— jika seisi dunia beranggapan aku anak kuat, lalu siapa yang akan memeluk jiwa kecilku ini?
-------------
Warning!!
Latar tempat dan waktu tidak ada kaitannya dengan kenyataan!!
------
Jakarta, 27 Januari 2023
--------
"Abang ayo ikut Rean sama bunda ke photobooth!" Seru seorang anak kecil dengan senyum ramah nya —Keanu Rionne Pradipta
"Kean ngapain kamu ngajak dia? Biarin dia di rumah gak sudi bunda ngajak dia"ucap seorang wanita yang tengah berdiri menunggu keanu di depan pintu —Rieka Rukaenna
"i-iya bunda bener, Abang di rumah aja beres beres rumah... Kean main yang puas nanti ya?" Ucap seorang pemuda dengan plester luka di pipi kanannya — Mikael Navaro Pradipta.
Pintu tertutup dengan dentum pelan, namun bagi Mikael, suara itu terdengar seperti palu hakim yang mengetuk vonis kesepian panjang.
Deru mobil menjauh, membawa pergi tawa Kean dan aroma parfum Bunda yang tak pernah lagi singgah di pundaknya untuk sekadar pelukan singkat.
Mikael berdiri mematung di tengah ruang tamu yang luas, namun terasa begitu sempit menghimpit dadanya. Ia menyentuh plester di pipinya—sebuah tanda "sayang" berupa tamparan keras dari Bunda tadi pagi karena ia tak sengaja menjatuhkan bingkai foto keluarga yang hanya berisi Bunda dan Kean.
"Aku kuat," bisiknya pada bayangannya di kaca lemari yang kusam.
Namun, cermin tidak bisa berbohong. Di sana, ia melihat seorang anak laki-laki yang jiwanya telah meranggas seperti daun di musim luruh, kering dan hancur bahkan sebelum menyentuh tanah.
Mikael mulai memungut sapu. Tangannya bergetar. Ia berbicara pada angin, seolah-olah ada sosok yang mendengarkannya
"Bunda... hari ini aku juara kelas lagi. Tapi sepertinya nilai seratusku masih kalah terang dibanding senyum Kean di mata Bunda, ya?"Ia tertawa getir, sebuah tawa yang lebih mirip dengan rintihan.
"Dunia bilang aku anak hebat karena tak pernah menangis. Mereka tak tahu, air mataku sudah mengalir ke dalam, menenggelamkan setiap inci harapanku sampai aku sesak napas di daratan yang kering ini."
Ia berlutut di sudut dapur, memeluk lututnya sendiri. Di sinilah ia—sang ksatria yang dianggap tangguh oleh guru-gurunya, sang kakak yang dianggap mandiri oleh tetangganya—hanyalah seonggok lara yang merindukan hangatnya sebuah dekapan.
"Jika seisi dunia beranggapan aku anak kuat, lalu siapa yang akan memeluk jiwa kecilku ini? Apakah aku harus hancur berkeping-keping dulu agar kalian sadar bahwa aku juga terbuat dari daging dan perasaan, bukan dari batu karang yang tahan dihantam badai?"
Malam itu, hanya suara detak jam dinding yang menemaninya. Detak itu terdengar seperti detak jantung yang lelah, menghitung mundur sisa-sisa kewarasan yang ia miliki di rumah yang tak lagi terasa seperti rumah.
-------
Mikael bangkit dari sudut dapur dengan sisa tenaga yang ia miliki.Ia membereskan seluruh rumah hingga setiap sudutnya berkilau seperti kristal, seolah ingin meninggalkan jejak terakhir yang sempurna. Ia menyiapkan meja makan, menata piring-piring kosong untuk Bunda dan Kean, meskipun ia tahu ia tak akan pernah duduk di sana.
"Tugas kael sudah selesai, Bunda..." bisiknya. Suaranya kini bukan lagi rintihan, melainkan sebuah nyanyian sunyi yang pasrah.
