Gerbang baja di Teluk Guantanamo terbuka dengan derit yang memilukan, seolah-olah logam itu pun enggan melepaskan mangsa yang telah dikunyahnya selama bertahun-tahun. Alejandro melangkah keluar, bukan sebagai pria yang sama dengan yang masuk sepuluh tahun lalu. Bahunya yang dulu tegap menantang kini sedikit membungkuk karena beban penyiksaan, namun matanya—mata yang dulu sedingin es kutub—kini memiliki kedalaman telaga yang tenang.
Di tangannya, ia hanya menggenggam sebuah kantong plastik transparan berisi sisa-sisa hartanya: sebuah Al-Qur’an saku yang sampulnya sudah mengelupas, sobekan kain milik Yusuf, dan surat pembebasan murni yang ditandatangani oleh komisi yudisial internasional. Ia tidak memiliki uang, tidak memiliki nama besar, dan secara resmi, ia tidak lagi memiliki perlindungan dari siapa pun.
Langkah kaki Alejandro terhenti di aspal panas yang memisahkan zona militer dengan dunia luar. Di sana, tiga ratus meter dari gerbang, sebuah mobil SUV hitam dengan kaca gelap terparkir di bawah bayangan pohon palem yang kering. Alejandro tahu mobil itu. Ia tahu aroma kulit di dalamnya, ia tahu jenis senapan serbu yang tersimpan di bawah joknya, dan ia tahu siapa yang duduk di sana. Itu adalah utusan dari La Familia, sisa-sisa kartel lamanya yang masih menganggap Alejandro sebagai "aset" yang membawa rahasia jutaan dolar.
Seorang pria turun dari mobil itu. Namanya El Lobo, mantan bawahannya yang kini nampak jauh lebih makmur dengan jam tangan emas yang berkilau tertimpa matahari Kuba. El Lobo tersenyum, sebuah senyuman yang biasanya berarti kematian bagi orang lain.
"Selamat datang kembali ke dunia orang hidup, Hermano," ujar El Lobo, merentangkan tangan seolah ingin memeluk saudara yang hilang. "Bos besar sudah menantimu di Cancun. Dia bilang, kesalahan masa lalu diampuni asalkan kau menyerahkan kode akses rekening di Cayman. Setelah itu, kau bisa kembali jadi raja."
Alejandro menatap El Lobo. Ia tidak melihat kawan lama, ia melihat cermin dari masa lalunya yang busuk. Ia melihat bayangan dirinya sendiri yang dulu senang memeras nyawa orang lain demi kemewahan yang fana.
"Aku tidak punya kode itu lagi, Lobo," suara Alejandro tenang, parau karena bertahun-tahun jarang digunakan untuk berteriak. "Rekening itu sudah kututup lewat pengacara setahun lalu. Semua isinya sudah kukirimkan ke yayasan yatim piatu di Michoacán dan Ciudad Juárez. Sebagai kompensasi atas nyawa yang pernah kita ambil."
Senyum El Lobo hilang seketika. Wajahnya mengeras, dan tangan kanannya perlahan merayap ke balik jasnya. "Kau bercanda, ya? Kau memberikan sepuluh juta dolar untuk anak-anak miskin? Kau gila karena disiksa gringo, Alejandro! Kau tahu apa konsekuensinya mengkhianati Kartel?"
"Aku tidak mengkhianati kalian," jawab Alejandro, selangkah maju mendekati moncong senjata yang mulai terlihat. "Aku hanya berhenti menjadi budak. Aku sudah menemukan Tuan yang lebih besar dari bosmu, Lobo. Tuan yang tidak butuh emasmu, tapi butuh tobatmu."
"Jangan bicara soal Tuhan padaku!" bentak El Lobo. "Turunkan tanganmu dari kantong plastik sampah itu dan masuk ke mobil, atau aku selesaikan kau di sini!"
Alejandro tidak bergerak. Di dalam kepalanya, ia teringat bisikan Yusuf di malam terakhirnya: "Jangan takut pada mereka yang hanya bisa membunuh tubuhmu, tapi takutlah pada Dia yang memegang jiwamu." Alejandro mulai melafalkan zikir dalam hati, sebuah irama yang membuatnya merasa seolah-olah tembok-tembok Guantanamo masih melindunginya dengan cara yang berbeda.
Tiba-tiba, sebuah mobil van putih dengan logo organisasi kemanusiaan internasional meluncur cepat dan berhenti di antara Alejandro dan SUV hitam itu. Seorang wanita paruh baya dengan rompi pers keluar dengan tergesa-gesa. Ia adalah Maria, pengacara pro-bono yang selama ini memperjuangkan kebebasannya.
"Alejandro! Masuk ke sini, cepat!" teriak Maria.
Lobo ragu sejenak. Menembak seorang mantan narapidana adalah satu hal, tapi menembak pengacara internasional di depan gerbang pangkalan militer AS yang dijaga ketat adalah bunuh diri. Dengan geram, Lobo meludah ke aspal.
"Ini belum selesai, Alejandro. Tidak ada tempat sembunyi bagi pengkhianat. Kau akan mati dalam keadaan lapar dan sujud di lubang mana pun kau bersembunyi!"
