Rena Mahanindya menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma parfum niche seharga belasan juta rupiah memenuhi rongga dadanya sebelum ia keluar dari mobil mewah yang pintu-pintunya dibukakan oleh pengawal berseragam. Di depannya, karpet merah membentang bak lidah naga yang siap menelan segala kemewahan malam itu. Ribuan jepretan kamera menyambutnya, menciptakan kilatan cahaya yang membuat pandangannya sejenak putih menyilaukan. Inilah candu yang paling berbahaya bagi seorang wanita muda berusia dua puluh empat tahun: popularitas, harta, dan tahta kecantikan yang dirasanya takkan pernah layu.
Di sudut meja riasnya di apartemen penthouse yang menghadap gemerlap Jakarta, sebuah buku catatan kusam milik mendiang Platina Costarica tergeletak tak berdaya. Buku itu adalah wasiat kematian, sebuah peringatan berdarah tentang bagaimana seorang diva bisa berakhir menjadi bangkai di kamar kos yang pengap akibat HIV/AIDS dan kemiskinan. Rena sempat membacanya sekilas, namun ia menutupnya dengan decihan jijik. Baginya, Platina hanyalah wanita bodoh yang tidak tahu cara bermain bersih. Platina adalah sejarah yang gagal, sedangkan Rena adalah masa depan yang gemilang. Ia menganggap peringatan tentang virus dan dosa hanyalah dongeng moralitas untuk orang-orang yang tidak laku di industri hiburan.
Rena tidak merasa perlu bertobat. Mengapa harus bertobat ketika hidupnya begitu sempurna? Ia adalah kesayangan baru industri perfilman, dan rahasia terbesarnya adalah Longzeelaboard Zagrebia Yugosmafia. Nama itu terdengar sekuat pengaruhnya di dunia sinema. Longzeelaboard adalah sutradara jenius berdarah campuran yang memegang kunci emas setiap proyek blockbuster. Pria itu dingin, aristokrat, dan memiliki kharisma gelap yang mematikan. Namun yang paling penting bagi Rena, Longzeelaboard adalah pria yang sudah berkeluarga dengan seorang istri ningrat yang sangat dihormati.
Bagi Rena, menjadi pelakor bagi Longzeelaboard Zagrebia Yugosmafia bukan hanya soal cinta, tapi soal posisi. Ia menikmati sensasi adrenalin saat mereka berciuman di balik layar monitor syuting sementara istri Longzeelaboard berada di tenda katering hanya beberapa meter dari mereka. Rena merasa menang setiap kali Longzeelaboard membelikan perhiasan zamrud langka yang jauh lebih mahal daripada mas kawin istrinya sendiri. Ia merasa dirinya adalah "ratu bayangan" yang memegang kendali atas sang sutradara besar.
"Kau terlalu banyak berpikir, Rena," bisik Longzeelaboard malam itu di sebuah hotel butik privat di Bali, tempat mereka melarikan diri di tengah jadwal syuting. Suara pria itu berat, dengan aksen asing yang kental, seolah setiap kata yang keluar adalah perintah mafia yang tak bisa dibantah. Longzeelaboard menuangkan sampanye mahal ke gelas kristal Rena. "Jangan biarkan cerita-cerita sampah tentang artis mati kesepian itu merusak suasana. Kau berbeda. Kau milikku."
Rena tersenyum manja, menyandarkan kepalanya di dada bidang Longzeelaboard. Ia mengabaikan rasa lelah yang mulai sering menghinggapi sendi-sendinya. Ia mengabaikan sariawan di mulutnya yang tak kunjung sembuh meskipun ia sudah mengonsumsi suplemen paling mahal dari Amerika. Ia meyakinkan dirinya bahwa itu hanya efek kelelahan kerja keras. Di dunia yang dikuasai Longzeelaboard Zagrebia Yugosmafia, penyakit dan kemiskinan terasa seperti konsep abstrak yang hanya menimpa orang-orang kelas bawah.
Namun, waktu adalah pencuri yang paling jujur. Enam bulan berlalu sejak kesuksesan film terbesar mereka. Rena mulai menyadari ada yang salah. Kulitnya yang biasanya bersinar mulai tampak kusam meskipun sudah disuntik vitamin paling mutakhir. Ia sering mengalami demam di malam hari, persis seperti yang ditulis Platina dalam bukunya. Tapi Rena Mahanindya adalah wanita yang keras kepala. Ia menutupi pucat wajahnya dengan lapisan foundation tebal dan contouring yang tajam. Ia tetap tampil di televisi, tetap tertawa di depan wartawan, dan tetap menjadi selingkuhan setia Longzeelaboard.