Ia berjalan menuju kamarnya yang gelap, sebuah ruangan yang tak lebih dari kotak penyimpanan luka. Di atas meja belajar, sebuah surat tergeletak dengan tulisan tangan yang rapi—surat yang tintanya sedikit luntur terkena tetesan air mata yang jatuh tanpa sempat ia seka.
Ketika Sang Karang Berhenti Melawan Ombak
Malam semakin larut ketika pintu depan terbuka. Tawa Kean menyeruak masuk, memecah keheningan yang sejak tadi bertahta. Bunda melangkah masuk dengan tangan penuh tenteng belanjaan dan lembaran foto photobooth yang menampakkan kebahagiaan sempurna tanpa celah.
"Mikael! Sini kamu, jangan malas-malasan di kamar! Beresin barang-barang adikmu!" teriak Bunda, suaranya setajam belati yang siap menghujam.
Namun, tidak ada sahutan. Hanya ada detak jam yang tadi ia dengar, yang kini terasa berhenti berdetak.
Bunda melangkah dengan geram menuju kamar Mikael. Ia membanting pintu kayu itu hingga terbuka lebar.
"Mikael, kamu budeg—"
Kalimat itu terputus di tenggorokan.
Di sana, di bawah remang lampu pijar yang berkedip, Mikael terbaring tenang di atas tempat tidurnya. Ia mengenakan seragam sekolah yang paling bersih, tangan bersedekap di dada seolah sedang mendekap dirinya sendiri.
Wajahnya begitu pucat, namun anehnya, seulas senyum getir terpatri di bibirnya—senyum seorang pemenang yang akhirnya berhasil melarikan diri dari medan perang yang tak kunjung usai.
Di sampingnya, terdapat botol obat yang sudah kosong dan selembar foto lama yang sudah kusam foto di mana Bunda pernah mencium keningnya sepuluh tahun yang lalu.
Bunda melangkah mundur, kakinya lemas bagai untaian benang yang putus. Ia memungut kertas di atas meja dengan tangan yang gemetar hebat.
------------
"Bunda, maaf jika kehadiranku hanya menjadi noda di hidupmu. Hari ini aku sudah membereskan rumah dengan sangat bersih, agar Bunda tidak perlu lelah lagi. Aku juga sudah memberikan seluruh kasih sayangku untuk Kean agar dia tidak pernah merasa kedinginan sepertiku.
Dunia bilang aku anak kuat, Bunda. Tapi ternyata, jiwa kecilku ini sudah terlalu lelah mencari pelukan yang tak kunjung datang. Sekarang, biarkan tidurku menjadi pelukanku sendiri. Jangan menangis, Bunda... bukankah ini yang Bunda mau? Rumah ini sekarang benar-benar hanya milik kalian."
--------------
Raungan pecah dari mulut wanita itu. Ia menerjang tubuh dingin Mikael, mendekapnya dengan sangat erat—pelukan yang selama ini Mikael pinta dengan seluruh napasnya, namun kini hanya menyentuh raga yang telah membatu.
"Mikael... bangun, Nak... Bunda salah... Mikael!"
Namun, Mikael sudah jauh. Ia telah menjadi bintang yang memilih redup daripada terus dipaksa bersinar di tengah badai yang membekukan. Ia tidak lagi butuh pelukan dunia, karena ia telah menemukan kedamaiannya sendiri dalam keabadian yang sunyi.
-----------
Dunia seolah berhenti berputar saat jeritan Rieka membelah kesunyian malam. Itu bukan sekadar tangisan, melainkan lolongan serigala yang kehilangan jantungnya. Namun, bagi Mikael, suara itu sudah tak berarti apa-apa. Ia telah melangkah jauh ke sebuah tempat di mana luka tak lagi perih dan bentakan tak lagi menggigilkan nyali.
Keanu, si kecil yang tadi tertawa riang, mematung di ambang pintu. Tangannya yang mungil masih memegang lembar foto photobooth yang baru saja mereka cetak—foto bertuliskan "Happy Family" yang hanya menampilkan wajahnya dan Bunda.
