Sapri menatap langit-langit sel yang warnanya mirip bubur kacang ijo basi. Dingin lantai semen menembus celana linen branded—hadiah terakhir dari Clarissa—yang kini sudah lecek dan berbau apek. Di balik jeruji besi yang karatan, Sapri merenung. Narasi "Mokondo Hunter" yang viral di TikTok memang membuat namanya busuk se-Indonesia Raya, tapi tak ada satu pun dari netizen itu yang tahu isi tas kresek hitam di bawah tempat tidur reyot ibunya di pinggiran rel kereta api Jakarta.
Di balik gaya quiet luxury yang ia pamerkan, Sapri adalah produk dari kemiskinan yang mencekik leher. Ibunya tukang cuci yang tangannya sudah keriput dimakan detergen murahan, dan adiknya, Laras, baru saja menunggak SPP tiga semester di SMK pariwisata. Sapri tidak punya pilihan selain menjadi "investasi berjalan". Baginya, wajah tampan dan kemampuan public speaking-nya adalah satu-satunya modal yang tersisa setelah ijazah SMA-nya ditahan sekolah karena nunggak biaya ujian.
"Woi, Sapri! Ada kunjungan!" teriakan sipir memecah lamunannya.
Sapri berjalan gontai menuju ruang kunjungan. Di balik kaca pembatas, duduk seorang wanita tua dengan jilbab yang sudah memudar warnanya. Ibunya. Wanita itu menangis sesenggukan, tangannya yang gemetar memegang gagang telepon penjara.
"Pri... kenapa jadi begini, Nak?" suara Ibunya pecah. "Orang-orang di kampung bilang kamu penipu. Katanya kamu makan uang perempuan. Ibu gak pernah ngajarin kamu jadi benalu, Pri."
Sapri menunduk. Dadanya sesak, lebih sesak daripada saat dituduh selingkuh oleh mantan korbannya yang ke-lima. "Ibu... Sapri cuma mau Laras sekolah. Sapri cuma mau Ibu gak usah nyuci baju orang lagi sampai pinggang Ibu encok. Sapri gak punya privilege kayak mereka, Bu. Sapri cuma punya muka ini."
"Tapi gak begini caranya, Pri. Uang haram itu gak bakal berkah," tangis Ibunya makin menjadi. "Laras sekarang malu sekolah. Dia mau putus sekolah aja."
Kalimat itu menghantam Sapri lebih keras daripada pukulan polisi saat penangkapan. Ia kembali ke sel dengan hati yang hancur berkeping-keping. Di dalam sel yang sempit, Sapri bertemu dengan penghuni lama, seorang pria paruh baya bernama Bang Jago yang dipenjara karena kasus korupsi bansos—level mokondo yang jauh lebih tinggi karena memakan uang rakyat.
"Ganteng doang, tapi hampa," celetuk Bang Jago sambil mengisap rokok selundupan. "Gue liat kasus lu di berita. Lu pinter, Pri. Lu tau psikologi cewek-cewek haus validasi. Sayangnya, lu mainnya receh. Lu cuma morotin buat gaya hidup, bukan buat bangun sistem."
Sapri hanya diam, menatap tembok. Ia mulai menyadari bahwa menjadi mokondo adalah sebuah lingkaran setan. Semakin ia menipu untuk menutupi kemiskinannya, semakin besar lubang yang ia gali.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul di kepala Sapri. Ia harus melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar merayu. Ia harus menggunakan "bakat"-nya untuk sesuatu yang benar-benar bisa mengubah nasib keluarganya tanpa harus menjadi benalu selamanya.
Singkat cerita, selama enam bulan di penjara, Sapri tidak lagi menjadi "primadona" sel yang manja. Ia mulai belajar dari Bang Jago tentang cara mengelola koneksi dan cara bicara yang lebih berbobot, bukan cuma sekadar gombalan maut Gen Z. Sapri mulai menulis. Ia menulis sebuah naskah berjudul "Manual Book: Cara Terhindar dari Cowok Mokondo".
