Rena Mahanindya menyeret langkahnya yang terasa seberat timah di atas trotoar marmer kawasan Menteng yang eksklusif. Angin sore itu tidak lagi terasa sejuk; baginya, setiap embusan udara terasa seperti sembilu yang menyayat paru-parunya yang kempis. Tubuh yang dulu dipuja sebagai standar kecantikan nasional, yang lekukannya menjadi fantasi jutaan pria, kini tak lebih dari kerangka yang dibalut kulit kusam bernoda keunguan. Sebuah masker kain menutupi pipinya yang cekung, dan kacamata hitam besar menyembunyikan mata yang dulu berbinar angkuh, kini sayu dan berair karena infeksi yang tak kunjung sembuh.
Tujuannya adalah sebuah rumah bergaya kolonial megah dengan pagar besi tempa setinggi tiga meter. Di sana, di balik tembok kokoh itu, tinggal sang janda dari sutradara legendaris, Longzeelaboard Zagrebia Yugosmafia. Rena tahu, kedatangannya adalah sebuah perjudian nyawa. Sejak Longzeelaboard meninggal dalam kesunyian yang ditutupi rapat oleh keluarga besarnya, Rena telah menjadi paria. Hartanya ludes, apartemennya disita, dan ia kini menghuni sebuah kamar sewa sempit yang baunya hanya perpaduan antara obat-obatan ARV murahan dan keputusasaan.
Ia menekan bel gerbang dengan jari yang gemetar. Butuh waktu lama sampai seorang penjaga berpakaian safari muncul dengan wajah curiga.
"Saya ingin bertemu Nyonya Longzeelaboard. Tolong, katakan ini Rena. Rena Mahanindya," bisiknya, suaranya parau, nyaris hilang ditelan bising kendaraan yang lewat.
Penjaga itu menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia hampir tidak mengenali sosok artis yang dulu sering muncul di sampul majalah itu. Setelah perdebatan panjang, gerbang terbuka sedikit. Rena dipersilakan masuk, bukan lewat pintu utama yang megah, melainkan lewat pintu samping dekat taman yang asri—tempat di mana ia dulu sering bersembunyi untuk menggoda sang sutradara lewat jendela ruang kerjanya.
Di teras belakang yang menghadap kolam renang yang airnya biru tenang, duduklah sang istri sah, Nyonya Anindita. Wanita itu tetap anggun dalam balutan kaftan sutra berwarna gading. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tenang namun memancarkan otoritas yang dingin. Saat Rena melangkah mendekat dengan tertatih-tatih, Anindita bahkan tidak menoleh. Ia tetap sibuk menuangkan teh ke dalam cangkir porselennya.
"Duduklah, sebelum kau jatuh pingsan dan mengotori lantainya," suara Anindita terdengar seperti gesekan es, tajam dan beku.
Rena terduduk di kursi rotan, tubuhnya menggigil meski udara sore itu hangat. Ia melepas kacamatanya, menatap wanita yang dulu ia anggap sebagai penghalang kesuksesannya. "Nyonya... saya datang... saya tidak meminta uang," suara Rena terputus oleh batuk kering yang menyakitkan.
Anindita akhirnya menoleh. Matanya yang tajam memindai kehancuran di wajah Rena. Tidak ada rasa kasihan di sana, yang ada hanyalah kejijikan yang mendalam. "Uang? Kau pikir aku akan memberikan satu sen pun untuk wanita yang mencoba mencuri fondasi rumah tanggaku? Kau datang ke sini untuk apa, Rena? Menunjukkan betapa adilnya Tuhan?"
Rena menggeleng lemah. Air mata mulai mengalir di pipinya yang kering. "Saya datang untuk meminta maaf. Saya tahu, kata maaf tidak akan menghapus apa yang saya lakukan dengan Longzeelaboard. Saya menghancurkan hati Nyonya, saya menertawakan penderitaan Nyonya di belakang layar. Sekarang... sekarang saya membayarnya. Saya sekarat, Nyonya."
"Kau memang pantas mati," jawab Anindita tanpa nada emosi. "Kau datang membawa virus itu ke rumah ini, membawa aib ke nama besar suamiku. Kau tahu betapa kerasnya aku berusaha menutupi fakta bahwa suamiku mati karena penyakit kotor yang ia dapatkan dari wanita-wanita seperti kau? Kau menghancurkan warisan seninya, kau membuat anak-anakku harus menundukkan kepala jika sejarah asli ayah mereka terungkap!"
Rena mencoba meraih tangan Anindita, sebuah gerakan putus asa dari seorang pendosa yang sedang tenggelam. "Tolong, ampuni saya... saya ingin pergi dengan tenang. Saya tidak punya siapa-siapa lagi. Teman-teman saya sudah mati, harta saya habis..."