Hingga suatu hari, sebuah berita mengejutkan mengguncang industri. Longzeelaboard Zagrebia Yugosmafia dikabarkan jatuh sakit secara misterius dan dilarikan ke rumah sakit di Singapura. Rena mencoba menghubungi pria itu, namun semua akses diputus oleh keluarga besar sang sutradara. Istri sah Longzeelaboard, yang selama ini diam, tiba-tiba muncul dengan kekuatan penuh, menutup rapat pintu bagi siapa pun yang berstatus "orang luar". Rena terhempas. Ia kehilangan akses pada uang, kekuasaan, dan pria yang menjadi pelindungnya.
Puncaknya adalah saat Rena melakukan tes kesehatan rutin untuk keperluan kontrak asuransi film barunya. Hasilnya keluar dalam sebuah amplop putih yang dingin. Di sana, tertulis angka-angka yang membekukan darahnya. Jumlah CD4 yang sangat rendah dan status positif HIV. Dunia Rena runtuh dalam satu detik. Ia teringat buku Platina Costarica yang dulu ia campakkan. Ia teringat teman-teman pestanya yang satu per satu menghilang dari peredaran. Ia teringat bagaimana Longzeelaboard sering membawanya ke lingkungan yang sangat bebas, di mana kesetiaan adalah barang antik dan proteksi dianggap sebagai penghinaan terhadap kebebasan.
Karier Rena hancur lebih cepat daripada saat ia membangunnya. Rumor menyebar seperti api di hutan kering. Produser yang dulu memuja kakinya kini bahkan tak mau mengangkat teleponnya. Istri Longzeelaboard, yang rupanya sudah mengetahui perselingkuhan mereka sejak lama, menggunakan pengaruh keluarganya untuk memasukkan Rena ke dalam daftar hitam industri. Dalam sekejap, tabungan Rena habis untuk biaya rumah sakit yang sangat mahal dan gaya hidupnya yang tak bisa turun secara mendadak. Apartemen penthouse-nya disita karena cicilan yang tertunggak.
Rena kini duduk di bangku taman sebuah rumah sakit umum, menunggu antrean obat murah bersama orang-orang yang dulu ia anggap sebagai jelata. Ia menatap telapak tangannya yang mulai muncul bercak-bercak ungu kehitaman. Tak ada lagi parfum seharga belasan juta, hanya bau karbol rumah sakit yang menyengat. Ia teringat nama besar Longzeelaboard Zagrebia Yugosmafia, pria yang ia kira akan menjadikannya abadi, namun justru meninggalkannya dalam kehampaan yang mematikan. Pria itu kabarnya sudah meninggal dalam kesunyian, dan namanya dihapus dari sejarah demi menjaga kehormatan keluarga ningrat istrinya.
Rena meraih tas kecilnya, menemukan buku catatan Platina Costarica yang entah bagaimana terbawa saat ia pindah ke rumah kontrakan kecil. Ia membuka halaman yang dulu ia tertawakan. Di sana tertulis, "Dosa adalah hutang yang bunganya dibayar dengan nyawa." Air mata Rena jatuh, membasahi kertas kusam itu. Ia kini mengerti bahwa kecantikan hanyalah topeng tipis yang bisa robek kapan saja oleh tajamnya takdir. Ia meratapi setiap detik yang ia gunakan untuk merusak rumah tangga orang lain, meratapi setiap kesombongan yang ia pamerkan di atas penderitaan istri-istri sah.
Kini, Rena Mahanindya hanyalah sebuah nama yang menjadi bisikan peringatan di pojok-pojok ruang rias artis pendatang baru. Ia jatuh miskin, raga yang dulu dipuja kini menjadi tempat bersarangnya kuman-kuman yang menjijikkan. Namun, di tengah kehancuran itu, Rena mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia miliki saat ia kaya raya: rasa takut pada Tuhan. Ia mulai bersujud di sajadah lusuh di rumah kontrakannya, menangis sejadi-jadinya, memohon ampunan atas setiap napas yang ia gunakan untuk bermaksiat. Ia menyadari bahwa ia tidak butuh Longzeelaboard Zagrebia Yugosmafia atau gemerlap karpet merah untuk menjadi manusia sejati. Ia hanya butuh pengampunan sebelum lampu hidupnya benar-benar padam dalam kegelapan yang sunyi. Rena pergi ke masjid dengan tertatih-tatih, mengenakan kerudung sederhana untuk menutupi kepalanya yang mulai kehilangan rambut, menyadari bahwa perjalanan menuju pulang selalu dimulai dari titik nol yang paling menyakitkan.