POV: Glitch in the Matrix — Nancy Melawan Arus dengan Energi "Kalo Gue Hancur, Lu Juga Harus Log Out"
Malam itu, Jakarta tidak sedang menangis untuk Nancy. Hujan yang turun justru terasa seperti background music dari sebuah video TikTok galau yang gagal masuk FYP. Nancy masih terduduk di aspal parkiran mal yang dingin, memandangi layar HP-nya yang retak seribu. Di layar itu, wajah ibunya muncul dalam notifikasi panggilan tak terjawab ke-20. Hati Nancy rasanya seperti diparut pakai parutan keju karatan. Sakit, perih, dan sangat tidak estetik.
"Gue nggak bisa begini terus," bisik Nancy. Suaranya serak, bercampur dengan isak tangis yang sudah mencapai level mental breakdown maksimal. "Gue udah di titik terendah. Dan kata orang bijak, kalo udah di dasar, nggak ada jalan lain selain naik ke atas. Atau... ya sekalian aja gali lubang buat ngubur penjahatnya."
Ketahuilah, kawan, bahwa orang yang paling berbahaya bukanlah mereka yang punya segalanya, melainkan mereka yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Nancy telah kehilangan pekerjaan, pacar red flag-nya yang kabur entah ke mana, harga diri yang diinjak-injak di grup WhatsApp keluarga, dan laptop tempat dia menyimpan seluruh portofolio hidupnya. Dia adalah akun yang hampir di-suspend oleh takdir. Tapi, di sisa-sisa baterai HP-nya yang tinggal 3%, sebuah notifikasi aneh muncul.
Bukan dari penagih utang. Bukan dari ibunya. Tapi dari sebuah aplikasi tanpa nama dengan ikon "Glitch" hitam-putih.
"Target Terdeteksi: Bagas Si Penjagal Data. Mau balas dendam secara estetik? [YES] / [NO]"
Nancy mengerutkan kening. Apakah ini virus? Atau mungkin otaknya sudah mulai berhalusinasi karena kurang asupan seblak dan terlalu banyak tekanan batin? Tanpa pikir panjang, dengan jari yang gemetar karena kedinginan, dia menekan tombol [YES].
Tiba-tiba, layar HP-nya berubah menjadi hijau neon. Ratusan baris kode mengalir secepat air terjun. Nancy merasa seperti sedang menonton film The Matrix versi low budget. Tapi kemudian, sebuah peta muncul. Titik merah berkedip di sebuah ruko tua di kawasan Jakarta Barat. Itu lokasi Bagas. Dan yang lebih mengejutkan, di bawah peta itu tertulis: "Saldo Rekening Rahasia Bagas: Rp1,2 Miliar (Hasil Perasan Darah Rakyat)."
"Satu koma dua miliar?" Mata Nancy membelalak. "Gue cuma utang lima juta tapi diteror kayak buronan internasional, sementara dia punya duit segini dari hasil nindas orang?"
Seketika, rasa takut Nancy menguap, digantikan oleh adrenalin murni. Dia tidak lagi merasa seperti gadis naas yang ditimpuk masalah. Dia merasa seperti karakter utama dalam game RPG yang baru saja mendapatkan cheat code permanen.
Nancy bangkit berdiri. Dia mengusap air matanya, membetulkan letak ranselnya yang basah, dan berjalan keluar dari parkiran mal dengan langkah yang tidak lagi ragu. Dia memesan ojek online terakhir dengan sisa saldo e-wallet-nya. Tujuannya cuma satu: Ruko tua di peta itu.
Di dalam perjalanan, Nancy menatap lampu-lampu kota yang blur karena hujan. Dia teringat kata-kata Tere Liye dalam salah satu bukunya: “Bahwa hidup adalah tentang menerima, bukan tentang melepaskan yang sudah pergi.” Tapi malam ini, Nancy memilih definisi baru: “Bahwa hidup adalah tentang meretas balik sistem yang udah ngerusak kebahagiaan lo.”
Sesampainya di depan ruko yang tampak seperti sarang penyamun itu, Nancy bersembunyi di balik tempat sampah besar. Dia melihat Bagas dan anak buahnya lagi asyik tertawa sambil menghitung tumpukan uang tunai di atas meja kayu yang dekil. Mereka kelihatan sangat puas, seolah-olah mereka adalah raja dunia.
"Klik tombol [REVERSE ENCRYPTION] untuk menyebarkan data kejahatan mereka ke server kepolisian," perintah aplikasi di HP Nancy.
Nancy menarik napas dalam-dalam. "Ini buat foto KTP gue yang lo sebar, Bang Sat," gumamnya. Jarinya menekan tombol itu dengan penuh dendam.
