Rumah megah di sudut perumahan elit itu biasanya riuh dengan suara tawa dua anak kecil dan denting sendok perak di atas piring porselen. Namun, sore itu, keheningan merayap di setiap sudut plafon tinggi yang dihiasi lampu kristal. Istri Pak Baskoro sedang membawa anak-anak mereka berlibur ke Singapura selama seminggu, meninggalkan rumah besar itu hanya dihuni oleh sang kepala rumah tangga dan Sumiati, ART mereka yang baru bekerja selama delapan bulan.
Sumiati, gadis berusia 23 tahun dengan kulit kuning langsat dan rambut hitam legam yang selalu diikat rapi, sedang sibuk di dapur. Ia sedang menghaluskan bumbu untuk makan malam, mengabaikan rasa cemas yang sejak pagi menyelimuti hatinya. Ada yang berbeda dari tatapan Pak Baskoro belakangan ini. Pria berusia 40 tahun itu bukanlah sosok majikan yang kasar; sebaliknya, ia adalah gambaran pria idaman banyak wanita. Tubuhnya kekar dan bugar karena rutin berolahraga, wajahnya tegas dengan rahang yang kokoh, dan pembawaannya tenang serta berwibawa. Namun, bagi Sumiati, kewibawaan itu mulai terasa seperti jaring laba-laba yang perlahan menutup ruang geraknya.
Terdengar langkah kaki berat yang mendekat ke dapur. Sumiati mempercepat gerakannya, mencoba terlihat sangat sibuk. Pak Baskoro muncul dengan kaus polo biru tua yang mencetak jelas lekuk otot dadanya. Ia tidak memanggil, tidak juga memesan kopi. Ia hanya berdiri di sana, bersandar pada pintu kayu jati, memperhatikan leher Sumiati yang sedikit berkeringat karena hawa panas dapur.
"Sumi," suara itu rendah, bergetar, dan mengandung otoritas yang aneh.
"Iya, Tuan? Ada yang perlu saya siapkan?" Sumiati menjawab tanpa menoleh. Tangannya gemetar saat memegang ulekan batu.
"Berhentilah sebentar. Saya ingin bicara, bukan sebagai majikan yang sedang memberi perintah," Baskoro melangkah maju. Aroma parfum oud yang mahal mulai mendominasi aroma bawang dan cabai di ruangan itu. Jarak mereka kini hanya tersisa dua meter.
Sumiati terpaksa meletakkan ulekannya. Ia menghapus tangannya pada celemek putih yang membungkus tubuh rampingnya. Ia menunduk dalam, menatap lantai marmer yang memantulkan bayangan mereka berdua. "Ada apa, Tuan? Jika ada pekerjaan yang kurang bersih, saya mohon maaf."
Baskoro tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat dekat di telinga Sumiati. "Pekerjaanmu sempurna, Sumi. Kamulah yang terlalu sempurna untuk berada di dapur ini. Apa kamu tidak lelah? Setiap hari mengurus baju-baju kami, membersihkan debu, memasak?"
"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Tuan. Saya di sini untuk bekerja."
"Tapi saya tidak tahan melihatmu terus-terusan seperti ini," tangan Baskoro bergerak, perlahan namun pasti, hendak menyentuh helai rambut yang lolos dari ikatan di telinga Sumiati. Dengan gerakan halus yang tampak seperti sedang membetulkan posisi celemek, Sumiati menghindar. Ia mundur selangkah, menciptakan jarak yang aman.
Baskoro tidak menyerah. Ia justru merasa tertantang. Baginya, penolakan halus Sumiati adalah bumbu yang membuat gairahnya semakin memuncak. Ia tahu ia tampan, ia tahu ia kaya, dan ia tahu banyak wanita di luar sana yang bersedia melakukan apa saja untuk berada di posisi Sumiati saat ini.
"Sumi, dengarkan saya. Saya bisa mengubah hidupmu dalam semalam. Kamu tidak perlu lagi bangun subuh untuk mencuci baju atau tidur larut karena harus menyetrika. Saya bisa memberimu segalanya. Apartemen di pusat kota, uang bulanan yang lebih besar dari gaji setahunmu di sini, dan semua pakaian indah yang pantas membalut tubuhmu."
Sumiati masih diam. Dadanya sesak. Bayangan wajah Ibu majikannya yang baik hati dan anak-anak yang sering ia dongengkan sebelum tidur melintas di benaknya. Ia merasa mual. Keindahan fisik Pak Baskoro yang dipuja banyak orang kini tampak seperti topeng yang mulai retak di matanya.
"Tuan, saya punya keluarga di kampung yang bangga karena anaknya bekerja dengan jujur," suara Sumiati mulai terdengar lebih berani, meski masih ada getaran di sana.
