Sidi Hamza—nama yang kini melekat erat pada sosok Alejandro—berdiri di dek kapal feri yang membelah Selat Gibraltar. Angin laut yang asin menerpa wajahnya, menyelinap di antara janggutnya yang kini memutih meski usianya baru menginjak kepala empat. Sepuluh tahun telah berlalu sejak ia melangkah keluar dari gerbang neraka Guantanamo. Sepuluh tahun pula ia mengabdi di sebuah masjid kecil di pinggiran Maroko, mencuci lantai, membagikan roti, dan mengubur dalam-dalam identitasnya sebagai pembunuh bayaran kartel yang paling ditakuti.
Namun, ada satu utang yang belum terbayar. Sebuah amanah yang terasa lebih berat daripada rantai besi yang dulu membelenggu pergelangan kakinya. Di dalam saku kemeja batisnya yang sederhana, terselip sebuah bungkusan kain kecil yang sudah kusam. Di dalamnya terdapat sobekan kain ihram, sebuah tasbih kayu yang butirannya sudah halus tergerus dzikir, dan selembar alamat di sebuah desa kecil di pinggiran Nablus, Palestina. Itu adalah peninggalan Yusuf, sang guru, sang penyelamat jiwanya di sel isolasi.
Perjalanan menuju Palestina bukan hal mudah bagi seseorang dengan rekam jejak seperti Alejandro. Namun, dengan bantuan jaringan aktivis kemanusiaan yang dulu membantunya bebas, ia berhasil mendapatkan izin masuk sebagai relawan pembersih puing-puing bangunan. Baginya, setiap risiko adalah penebusan. Jika peluru kartel tak mampu menghentikannya di Maroko, maka ia yakin Tuhan akan menjaganya sampai amanah ini sampai ke tangan yang berhak.
Kota Nablus menyambutnya dengan debu dan sisa-sisa reruntuhan. Suasana di sana mengingatkannya pada medan perang di perbatasan Meksiko, namun ada perbedaan mendasar: di sini, orang-orang mati demi tanah air dan iman, bukan demi kekuasaan dan serbuk putih. Alejandro berjalan menyusuri gang-gang sempit, bertanya dalam bahasa Arab pas-pasan yang ia pelajari di masjid.
"Keluarga Yusuf bin Ibrahim?" tanya Alejandro pada seorang pemuda yang sedang duduk di atas reruntuhan tembok.
Pemuda itu menatap Alejandro dengan curiga. Mata Alejandro yang penuh bekas luka dan tato mawar hitam yang mengintip sedikit di balik kerah kemejanya memberikan kesan intimidasi yang tak bisa hilang sepenuhnya. Namun, sorot mata Alejandro yang teduh meruntuhkan kecurigaan itu.
"Di sana. Rumah dengan pintu hijau yang catnya sudah mengelupas," tunjuk sang pemuda.
Alejandro melangkah dengan jantung yang berdegup kencang. Lebih kencang daripada saat ia harus menghadapi regu tembak kartel. Ia berdiri di depan pintu hijau itu. Seorang wanita tua dengan kerudung putih membukakan pintu. Wajahnya adalah salinan dari wajah Yusuf—ketenangan yang sama, ketabahan yang serupa.
"Assalamu’alaikum," sapa Alejandro pelan.
"Wa’alaikumussalam. Siapa kau, Nak?" tanya wanita itu, yang ternyata adalah ibu dari Yusuf.
Alejandro berlutut di ambang pintu. Ia tidak sanggup berdiri sejajar dengan ibu dari pria yang telah memberikannya hidup kedua. "Nama saya Hamza. Saya... saya adalah teman sel Yusuf di tempat itu. Di Guantanamo."
Mendengar nama tempat itu, tangan sang ibu bergetar. Ia mempersilakan Alejandro masuk ke dalam rumah yang sangat sederhana namun harum aroma zaitun dan doa. Di dalam ruangan, ada seorang gadis muda yang merupakan adik Yusuf, dan beberapa anggota keluarga lainnya. Mereka duduk melingkar di atas karpet tipis.
Alejandro mengeluarkan bungkusan kain itu. Dengan tangan gemetar, ia menyerahkannya kepada sang ibu. "Yusuf tidak mati dalam kesia-siaan, Ummi. Dia adalah matahari di tempat yang paling gelap. Dia difitnah oleh dunia, tapi dia dimuliakan oleh Langit."