Seketika, printer di dalam ruko itu menyala sendiri. Mencetak ribuan lembar dokumen berisi daftar korban, bukti transfer ilegal, dan foto-foto Bagas saat sedang melakukan kekerasan. Bagas kaget. Dia mencoba mematikan printernya, tapi mesin itu seolah kesurupan. Tak lama kemudian, speaker di ruko itu berbunyi kencang, memutar rekaman suara Bagas saat mengancam Nancy di parkiran mal tadi.
"Apa-apaan ini?!" Bagas teriak panik. Dia melihat HP-nya sendiri yang tiba-tiba terkunci dengan tulisan: "AKUN ANDA TELAH DI-LOGOUT OLEH KEADILAN."
Tapi Nancy belum selesai. Dia menekan satu tombol lagi: [DISTRIBUTE WEALTH].
Dalam hitungan detik, saldo Rp1,2 miliar milik Bagas mulai berkurang secara otomatis. Duit itu ditransfer balik ke rekening para korban yang pernah diperas oleh Bagas, termasuk rekening Nancy dan biaya pengobatan ibunya di kampung. HP Nancy bergetar berkali-kali. Notifikasi masuk: "Transfer Masuk: Rp50.000.000 (Refund Penderitaan Psikologis)."
Nancy tersenyum tipis. Ini adalah momen paling healing yang pernah dia rasakan. Lebih mantap daripada meditasi di Ubud.
Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar mendekat. Nancy tahu waktunya untuk pergi. Dia tidak ingin berada di sana saat drama penangkapan dimulai. Dia ingin menghilang secara misterius, seperti hero di komik-komik yang dia baca saat kecil.
Namun, ketahuilah, kawan, bahwa setiap tindakan punya konsekuensi. Saat Nancy ingin melangkah pergi, Bagas melihatnya dari jendela ruko. Matanya merah penuh amarah. Dia keluar dengan membawa sebilah pisau lipat, mengejar Nancy yang lari masuk ke dalam kegelapan gang.
"LO YANG LAKUIN INI KAN, NANCY?!" teriak Bagas.
Nancy berlari sekuat tenaga. Napasnya memburu. Dia masuk ke sebuah gang buntu. Anxiety-nya kembali datang. Pov: Lo udah menang tapi tetep mau mati karena kena mental. Nancy terpojok. Bagas mendekat dengan seringai yang sangat villain banget.
"Lo pikir lo pahlawan? Lo cuma butiran debu yang kebetulan dapet hoki!" Bagas mengangkat pisaunya.
Nancy memejamkan mata. Dia sudah siap untuk game over. Tapi, tiba-tiba sebuah suara klakson motor yang sangat kencang memecah suasana. Seorang pengendara motor dengan helm full face muncul, menghalangi Bagas. Pengendara itu turun, dan dengan satu gerakan silat yang sangat estetik, dia melumpuhkan Bagas hingga tersungkur ke tanah. Polisi datang tepat waktu untuk memborgol Bagas.
Pengendara motor itu membuka helmnya. Nancy ternganga. Itu adalah pemilik kosannya yang selama ini dia kira galak dan cuma tahu nagih sewa.
"Nance, kamu nggak apa-apa?" tanya Ibu Kos dengan nada khawatir. "Saya dapet notifikasi dari aplikasi 'Warga Siaga'. Ternyata kamu lagi dikejar penjahat ini."
Nancy menangis lagi, tapi kali ini tangis syukur. Ternyata, di dunia yang penuh dengan sistem jahat, masih ada orang-orang real yang peduli.
Ketahuilah, kawan, bahwa tragedi Nancy berakhir bukan dengan kekayaan yang melimpah ruah seperti di film-film sultan, tapi dengan sebuah pelajaran berharga. Bahwa hidup memang seringkali menimpuk kita dengan masalah, tapi selama kita punya keberanian buat menekan tombol 'lawan', semesta bakal kasih jalan keluar lewat cara-cara yang paling nggak terduga.
Nancy pulang ke kampung halaman keesokan harinya. Dia melunasi semua utang ibunya, memperbaiki reputasinya, dan menghapus semua aplikasi pinjol dari hidupnya selamanya. Dia kembali menjadi Nancy yang sederhana, yang suka rebahan sambil baca buku puitis, tapi kali ini dengan mental yang sudah di-upgrade ke level baja.
Dia melihat ke langit sore yang berwarna jingga, mirip seperti sampul buku-buku Tere Liye yang sering dia baca.
"Terima kasih, Semesta," bisiknya. "Gue nggak butuh jadi orang paling kaya, gue cuma butuh tenang tanpa perlu takut bunyi notifikasi HP lagi."
Selesai.