"Keluargamu akan lebih bangga jika kamu bisa membangunkan mereka rumah besar di desa, bukan? Aku akan menikahimu, Sumi. Secara siri. Kita akan punya dunia sendiri di luar rumah ini. Istriku tidak akan tahu, dan kamu akan tetap menjadi ratu di hatiku. Kamu tidak akan dianggap pembantu lagi. Aku akan memuliakanmu."
Baskoro yakin ini adalah tawaran yang tak mungkin ditolak. Pernikahan siri adalah janji perlindungan dan status, meski semu. Ia melangkah lagi, mencoba memerangkap Sumiati di antara meja dapur dan tubuhnya yang besar.
Sumiati mengangkat wajahnya. Mata cokelatnya yang jernih menatap langsung ke dalam mata Baskoro. Tidak ada ketakutan lagi di sana, hanya ada kekecewaan yang mendalam.
"Memuliakan saya, Tuan?" Sumiati mengulang kata itu dengan nada getir. "Tuan bilang ingin memuliakan saya dengan cara menjadikan saya rahasia? Tuan ingin memuliakan saya dengan cara mengajari saya berbohong pada Ibu yang selama ini menganggap saya adik sendiri?"
Baskoro tertegun. Ia tidak menyangka gadis pendiam ini akan bicara sedalam itu. "Ini demi masa depanmu, Sumiati. Jangan sok suci. Dunia ini keras, dan kecantikanmu adalah modalmu."
Sumiati tersenyum, sebuah senyuman yang membuat Baskoro merasa sangat kecil meski tubuhnya jauh lebih tinggi. "Kecantikan saya adalah anugerah Tuhan, Tuan. Bukan modal untuk menjadi pencuri. Tuan merasa bugar dan gagah karena Tuan punya segalanya. Tapi di mata saya, saat ini, Tuan terlihat sangat lemah. Tuan tidak cukup kuat untuk setia, dan Tuan tidak cukup laki-laki untuk menghargai pernikahan Tuan sendiri."
Suasana mendadak dingin. Baskoro yang tadinya penuh gairah kini merasa harga dirinya ditampar dengan keras. Ia ingin marah, tapi ada sesuatu dalam sorot mata Sumiati yang membuatnya lumpuh. Keberanian gadis itu bukan berasal dari kemarahan, tapi dari sebuah keteguhan prinsip yang tidak bisa ditembus oleh emas atau kata-kata manis.
"Saya menolak, Tuan. Bukan karena saya benci kemewahan, tapi karena saya terlalu mencintai diri saya sendiri untuk membiarkannya kotor dalam hubungan yang sembunyi-sembunyi," lanjut Sumiati.
Ia kemudian melepas celemeknya, melipatnya dengan sangat rapi, dan meletakkannya di atas meja marmer. Gerakannya tenang, seolah ia baru saja menyelesaikan tugas rutinnya.
"Sumi, kamu mau ke mana? Jangan bodoh! Kamu mau kembali ke lumpur?" bentak Baskoro, berusaha mengembalikan otoritasnya yang runtuh.
Sumiati tidak menjawab. Ia berjalan menuju kamar kecilnya di bagian belakang rumah. Di sana, sebuah tas kain besar sudah terisi penuh. Sebenarnya, Sumiati sudah menyiapkan tas itu sejak semalam, sejak ia merasakan firasat buruk dari cara Pak Baskoro menatapnya di meja makan.
Ia keluar dari kamar, melewati Baskoro yang masih berdiri terpaku di dapur. Pria itu tampak seperti patung yang kehilangan ruh. Kegagahannya sirna, digantikan oleh rasa malu yang menjalar hingga ke tulang.
"Saya mengundurkan diri hari ini, Tuan. Gaji bulan ini tidak perlu Tuan bayar. Anggap saja itu biaya untuk harga diri saya yang tidak jadi Tuan beli," kata Sumiati sambil melangkah menuju pintu samping.
Sebelum benar-benar pergi, Sumiati mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik pesan singkat untuk istri Pak Baskoro. “Ibu, mohon maaf saya harus pulang mendadak karena ada urusan keluarga yang sangat mendesak dan tidak bisa ditinggalkan. Terima kasih atas segala kebaikan Ibu selama ini. Saya sudah merapikan rumah dan menyiapkan bahan makanan di kulkas.”
Sumiati tidak ingin menghancurkan rumah tangga itu dengan kejujuran yang pahit, namun ia juga tidak akan membiarkan dirinya menjadi bagian dari kehancuran itu. Ia melangkah keluar dari gerbang tinggi rumah tersebut. Sinar matahari sore menerpa wajahnya, memberikan kehangatan yang jujur.
Di dalam rumah, Baskoro hanya bisa melihat bayangan Sumiati yang perlahan menghilang dari pantulan kaca jendela. Ia yang memiliki segalanya, kini merasa benar-benar miskin. Sementara Sumiati, yang berjalan menuju terminal bus dengan sisa uang di dompet yang tak seberapa, melangkah dengan kepala tegak. Ia tidak kehilangan pekerjaannya; ia baru saja menyelamatkan jiwanya.