"Abang... bangun," bisik Kean. Suaranya kecil, gemetar seperti daun kering yang tertiup badai. "Abang katanya mau lihat foto Kean? Abang... jangan tidur di situ, lantainya sudah bersih, Abang nanti kedinginan..."
Kean melangkah mendekat, namun langkahnya terhenti saat melihat tangan Mikael yang terkulai kaku. Di sela jemari pucat itu, terselip sebuah krayon patah milik Kean yang dulu pernah Mikael simpan diam-diam sebagai satu-satunya jembatan kasih sayang yang tersisa.
"BUNDA! BANGUNIN ABANG, BUNDA!" Kean histeris, ia memukul-mukul lantai, mencoba membangunkan raga yang sudah menjadi patung es abadi. "Abang nggak pernah bohong! Abang bilang dia kuat! ABANG BOHONG!"
Ruang yang Menjelma Menjadi Neraka
Rieka mendekap tubuh dingin Mikael, mencoba menyalurkan hangat tubuhnya yang kini terasa sia-sia. Ia menciumi pipi Mikael yang terdapat plester luka—plester yang ia pakaikan dengan kasar tadi pagi sambil memakinya.
"Mikael... bangun, Nak. Bunda mohon... ini pelukan yang kamu minta, kan? Bunda peluk sekarang, Nak! Lihat Bunda!" teriak Rieka, suaranya parau hingga merobek pita suaranya sendiri.
Namun, mata Mikael tetap terpejam rapat.
Kelopak matanya yang sembab menceritakan jutaan tangis yang ia sembunyikan di balik senyum "aku kuat" miliknya. Rieka menyadari sesuatu yang lebih menghancurkan: Mikael meninggal dalam posisi meringkuk, seolah sedang mencoba melindungi dirinya sendiri dari dunia yang tak pernah memberinya perlindungan
-----
—"Kau memberinya dunia yang fana, tapi kau merampas surga dari hatinya. Kini, kau memeluk tubuhnya, tapi jiwanya telah terbang jauh, menertawakan penyesalanmu dari balik awan yang kelabu."
Kean berlari ke arah meja belajar Mikael, mencari sesuatu yang bisa membuktikan bahwa ini semua hanya mimpi buruk. Namun, yang ia temukan justru lebih traumatis. Di bawah tumpukan buku sekolah, terdapat sebuah buku harian kecil dengan sampul yang sudah robek.
Halaman terakhirnya hanya berisi satu kalimat yang ditulis berulang-ulang hingga menembus kertas:
-------
—"Tuhan, jika aku tidak diinginkan di bumi, bolehkah aku pulang ke pelukan-Mu saja? Aku lelah berpura-pura menjadi karang, padahal aku hanya sebutir pasir yang mudah terhempas."
-------
Di bawah tulisan itu, ada gambar tiga orang yang bergandengan tangan, namun sosok Mikael di sana digambar menggunakan garis putus-putus yang hampir transparan, seolah ia memang sudah bersiap untuk menghilang sejak lama.
Malam itu, rumah mewah itu berubah menjadi monumen duka. Bau parfum Bunda yang tadinya sangat dibenci Mikael kini bercampur dengan bau obat-obatan yang tajam.
Kean tidak pernah lagi menjadi anak yang ceria. Setiap kali ia melihat kamera, ia akan memalingkan diri tak mau, teringat bahwa saat ia berpose bahagia di depan lensa, kakaknya sedang menjemput maut dalam kesendirian yang pekat.
Sedangkan Rieka —Ia akan menghabiskan sisa hidupnya di kamar itu, memeluk bantal Mikael yang masih menyisakan aroma air mata, menyadari bahwa ia telah membunuh pahlawan yang paling mencintainya dengan belati bernama pengabaian.
Mikael telah pergi. Ia tidak lagi butuh pelukan siapa pun. Sebab kini, ia telah memeluk keheningan yang paling jujur, meninggalkan dunia yang hanya mencintainya saat ia sudah tak lagi bernapas.
TBC
--------
(Yowww iniii cumaa sinopsiss nanti di perbaiki lagiii mwehehee)
Original ide by : Nattadecoco!
Dont copy my write!
---------