"Saya mau tahu apa saja yang terjadi pada saat itu, Ki!" Seorang pria berusia 45 tahun yang bernama Bagaskara itu memohon dengan penuh harap pada Ki Dharmo, tetua desa setempat yang merupakan kampung halamannya dulu. Beliau juga saksi mata kejadian 25 tahun silam.
Ki Dharmo tidak menjawab. Ia hanya diam dan menatap lurus pada gadis berusia 18 disamping Baskara. "Semuanya salah paham, nduk." Katanya tiba-tiba.
"Apa maksudnya, Ki?" Tanya Bagaskara tiba-tiba. "Ada apa dengan anak saya Ki?"
"Argghhhh!" Tiba-tiba Aruna menjerit dan mata yang sedari terpejam kini terbuka dengan tatapan tajam.
"Kamu! Kenapa kamu melakukannya?! Itu semua salah kamu!" Raung Aruna. Jari telunjuknya menunjuk tepat di depan wajah Ki Dharmo.
"Kamu membuat ku harus kehilangan cinta sejatiku! Kenapa kamu lakukan itu!" Aruna kini menangis histeris dan mulai menyakiti dirinya sendiri.
"Panas! Panas!" Ia juga menggosok-gosok tubuhnya yang terasa terbakar.
Bagaskara memeluk erat tubuh putrinya itu. "Aruna,sudah nak! Yang kamu rasakan tidak nyata, nak! Tolong kembali ke bapak,"
Aruna masih histeris.
"Aruna?" Panggil Bagaskara lagi pada putri satu-satunya itu.
Aruna langsung menoleh pada Bagaskara. Kedua telapak tangannya menangkup pipi Bagaskara. "Mas Bagas? Kamu kembali, mas? Aku rindu sama kamu, mas."
Bagas diam sesaat. Ia menyentuh tangan putrinya. Terasa sangat dingin. "Aruna?" Panggil Bagas lagi. "Kamu kenapa, nak?"
"Maafkan saya, nduk Ratri." Ucap Ki Dharmo tiba-tiba.
"Kenapa Ki Dharmo melakukannya?" Lirih Aruna. Bagas terdiam. Memang benar kalimat itu keluar dari mulut putrinya, tapi suara dan aksennya jelas bukan Aruna. Suara itu begitu lembut dan Bagas merasa deja vu mendengarnya.
"Saya hanya menuruti perintah, nduk." Jawab ki Dharmo .
"Mereka jahat, mas Bagas. Mereka memfitnah ku. Mereka membunuhku. Mereka juga memisahkan kita." Aruna menangis tersedu-sedu.
"Ratri?" Lirih Bagas.
Wajah Aruna langsung mendongak melihat Bagas dan tangisnya berhenti berganti dengan sebuah senyuman yang teduh. "Iya, mas. Ini aku Ratri. Kamu masih ingat aku kan?"
Bagas terdiam. Ia benar-benar tidak mengingatnya. Ia tidak mengenali siapa Ratri. Tidak ada nama Ratri di ingatannya. Tapi suara itu terasa begitu familiar. Pun dengan tatapan itu terasa begitu akrab dengannya. Namun bukan sebagai Aruna, tapi sebagai orang lain yang Bagas sendiri bingung siapa itu.
"Mas kamu lupa sama aku? KENAPA KAMU LUPA SAMA AKU?! MANA JANJI KAMU, MAS?! KENAPA KAMU PERGI TINGGALIN AKU!?" tiba-tiba Aruna kembali histeris dan mencengkeram erat bahu Bagas.
Bagas pun enggan untuk melepaskannya, ia membiarkan bahunya menjadi sasaran amukan Aruna yang saat ini sedang dirasuki Ratri. Seperti ia memang pantas mendapatkan rasa sakit itu.
"Nduk Ratri. Tolong lepaskan Den Bagas. Ia tidak salah, nduk. Den Bagas tidak tahu apa-apa mengenai kejadian itu." Ujar Ki Dharmo.
Lambat laun Aruna mulai tenang. Tangannya pun sudah melepaskan cengkeramannya pada bahu Bagas.
"Ceritakan semuanya!" Suara itu penuh dengan tekanan.
"Iya, nduk." Ki Dharmo menghela napas dengan berat. "Den Bagas, perempuan yang sedang merasuki putrimu ini namanya Ratri."
Bagas mendengarkan Ki Dharmo dengan tenang tapi tidak dengan hatinya. Ada perasaan berdebar dan sakit disana.
"Den Bagas tidak akan bisa mengingat Nduk Ratri lagi, sampai kapanpun. Tapi perlu Den Bagas ketahui, Nduk Ratri ini adalah tunangan Den Bagas 25 tahun yang lalu."
Napasnya terasa sesak mendengar penuturan Ki Dharmo. Dan tanpa ia sadari, air matanya luruh begitu saja. "Apa maksudnya, Ki?"
"Seharusnya yang saat itu menikah dengan kamu adalah Nduk Ratri, tapi bapakmu tidak menyetujuinya. Bapakmu ingin Nduk Wulan yang menjadi istrimu. Karena saat itu bapakmu sedang butuh dukungan dari keluarga Nduk Wulan agar bisa menjadi bupati."
Ki Dharmo memejamkan matanya, seperti berusaha mengingat kembali masa itu. "Saat itu, saya sudah bilang sama bapakmu, den. Kalau Den Bagas akan lebih baik jika menikah dengan Nduk Ratri karena weton kalian sangat cocok, tapi bapakmu tetap menolak keras dan memaksakan ingin menikahkan den Bagas dengan nduk Wulan. Padahal weton kalian itu tidak bagus hasilnya. Saya sudah bilang bahwa ada kematian yang menunggu kalau tetap dipaksakan, tapi watak bapakmu sangat keras, den. Saya tidak sanggup menolak."
