your heart."
Banyak pengikutnya yang kaget. Banyak yang menghujat dan menyebutnya "kena mental". Tapi tidak sedikit yang mengirim pesan rahasia: "Bro, gue juga lelah sama hidup gue. Gimana caranya biar bisa tenang kayak lo?"
Julian tersenyum. Dia menjawab mereka satu per satu dengan bahasa Gen Z yang mereka mengerti. Dia tidak menggurui, dia hanya bercerita tentang betapa indahnya menjadi hamba yang dimaafkan.
Hidayah bagi Julian bukanlah sebuah garis finish, melainkan sebuah jalan panjang yang penuh dengan tantangan. Tapi kali ini, dia tidak lagi berjalan dalam kegelapan. Dia punya cahaya yang menuntunnya, sebuah algoritma langit yang jauh lebih cerdas daripada AI mana pun di dunia ini.
Ketahuilah, kawan, bahwa tidak ada kata terlambat untuk log in kembali. Seberapa banyak pun error yang kamu buat, seberapa sering pun kamu crash, Sang Pencipta selalu punya opsi 'Restore to Factory Settings' bagi mereka yang mau bersujud.
Julian, si bule mualaf itu, kini telah menemukan rumahnya. Bukan di Amsterdam, bukan di Istanbul, tapi di dalam rida-Nya. Dia adalah bukti nyata bahwa sekelam apa pun tinta yang menulis masa lalumu, kamu selalu punya hak untuk menulis akhir cerita yang cerah dengan tinta tobat.
Satisfying banget, kan? Melihat seseorang yang tadinya hancur berkeping-keping, kini utuh kembali hanya karena satu kata: Kembali.