Gerimis tipis mengguyur Jakarta, menyamarkan air mata Laras yang jatuh di atas gundukan tanah merah yang masih basah. Pemakaman umum di pinggiran kota itu sepi. Tidak ada kamera media, tidak ada teman-teman kantor SCBD yang dulu memujinya, dan tentu saja tidak ada satu pun dari barisan para mantan yang pernah ia "operasikan". Hanya ada Laras, Ibunya yang terduduk lemas dengan tatapan kosong, dan sebuah nisan kayu sederhana bertuliskan: Sapri bin Abdullah.
Setelah kerumunan kecil tetangga bubar, Laras kembali ke rumah petak mereka. Bau detergen dari cucian Ibu masih menyengat, namun suasana rumah terasa seperti liang lahat. Di atas meja kayu tempat Sapri biasanya duduk menghitung strategi "akuisisi" hati wanita, tergeletak sebuah amplop cokelat besar yang tersegel rapi.
Laras membukanya dengan tangan bergetar. Di dalamnya terdapat sebuah buku tabungan atas namanya, sebuah kunci brankas kecil, dan selembar surat dengan tulisan tangan Sapri yang rapi—tulisan yang dulu ia gunakan untuk menulis surat cinta palsu, kini goresannya terasa sangat jujur.
Untuk Laras, Adiku sayang.
Ras, kalau kamu baca surat ini, berarti skenario terburuk yang Kakak takutkan sudah terjadi. Kakak tahu, Kakak bukan contoh yang baik. Kakak adalah sampah yang mencoba dipoles jadi permata. Kakak adalah pendosa yang mencoba mencuri tiket surga dengan cara menipu dunia.
Dulu, Kakak pikir menjadi mokondo adalah jalan pintas untuk menyelamatkan kita dari rel kereta ini. Kakak pikir, dengan memeras perasaan orang kaya, Kakak bisa membelikanmu masa depan. Tapi Kakak salah, Ras. Ternyata, setiap rupiah yang Kakak dapat dari air mata wanita lain, adalah satu paku yang Kakak tancapkan di peti mati Kakak sendiri.
Di dalam brankas di bawah kasur Ibu, ada uang royalti buku Kakak yang belum sempat Kakak pakai. Itu uang halal, Ras. Kakak dapet dari hasil membongkar kebusukan Kakak sendiri. Pakai itu untuk selesaikan sekolahmu. Bawa Ibu pindah dari sini. Beli rumah yang jauh dari bising kereta api, agar Ibu bisa tidur tenang tanpa harus nunggu Kakak pulang dengan rasa cemas.
Satu pesan Kakak: Jangan pernah membenci kemiskinan kita sampai kamu kehilangan martabatmu. Kakak sudah membayar harganya. Cukup Kakak saja yang jadi tumbal. Jadilah manusia yang bangga dengan keringat sendiri, meskipun cuma cukup untuk makan nasi garam.
Maafin Kakak, Ras. Kakak sayang kalian.
Laras mendekap surat itu ke dadanya, tangisnya pecah memenuhi ruangan sempit itu. Ia merasa separuh jiwanya hilang. Sapri, dengan segala kelicikannya, adalah pahlawan yang salah arah baginya.
Sepuluh tahun berlalu.
Seorang wanita anggun dengan setelan kerja profesional turun dari mobilnya di depan sebuah gedung yayasan megah bernama "Sapri Foundation". Dia adalah Laras. Berkat uang royalti dan wasiat kakaknya, Laras berhasil menyelesaikan kuliah pariwisata dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri di bidang hospitality. Namun, ia tidak membangun hotel mewah untuk kaum elit; ia membangun rumah singgah dan pusat pelatihan kerja bagi pemuda-pemuda dari pinggiran rel kereta.
Laras berdiri di aula utama yayasan, menatap sebuah foto besar di dinding. Foto Sapri yang sedang tersenyum—bukan senyum tipis ala fuckboy yang biasa ia pamerkan, tapi senyum tulus saat ia pertama kali membelikan Laras seragam sekolah baru.
"Ibu, ayo masuk," ajak Laras pada wanita tua di sampingnya. Ibunya kini sudah tidak lagi mencuci baju orang. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, namun matanya yang dulu redup kini bersinar dengan kebanggaan yang pedih.
"Sapri pasti senang melihat ini, Ras," bisik Ibu sambil mengelus foto itu.
Yayasan itu bukan sekadar tempat pelatihan. Laras menciptakan kurikulum khusus bernama "Integrity First". Ia mengundang pakar psikologi untuk mengajar para pemuda agar tidak tergiur jalan pintas seperti kakaknya. Ia ingin menghapus stigma "Mokondo" dari lingkungan mereka. Ia ingin membuktikan bahwa kemiskinan bukan alasan untuk menjadi benalu.
Suatu hari, seorang pemuda dengan rambut mullet dan gaya bicara yang terlalu percaya diri datang ke yayasan itu. Ia mencoba merayu salah satu staf wanita untuk mendapatkan fasilitas gratis. Laras melihatnya dari kejauhan. Ia teringat kakaknya.
Laras menghampiri pemuda itu dan memberikan sebuah buku—buku catatan Platina Costarica dan buku manual anti-mokondo karya Sapri yang sudah dicetak ulang jutaan kali.
"Dek," ucap Laras tenang namun tegas. "Wajah tampanmu itu bisa jadi berkah, tapi kalau kamu pakai buat menipu, dia akan jadi kutukan yang mencakar hidupmu sampai habis. Baca buku ini. Penulisnya adalah kakak saya. Dia mati agar kamu tidak perlu berakhir seperti dia."
Pemuda itu tertegun, melihat sorot mata Laras yang penuh luka namun sangat kuat. Ia menerima buku itu dengan tangan gemetar.
Sore itu, Laras pergi ke makam Sapri. Ia mengganti nisan kayu yang sudah lapuk dengan batu marmer putih yang indah. Ia meletakkan seikat bunga sedap malam, bunga kesukaan Ibunya yang dulu sering Sapri curi dari taman tetangga untuk menghibur Ibu.
"Kak, utangmu sudah lunas," bisik Laras di depan pusara. "Uang haram yang dulu Kakak kumpulkan sudah aku ganti dengan ribuan kebaikan dari anak-anak yayasan. Nama Sapri bukan lagi sinonim dengan penipu, tapi sinonim dengan kesempatan kedua."
Angin berembus pelan, menerbangkan beberapa helai kelopak bunga. Di kejauhan, suara peluit kereta api terdengar menjerit, mengingatkan Laras pada masa-masa mereka kelaparan di rumah kardus. Namun kali ini, suara itu tidak lagi terdengar mengerikan. Suara itu terdengar seperti sebuah perpisahan yang sudah diikhlaskan.
Sapri sang Mokondo mungkin telah mati secara tragis di basement gelap SCBD, dibunuh oleh karma masa lalunya. Namun, lewat tangan adiknya, ia hidup kembali sebagai cahaya bagi mereka yang nyaris tersesat di jalan yang sama. Epilog hidup Sapri tidak ditulis di atas karpet merah atau di kolom komentar TikTok, melainkan di dalam hati setiap orang yang berhasil bangkit dari kemiskinan tanpa harus menjual harga diri mereka.
Laras melangkah pergi dari pemakaman, menatap langit Jakarta yang mulai jingga. Ia tahu, di suatu tempat di sana, kakaknya sedang tersenyum, akhirnya bisa beristirahat tanpa perlu memikirkan skenario tipu daya berikutnya. Penjara dunia telah selesai bagi Sapri, dan warisannya telah menjadi kemerdekaan bagi orang lain.