Mobil SUV itu menderu pergi, meninggalkan kepulan debu yang menyesakkan. Alejandro menarik napas panjang, menghirup aroma laut yang tidak lagi bercampur dengan bau disinfektan penjara. Ia masuk ke dalam van Maria.
"Ke mana kita akan pergi?" tanya Maria sambil memacu mobilnya menuju bandara Havana. "Aku bisa membantumu mencari perlindungan saksi di Eropa atau Kanada. Kau tidak aman di Meksiko atau di sini."
Alejandro menatap ke luar jendela, melihat orang-orang Kuba yang berlalu-lalang dengan kesibukan mereka. "Bawa aku ke tempat di mana suara azan terdengar paling jelas, Maria. Aku tidak butuh perlindungan saksi. Aku butuh tempat untuk belajar bagaimana menjadi manusia yang berguna sebelum ajalku menjemput."
Tiga hari kemudian, Alejandro mendarat di sebuah kota pelabuhan kecil di Maroko, sebuah tempat yang disarankan oleh mendiang Yusuf dalam surat-surat lisannya dulu. Di sana, tidak ada yang mengenalnya sebagai Alejandro sang Sicario. Di sana, ia hanyalah seorang pria asing dengan banyak bekas luka yang rajin membersihkan lantai masjid setiap sebelum subuh tiba.
Namun, ujian tidak berhenti di sana. Kartel memiliki tangan yang panjang. Suatu malam, saat Alejandro sedang berjalan pulang menuju gubuk kecilnya di pinggiran pantai, ia merasakan kehadiran tiga orang pria yang mengikutinya. Mereka adalah pembunuh bayaran profesional, dikirim langsung oleh bos besar yang merasa dihina.
Mereka menyudutkan Alejandro di sebuah gang sempit yang gelap, hanya diterangi oleh lampu minyak dari kejauhan. "Pesan dari bos: tidak ada pengampunan bagi yang mencuri uang kami," ujar salah satu dari mereka sambil mengeluarkan pisau komando.
Alejandro tidak lari. Ia tidak pula mengambil posisi bertarung ala tentara kartel. Ia duduk bersimpuh di atas tanah, menghadap kiblat yang ia yakini arahnya.
"Jika malam ini adalah waktu yang ditetapkan-Nya untukku membayar hutang darahku di masa lalu, maka aku ridha," ujar Alejandro dengan mata terpejam. "Tapi ketahuilah, kalian tidak membunuh seorang pengkhianat. Kalian hanya mengantar seorang hamba bertemu dengan Penciptanya."
Ketiga pria itu ragu. Mereka biasa melihat korbannya kencing di celana, memohon ampun, atau melawan dengan membabi buta. Mereka belum pernah melihat seseorang yang begitu tenang menyambut maut seolah-olah itu adalah tamu yang dinanti. Ketenangan Alejandro memancarkan aura yang membuat nyali para pembunuh itu bergetar.
Tiba-tiba, suara azan menggema dari menara masjid terdekat. Suara itu begitu menggelegar di kesunyian malam, memantul di dinding-dinding gang. Penduduk sekitar mulai keluar dari rumah mereka dengan lampu senter, bersiap menuju masjid. Para pembunuh itu, yang tidak ingin membuat keributan di negara asing yang ketat hukumnya, terpaksa mundur.
"Kau beruntung malam ini, orang tua," bisik salah satu dari mereka sebelum menghilang ke dalam kegelapan.
Alejandro tetap bersujud. Air matanya jatuh menyentuh debu Maroko. Ia tahu, kematian akan terus mengintainya, namun ketakutannya telah mati di dalam sel isolasi Guantanamo bertahun-tahun lalu. Baginya, setiap hari tambahan di dunia ini adalah bonus untuk mengumpulkan bekal.
Kini, setiap pagi, Alejandro terlihat di pasar lokal, mengangkut barang-barang berat milik pedagang tua dengan upah seadanya. Sebagian besar uangnya ia berikan untuk membangun sumur di desa tersebut. Orang-orang mengenalnya sebagai "Sidi Hamza", pria pendiam yang selalu tersenyum saat melihat anak-anak kecil bermain.
Di punggungnya masih tertanam bekas cambukan, di lehernya masih ada tato mawar hitam yang mulai memudar, namun di hatinya hanya ada satu nama yang ia agungkan. Alejandro telah melewati neraka di bumi, dijepit oleh siksaan fisik dan mental, hingga akhirnya ia mengerti bahwa kemerdekaan sejati bukanlah saat jeruji besi terbuka, melainkan saat hati tak lagi terikat pada dunia.
Ia berjalan menuju masjid saat senja mulai memerah, meninggalkan bayangan masa lalunya yang terkubur bersama ombak laut. Di sana, di antara barisan orang-orang yang bersujud, Alejandro sang mantan algojo menemukan rumah yang sesungguhnya. Hidupnya kini adalah sebuah puisi tentang penebusan, sebuah bukti bahwa hidayah bisa tumbuh bahkan di tanah yang paling beracun sekalipun, selama ada satu tetes ketulusan yang menyiraminya.