Namun, sentuhan tangan Rena yang kurus dan bersisik itu justru menjadi pemicu ledakan amarah yang selama ini dipendam Anindita di balik topeng ningratnya. Keanggunannya runtuh seketika, digantikan oleh naluri seorang istri yang dikhianati dan dihina selama bertahun-tahun.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!" teriak Anindita.
Dalam gerakan yang sangat cepat, Anindita bangkit dan menerjang. Tangannya yang dihiasi kuku-kuku panjang berhias cat kuku merah marun mencengkeram wajah Rena. Dengan penuh kebencian, Anindita mencakar pipi Rena, menarik kulit yang sudah tipis itu dengan kekuatan penuh.
"Kau datang ke sini untuk dimaafkan agar kau bisa tidur nyenyak di neraka nanti? Tidak! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Anindita mencakar lagi, kali ini di leher Rena, tempat di mana bekas luka herpes mulai mengering. Darah segar yang bercampur dengan cairan bening mulai merembes dari luka cakar itu.
Rena berteriak kesakitan, terjatuh dari kursinya ke lantai teras. Ia tidak melawan. Ia hanya meringkuk seperti janin, membiarkan kemarahan Anindita tumpah padanya. Ia merasa ini adalah bagian dari hukuman yang memang harus ia terima. Rasa perih di wajahnya tak sebanding dengan rasa perih di jiwanya saat menyadari betapa dalam luka yang ia torehkan pada wanita ini selama bertahun-tahun.
"Pergi! Keluar dari rumahku!" Anindita berdiri gemetar, napasnya memburu. Ia mengambil serbet meja dan mengelap tangannya dengan kasar, seolah-olah ia baru saja menyentuh bangkai yang berpenyakit. "Kau ingin dimaafkan? Pergilah sujud di depan Tuhanmu, jangan di depanku. Bagiku, kau sudah mati sejak kau pertama kali menginjakkan kaki di ranjang suamiku!"
Rena bangkit dengan susah payah. Darah menetes dari pipinya, membasahi masker yang kini tergantung di lehernya. Ia tidak lagi menangis. Ada semacam kelegaan aneh setelah serangan fisik itu. Ia menatap Anindita untuk terakhir kalinya, menatap mata wanita yang hancur namun tetap berdiri tegak itu.
"Terima kasih, Nyonya," bisik Rena pelan. "Setidaknya... kemarahan Nyonya membuktikan bahwa saya masih ada di dunia ini untuk dihukum."
Rena berjalan keluar melewati pintu samping yang sama. Para pelayan menatapnya dengan ngeri, melihat luka cakar yang menganga di wajah artis yang dulu mereka kagumi. Ia melangkah keluar gerbang, kembali ke trotoar Menteng yang sunyi. Ia berjalan menuju masjid kecil di ujung jalan, tempat di mana ia biasanya menghabiskan waktu di pojok belakang yang gelap.
Di dalam masjid, Rena bersujud. Perih di wajahnya berdenyut mengikuti detak jantungnya yang lemah. Ia teringat Platina Costarica. Platina mati dalam kemiskinan dan kesunyian, namun Platina sempat menuliskan tobatnya. Rena kini menyadari bahwa tobat bukan tentang mendapatkan maaf dari manusia, karena manusia punya hak untuk marah. Tobat adalah tentang pengakuan yang tulus di hadapan Pencipta bahwa dirinya memang hina.
Luka cakar di wajahnya tidak akan pernah sembuh; mereka akan terinfeksi dan mempercepat ajalnya. Tapi bagi Rena, luka itu adalah mahar terakhirnya. Setiap kali ia menyentuh luka itu, ia akan teringat pada Nyonya Anindita, pada Longzeelaboard, dan pada betapa mahalnya harga sebuah pengkhianatan.
Malam itu, di kamar kosnya yang hanya berisi satu kasur tipis dan buku catatan Platina, Rena menuliskan kalimat terakhirnya: "Dunia telah mencakarku, membuangku, dan meludahiku. Tapi di balik perih ini, aku merasa ringan. Karena sekarang, aku benar-benar tidak punya apa-apa lagi untuk dibanggakan selain sujudku."
Rena Mahanindya mengembuskan napas terakhirnya tiga hari kemudian. Ia ditemukan oleh pemilik kos dalam posisi sujud, dengan luka cakar di wajah yang sudah membiru. Ia pergi dalam keadaan miskin, berpenyakit, dan dibenci oleh dunia. Namun di bibirnya, tertinggal senyum tipis—sebuah tanda bahwa sang pelakor yang jatuh itu akhirnya menemukan jalan pulang yang paling sunyi, lewat pintu luka yang ia terima dengan penuh kepasrahan.