Sang ibu membuka bungkusan itu. Isak tangis pecah seketika saat ia mencium aroma tasbih milik putranya. "Kami selalu tahu Yusuf tidak bersalah. Kami selalu tahu dia sedang melakukan tugas besar, meski kami tidak tahu apa itu," bisik sang ibu di sela tangisnya.
Alejandro kemudian mulai bercerita. Ia menceritakan bagaimana ia dulu adalah seorang monster, seorang pembunuh yang tidak mengenal belas kasihan. Ia menceritakan bagaimana Yusuf membagi rotinya saat Alejandro kelaparan, bagaimana Yusuf mendoakannya saat Alejandro memaki, dan bagaimana Yusuf tetap bersujud meski tubuhnya remuk disiksa sipir.
"Yusuf memberikan nyawanya agar saya bisa menemukan Tuhan," ujar Alejandro, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. "Saya datang ke sini bukan hanya untuk mengantar barang-barangnya. Saya datang untuk meminta izin kepada kalian... untuk menjadi pengganti Yusuf. Izinkan saya mengabdi di sini. Izinkan saya menjaga rumah ini, mengangkat air untuk kalian, dan melindungi kalian dengan nyawa saya."
Adik Yusuf, Maryam, menatap Alejandro dengan haru. "Kau telah menempuh perjalanan ribuan mil hanya untuk ini, Hamza? Kau tahu tempat ini berbahaya. Pasukan penjajah bisa datang kapan saja."
Alejandro tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepasrahan. "Saya sudah biasa berada di tempat berbahaya, Maryam. Bedanya, dulu saya berada di sisi iblis. Sekarang, izinkan saya berada di sisi orang-orang yang dicintai-Nya."
Tahun-tahun berikutnya, Alejandro benar-benar menetap di desa itu. Penduduk desa mengenalnya sebagai "Al-Meksiki", si orang Meksiko yang pendiam namun sangat rajin. Ia membantu membangun kembali rumah-rumah yang hancur, ia mengajar anak-anak kecil bela diri untuk perlindungan diri, dan ia selalu menjadi orang pertama yang berdiri di barisan depan saat masjid butuh perbaikan.
Suatu hari, kabar tentang keberadaan Alejandro sampai ke telinga sisa-sisa Kartel Sinaloa yang kini telah berganti kepemimpinan. Mereka masih menyimpan dendam lama. Seorang pembunuh bayaran dikirim ke Palestina, menyamar sebagai relawan medis asing. Namun, saat pembunuh itu menemukan Alejandro di sebuah pasar di Nablus, ia tertegun.
Ia melihat Alejandro sedang menggendong seorang anak kecil Palestina yang kakinya terluka akibat ledakan. Alejandro tertawa lepas, wajahnya bersinar, tidak ada lagi jejak kegelapan Sicario di sana. Sang pembunuh bayaran, yang juga memiliki latar belakang kemiskinan yang sama dengan Alejandro dulu, menurunkan senjatanya dari balik tas medisnya. Ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat di dunia kartel: Kebahagiaan yang hakiki.
Sang pembunuh itu pergi tanpa melepaskan satu peluru pun. Ia mengirim pesan kembali ke Meksiko: "Alejandro sudah mati. Yang ada hanyalah seorang laki-laki suci yang tidak ada hubungannya dengan kita lagi."
Alejandro menghabiskan sisa hidupnya di Palestina. Ia meninggal dunia beberapa tahun kemudian, bukan karena peluru kartel atau siksaan sipir, melainkan dalam keadaan sujud saat shalat subuh di masjid desa tersebut. Di sakunya, masih tersimpan sobekan kain milik Yusuf.
Ia dimakamkan di sebuah bukit yang menghadap ke arah lembah zaitun. Di nisan kayunya yang sederhana, hanya tertulis satu kalimat: "Hamza bin Abdullah - Seorang hamba yang pulang setelah perjalanan panjang."
Kisah Alejandro dan Yusuf menjadi legenda di antara para tahanan dan orang-orang tertindas. Sebuah cerita tentang bagaimana hidayah melampaui batas-batas negara, bagaimana fitnah bisa berubah menjadi berkah, dan bagaimana seorang pembunuh bisa berubah menjadi pelindung. Di bawah langit Palestina yang biru, Alejandro akhirnya benar-benar merdeka—merdeka dari dosanya, merdeka dari dunianya, dan merdeka dalam cinta Sang Pencipta.