"Dan akhirnya Wulan istriku yang harus meninggal, begitu?" Tanya Bagas.
Ki Dharmo hanya diam.
"Lalu kenapa saya tidak mengingat siapa Ratri? Apa itu juga kemauan bapak saya?" Tanya Bagas lagi.
"Iya, Den. Beliau mau saya menghapus ingatan Den Bagas tentang Nduk Ratri. Karena Den Bagas menolak keras menikahi Nduk Wulan."
"Jelas saya menolak, jika yang saya cintai memang Ratri bukan Wulan. Mungkin itu alasan kenapa setiap saya bersama Wulan selalu ada perasaan yang mengganjal di hati saya. Seperti saya sudah melakukan kesalahan besar pada seseorang tapi saya tidak tahu siapa itu." Bagas menyadari kesalahannya, ah! Bukan! Itu kesalahan bapaknya.
"Lalu kenapa sekarang Ratri menjadi seperti ini? Dan kenapa Aruna juga terlibat?" Tanya Bagas.
"Seminggu setelah pertunangan, bapakmu menyuruh orang untuk menjebak Nduk Ratri dengan seorang pria. Lalu orang suruhannya yang lain menghasut warga untuk menghukum Nduk Ratri dan pria itu. Mereka di bakar hidup-hidup dirumah Nduk Ratri."
Bagas terkejut bukan main mendengarnya. Dibakar hidup-hidup. Atas tindakan yang berdasarkan hasutan.
Bagas menoleh pada Aruna yang saat ini dirasuki Ratri. "Maaf kan saya, Ratri. Maaf. Maaf saya tidak menolong kamu, maaf saya meninggalkan kamu. Maaf juga karena saya sudah melupakan kamu. Maaf, Ratri." Bagas menangis. Dipeluknya tubuh Aruna.
"Nduk Ratri. Tolong lepaskan Aruna ya?" Pinta Ki Dharmo.
Aruna hanya menangis dan membalas pelukan Bagas.
"Aku sudah memaafkan mu, mas Bagas. Aku senang akhirnya kamu mengetahui kebenarannya. Mengetahui tentang kita. Tapi mas Bagas, maaf mengenai Aruna. Aku tidak bisa melepaskannya. Saat itu, ditengah hidup dan Matiku, aku sudah mengucap kutukan bahwa keluargamu tidak akan pernah mendapatkan keturunan. Seharusnya Aruna yang mati, bukan Wulan. Tapi lagi-lagi ulah bapakmu yang melindungi Aruna dan memilih mengorbankan Wulan."
"Tolong, Ratri. Lepaskan Aruna. Saya menyayanginya. Tapi kamu juga harus tahu, meskipun saya tidak mengingat kamu lagi, tapi saya yakin bahwa saja mencintai kamu. Sangat mencintai kamu."
"Mas, aku juga mau melepaskannya, tapi aku tidak bisa. Aku sudah terlalu larut dalam dendam ini."
"Lepaskan Aruna, sebagai gantinya ajak saya bersamamu."
"Den Bagas, jangan." Kata Ki Dharmo.
"Mas, Bagas. Apa kamu yakin dengan ucapanmu?" Tanya Ratri.
Bagas mengangguk. "Iya, Ratri. Biarkan saya membalas semua rasa sakit kamu. Agar Aruna juga bisa bebas dari kisah kita."
"Mas, aku mencintai kamu. Terimakasih, Mas Bagaskara."
"Saya juga, Ratri. Saya mencintai kamu. Maaf atas semuanya."
"Argghhhh!" Aruna menjerit hebat. Ia mendongak dengan mulut terbuka. Seperti hendak mengeluarkan sesuatu.
"Ratri! Ratri!" Panggil Bagas.
Tiba-tiba tubuh Aruna melemas dan Bagas dengan sigap menangkapnya. Tubuh Aruna pingsan dengan keadaan lemas dan berkeringat. Tapi tubuhnya sudah kembali hangat.
"Ratri?"
"Nduk Ratri sudah tenang, den. Nduk Ratri sudah naik ke atas. Ia sudah ikhlas, den. Nduk Ratri tidak menginginkan lagi pembalasan dendam. Tapi nduk Ratri berpesan bahwa den Bagas dan Nduk Aruna harus meninggalkan kota ini dan memutuskan hubungan dengan bapaknya den Bagas. Karena nduk Ratri hanya mengiklaskan kalian berdua yang memang benar-benar tidak terlibat."
Bagas kembali menangis.
"Nduk Aruna setelah ini pasti akan sehat terus dan tidak akan sakit-sakitan lagi karena sudah bebas dari kutukan nduk Ratri."
Ia memeluk Aruna. Menumpahkan segala kesedihannya.
"Saya benar-benar meminta maaf, den Bagas."
"Iya,Ki. Sesuai permintaan Ratri,saya akan meninggalkan kota ini dan menjauhi keluarga saya."
Drtt drtt drtt
Sebuah Panggilan masuk dari satpam yang berjaga di rumah bapaknya. Bagas pun segera menjawabnya.
"Ada apa, Pak?" Tanya Bagas.
📞"Den, mohon segera pulang, rumah bapak e den Bagas kebakaran dan kebetulan saat ini keluarga besar sedang berkumpul di rumah itu. Apinya sangat besar den. Belum ada yang berhasil keluar dari rumah!"
"Iya, pak! Saya segera kesana!"
--TAMAT--
Mas Bagaskara, kamu adalah Cinta dan Matiku.