Ia mengirimkan naskah itu lewat bantuan pengacara publik yang bersimpati padanya. Tak disangka, naskah itu viral. Sebuah penerbit besar tertarik. Buku itu meledak di pasaran karena dianggap sebagai "kitab suci" para wanita agar tidak tertipu visual cowok aesthetic.
Saat hari pembebasannya tiba, Sapri keluar dari lapas dengan pakaian sederhana: kaos oblong putih dan celana jeans pasar loak. Tidak ada lagi parfum Baccarat, tidak ada lagi rambut mullet yang klimis. Ia berjalan menuju stasiun, naik KRL kelas ekonomi menuju rumahnya di pinggiran rel.
Di depan rumah kardus itu, ia melihat Laras sedang menyapu teras. Adiknya itu kaget melihat kakaknya pulang.
"Kak Sapri..."
Sapri memeluk adiknya erat. "Laras, maafin Kakak. Kakak udah dapet uang dari royalti buku. Ini uang halal. Kamu lanjut sekolah, ya? Kakak gak mau kamu kayak Kakak yang harus jual harga diri buat makan."
Namun, plot twist yang sesungguhnya baru dimulai.
Saat Sapri sedang duduk di teras sambil makan nasi bungkus pemberian tetangga, sebuah mobil mewah—Alphard hitam—berhenti di depan gang sempit rumahnya. Pintu terbuka, dan muncullah Clarissa. Sang beauty influencer yang menjebloskannya ke penjara.
Sapri waspada. "Mau apa lagi, Clar? Mau bikin konten 'Melabrak Mantan Napi' buat nambah engagement?"
Clarissa melepas kacamata hitamnya. Wajahnya tidak tampak marah. "Gue baca buku lo, Pri. Gila sih, lo beneran ngebongkar semua trik lo di situ. Gara-gara buku lo, gue kehilangan banyak 'target' buat konten edukasi gue."
"Ya bagus kan? Gue udah tobat," sahut Sapri ketus.
Clarissa duduk di dingklik kayu depan rumah Sapri, tidak peduli gaun mahalnya terkena debu. "Gue ke sini bukan buat marah. Gue mau nawarin kerjaan. Gue butuh konsultan buat startup baru gue: sebuah aplikasi dating yang punya fitur 'Red Flag Detector' berbasis AI. Gue butuh otak lo yang licik itu buat ngembangin algoritmanya."
Sapri tertegun. "Lo mau narik mantan napi kayak gue?"
"Bukan mantan napi, Pri. Gue butuh orang yang tau rasanya jadi miskin dan tau gimana caranya bertahan hidup di dunia yang cuma mandang visual. Lo punya itu," Clarissa menatap rumah Sapri yang reyot dengan tatapan empati yang tulus. "Gue baru tau alasan lo ngelakuin semua itu setelah gue kirim orang buat selidiki latar belakang lo. Lo gak jahat, Pri. Lo cuma kejepit."
Sapri menatap ibunya yang mengintip dari balik pintu. Ia menatap Laras yang kini punya harapan buat sekolah lagi.
"Gue mau," jawab Sapri mantap. "Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Gaji pertama gue, gue mau pake buat bayar lunas semua utang-utang gue ke mantan-mantan gue sebelumnya. Gue mau mulai dari nol, Clar. Tanpa beban mokondo di pundak gue."
Clarissa tersenyum. "Deal. Besok jam 9 di kantor SCBD. Dan satu lagi, Pri..."
"Apa?"
"Rambut lu potong dikit. Mullet udah so last year. Sekarang jamannya Clean Look."
Sapri tertawa. Untuk pertama kalinya, ia tertawa bukan untuk merayu, tapi karena merasa benar-benar hidup. Ia sadar, kemiskinan memang pahit, tapi martabat yang dibangun kembali jauh lebih manis daripada kopi latte gratisan dari hasil tipu-tipu.
Sapri sang mantan Mokondo kini bertransformasi menjadi "The Redemption King". Ia membuktikan bahwa setelan pabrik bisa di-upgrade dengan kerja keras, bukan cuma sekadar maintenance M-banking palsu.